Banner Bawah

Aguron Guron Calon Sulinggih Buddha, Upanayana Samskara Jero Mangku Nyoman Sudana di Geria Taman Saraswati Asrama Bebandem

Artaya - atnews

2021-02-12
Bagikan :
Dokumentasi dari - Aguron Guron Calon Sulinggih Buddha, Upanayana Samskara Jero Mangku Nyoman Sudana di Geria Taman Saraswati Asrama Bebandem
Slider 1

Oleh  I Wayan Astika
 Bertepatan dengan Tilem sasih kawulu , tanggal 11 Pebruari 2021, bertempt di Geria Pasraman Taman Saraswati Asrama, Br Pande Tunggak Bebandem, Karangasem, telah dilangsungkan upacara Upanayana Samskara kepada Jero Mangku Nyoman Sudana dari warga pasek Gaduh, Banjar Laplap Tengah, Desa Adat Laplap, Penatih Denpasar oleh Mpu Sri Dharmapala Vajarapani.
Hadir dalam upacara Upanayana Samskara tersebut antara lain Keliang Dadia Pasek Gaduh Br. Adat Laplap Tengah, Keliang Banjar Adat Laplap Tengah, Jero Bendesa Desa adat Laplap, Ketua Panitia Diksa Dwijati Jero Mangku Nyoman Sudana dan keluarga besar ikut hadir menyaksikan upacara dimaksud.
Upacara Upanayana Samskara dilaksanakan sebagai bentuk visualisasi mohon ijin sekaligus mohon berkenan untuk menjadi calon Nabe waktra atas upacara diksa dwijati yang akan dilaksanakan oleh Jero Mangku Nyoman Sudana.
Mpu Sri Dharmapala Vajrapani menjelaskan bahwa Upanayana berasal dari kata upa dan nayanam. Upa artinya "duduk dekat". Nayanam artinya penglihatan pada hal-hal yang niskala atau penglihatan dalam (inner vision), bukan penglihatan luar. Sering untuk mudahnya orang mengartikan nayanam ini sebagai "mata ketiga". Upa yang artinya duduk dekat itu maksudnya adalah duduk dekat para Guru. Upa selalu dilekatkan pada pengajaran seorang Guru atau pada ritual upacara (agama). 
Jadi upanayana ini arti mudahnya adalah "duduk dekat kaki seorang Guru agar memiliki mata ketiga".
Jaman dulu (hingga sekarang) untuk duduk dekat Guru Sejati ini tidak mudah. Tidak banyak murid yang boleh dan bisa duduk dekat Guru Sejatinya. Hanya murid-murid yang sudah mencapai tahap tertentu, yang telah melewati ujian-ujian tertentu yang bisa mendapat keistimewaan ini. 
Jaman dahulu bahkan untuk menyatakan bahwa bila Guru Sejati sangat menyayangi seorang murid maka murid itu didudukkan di pangkuanNya. 
Karena itulah kemudian lahir istilah upanayana ini. Karena jika sudah sedekat itu, bahkan tanpa usaha apapun, cukup dengan berdekatan dengan Sang Guru saja, sang murid sudah pasti akan mendapatkan manfaat yang luar biasa secara spiritual.
Jero Bendesa Desa Adat Laplap I Wayan Agus Purnawirawan, menyampaikan apresiasi dan rasa terimakasih yang amat mendalam kehadapan Mpu Sri Dharmapala Vajrapani yang bertindak akan menjadi calon nabe waktra atas proses upacara Upanayana Samskara sebagai pengesahan status sisya dalam sila kramaning aguron guron kepada calon diksa dengan harapan nantinya akan terlahir sebagai seorang sulinggih di desa adatnya dengan paksa Buddha. Demikian juga halnya rasa angayubagia juga disampaikan oleh Ketua panitia diksa dwijati, keliang Dadia Pasek Gaduh , Keliang Banjar termasuk Jero Pasek selaku orang tua calon diksa atas proses upacara Upanayana Samskara ini.
Lebih jauh calon nabe waktra Mpu Sri Dharmapala wajra pani menyampaikan bahwa konsep Siwa Budha di Bali sebagai sebuah keyakinan bersama didasari oleh konsep wasudewa kutumbakam
Maka berangkat dari rasa persaudaraan ini menjadi dasar untuk melahirkan pemahaman yang sama sehingga terjadi proses aguron guron melalui upacara Upanayana Samskara.
Upanayana yang sesungguhnya hanya benar-benar bisa diterapkan dalam kelompok-kelompok kecil saja. 
Dimana guru dapat memilih murid dan murid dapat memilih guru. Bila telah sama-sama menentukan pilihan, pada saat inilah ikatan seperti benang antara guru dan murid benar-benar terbentuk dan tidak bisa diputuskan lagi. Beruntunglah mereka yang bertemu dengan gurunya. Beruntunglah dia yang dapat bertemu dengan Sang Guru. 
Bertemu dengan Guru Sejati dan disayangiNya sedemikian rupa. Karena hanya berkah yang akan diterimanya sepanjang hidupnya.
Dengan dilaksanakannya Upanayana Samskara dalam proses awal menjalani tingkatan Brahmacari Asrama, maka sisia sudah dipersiapkan secara utuh dan menyeluruh untuk belajar dan menguasai ilmu pengetahuan sebagai dasar dan bekal untuk mengarungi tingkatan berikutnya. 
Pelaksanaan Upanayana Samskara mampu membentuk mental psikologis dan spiritual sisya melalui kegiatan pengenalan dan pemantapan secara rohani, sehingga betul-betul siap secara lahir dan bathin. 
Hal yang paling mendasar dari pelaksanaan Upanayana Samskara adalah membangun kesadaran sisya untuk selalu sujud bhakti ke hadapan Sang Hyang Aji Saraswati sebagai sumber dari ilmu pengetahuan. 

Baca Artikel Menarik Lainnya : Gunung Ibu Meletus, Status Tetap Waspada

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng