Oleh : Gede Pasek Suardika
Entah kenapa ingin membuat renungan ini. Jalan hidup sejak lahir ditentukan oleh Tuhan berdasarkan bekal Karma Wasana kita sebelumnya. Dimana pun lahir dalam kondisi apapun lahir maka itulah titik 0 kilometer kehidupan kita untuk selanjutnya melangkah di dunia ini.
Semua pasti ada alasan kenapa terlahir sebagai orang Bali, Batak, Papua, Eropa, Afrika dan lainnya. Kenapa ada yang terlahir di tempat yang bagus dan ada yang terlahir di tempat yang kurang baik. Itu adalah start awal, bukan garis finish.
Banyak kehidupan terbalik bila dilihat sa titik 0 sebelumnya. Banyak juga yang berkembang dan banyak juga statis. Itu tergantung kemana pikiran, perkataan dan perbuatan kita dilangkahkan.
Dari titik 0 itu berjalan seiring usia maka kaki, pikiran kata dan laku kita terus melangkah dan tentu berjuang untuk bisa mendapatkan jalan kehidupan yang lebih baik.
Tidak ada takdir disini, yang ada adalah Karma. Pikir kata dan tindak kitalah yang menjadi modal apakah kehidupan kita menjadi lebih baik atau tidak.
Ketika kita hidup kita yang menentukan langkah bukan orang lain. Tetapi walau kita menentukan langkah, Tuhan juga yang menentukan hasilnya. Karena itulah dalam menjalankan kewajiban sebagai manusia, kita disuruh bekerja sebiak-baiknya kewajiban tanpa berharap hasil. Sebab hasil itu urusan Tuhan.
Kalkulator Tuhan bekerja otomatis apakah antara kerja, sikap, hati dan pikiran kita selaras itu tidak. Apakah ujian atau hasil yang akan lebih dulu didapat dan lainnya.
Itulah jalan hidup. Jalan hidup akan memasuki garis finish etape pertama yang bernama Jalan Kematian. Di garis finish jalan kematian bukanlah manusia yang menentukan. Sepenuhnya juga kuasa Tuhan. Kadang Tuhan dengan cepat memanggil orang-orang baik sehingga banyak yang merasa sedih dan kehilangan. Banyak doa berkumandang.
Kadang sebaliknya, mereka yang dibenci malah diberikan usia panjang dan membuat disharmoni masyarakat. Tetapi kadang juga Tuhan menyelamatkan manusia dari berbagai upaya jalan kematian yang tidak semestinya. Jalan kematian penuh misteri.
Jadi urusan jalan kematian itu urusan Tuhan, tetapi melangkah di jalan kehidupan itu urusan manusia. Bekal kematian ada dua, Karma dari yang kita lakukan sewaktu masih hidup, dan doa dari mereka yang kita tinggalkan.
Kekuatan Karma dan Doa itu sama kuatnya. Jika kita berbuat baik maka akan banyak yang mendoakan yang terbaik. Begitu juga sebaliknya. Doa adalah kekuatan yang luar biasa.
Jika sudah tiba di jalan kematian, maka sejatinya kita memulai jalan kehidupan baru dalam dimensi lain di etape selanjutnya. Modal kita adalah bekal Karma dan Doa ketika hidup.
Kita bisa sampai di garis finish kehidupan dengan perbedaan waktu satu sama lain menuju jalan kematian.
Jika saatnya berpulang, maka semua yang ada di dunia akan ditinggalkan. Mari pasrah dan ikhlas kapan kita akan berpulang menuju garis finish kematian. Yang penting usahakanlah berbahagia di dunia, usahakanlah membahagiakan sebanyak orang di dunia agar kelak kita juga bahagia ketik saatnya berpulang.
Mari saling membahagiakan dan saling mendoakan. Jika kelak Saya yang berpulang lebih dulu, maka Doa adalah bekal terbaik yang dibawa di jalan kematian menuju etape kehidupan dimensi berikutnya.
*) Pendiri dan Pembina Astika Dharma Ashram Gede Pasek Suardika