Denpasar, (Atnews) - Ketua Forum Penyadaran Dharma (FPD) Indonesia Provinsi Bali, I Gde Sudibya mengemukakan, ada sesuatu yang hilang dari kekhasan daya tarik perempuan Bali di masa lampau. Ia menyebutkan, kecantikan perempuan Bali yang karismatik tempo dulu, yakni kecantikan yang otentik "Memanik", sudah tidak tampak lagi alias sirna dari muka bumi.
Dari hasil analisa penekun sastra ini melihat kemungkinan karena wanita Bali tidak lagi melakoni kehidupan yang dekat dengan alam seperti: numbuk padi, nyuun air, membuat canang dan setiap pagi berkeliling di seputar rumah dan tempat suci (mrajan) untuk ngejot (mesaiban) serta banyak kegiatan lainnya yang melakukan gerak tubuh dan sekaligus produktif.
Ia tidak menampik, kecantikan wanita Bali tempo dulu, lebih memberi daya pesona. Ilmuwan multi talenta asal Den Bukit ini menandaskan, kecantikan wanita Bali yang dinilai sulit untuk didapatkan pada masa miilenial ini, kecantikan wanita Bali yang lebih banyak datang dari dalam diri, "inner beauty, dalam bahasa sekarang; kecantikan yang otentik, nyaris abadi, manut; Desa, Kala, Patra", ucapnya dengan mantap.
Lalu upaya apa yang mesti sekarang dilakukan sesuai perkembangan jaman? Ia melihat, ada persoalan yang cukup mendasar, yakni perlunya segera dipikirkan, sistem pendidikan Hindu yang relevan dengan kekinian.
"Sistem pendidikan kita, terutama peran para guru bidang studi: pendidikan budi pekerti, budaya Bali dan agama Hindu.
Mungkin untuk pendidikan agama Hindu penekanan diberikan ke penegakan etika/ sesana, dan upaya untuk mendorong anak didik melakukan karma baik, dengan sastra sederhana, terutama keteladanan dari: guru, orang tua dan tokoh yang dijadikan panutan, yang ada di Majelis Desa Adat (MDA) dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI)", ucapnya, seraya menambahkan, "tentu dengan catatan: pendidikan yg.dilakukan tidak untuk membuat anak didik kembali ke masa lalu, atau bernostalgia dengan masa lalu, tetapi membuat mereka semakin cerdas merespons perubahan yang dibawakan: industrialisme dan modernisme, tetapi tidak tercabut dari akar budaya Bali, tegasnya.
Ia pun beranalogi seputar perjalanannya ke suatu negara beberapa tahun lalu dan mengaitkannya dengan konteks yang masih aktual. "Sekadar berbagi: Vietnam jumlah angka positif Covid-19 dan jumlah korbannya tergolong rendah, negara yang tergolong cepat melakukan lock down ketat, mirip Taiwan. Perjalanan berkunjung ke Hanoi tahun 2002, kesan kuat yang tertangkap: kehidupan masyarakatnya sederhana dan tegaknya disiplin.
Yang perlu juga diberikan catatan ringan: banyak penjual souvenirnya wanita berkulit kuning langsat dan cantik-cantik. Kecantikan yang dapat mengingatkan kita pada kecantikan wanita Bali tempo dulu, (dalam berbagai foto publikasi tentang.Bali). Kecantikan otentik ini yang tampaknya sekarang sirna", ujarnya penuh harap suatu saat akan kembali !!!.
Kiranya pernyataan Ketua Forum Kajian Hindu ini, patut dijadikan catatan pihak berwenang khususnya di daerah tercinta pulau Dewata Bali saat ini, untuk mewujudkan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru dengan prinsip Tri Sakti Bung Karno, Berdaulat secara Politik, Berdikari secara Ekonomi, dan Berkepribadian dalam Kebudayaan.
Ditekankan pula, dalam program pasraman kilat yang diadakan setiap Desa Adat, oleh MDA kerja sama dengan PHDI, kurikulum tentang etika, karma baik, budi pekerti, budaya untuk merespons perubahan, menjadi penting, dan sudah tentu keteladanan dari para guru, prajuru adat dan tokoh-tokoh lain ring suang-suang Desa Adat, singgungnya.
Perlu diberikan penekanan pasraman kilat ini penting, di samping sistem persekolahan yang ada. Tidak dikelola sambil lalu, sebatas proyek untuk memberikan sedikit tambahan penghasilan kepada mereka yang terlibat. Perlu pembuatan kurikulum yang lebih komprehensif, dengan program berkelanjutan. Di samping pengembangan pasraman yang dikelola oleh mereka yang punya dedikasi, penuh waktu, dengan visi ke depan, pungkasnya. (IBM/001).