Banner Bawah

Sisi Gelap Demokrasi AS

Artaya - atnews

2021-01-08
Bagikan :
Dokumentasi dari - Sisi Gelap Demokrasi AS
Slider 1

Oleh : I Gde Sudibya 
Amerika Serikat (AS) dikenal sebagai negara kampiun demokrasi, jawara dalam penegakan nilai-nilai demokrasi, menjadi rujukan banyak negara dalam penyelenggaraan kehidupan demokrasi. 
Sebagai negara super power, dan bahkan tidak sedikit pengamat menyebutnya sebagai " polisi " dunia, secara terang-terangan dalam menjalankan politik luar negerinya, menggunakan tolok ukur demokrasi AS dalam: pemberian bantuan LN, melakukan intervensi politik, membangun kedekatan dan " kejauhan " dalam relasi luar negerinya.
Tetapi penyerbuan ribuan pendukung Presiden Trump ke Gedung Capitol, Gedung Kongres, Washington DC, Rabu ( 6/1/2021 ), saat Kongres hendak menyertifikasi kemenangan Presiden terpilih Joe Biden, " menduduki Gedung Kongres selama 4 jam, dengan empat orang tewas dan 52 orang ditangkap, merupakan mimpi buruk dalam perjalanan sejarah demokrasi negeri Adi Kuasa itu.
Penyerbuan dengan tindakan kekerasan sebagai upaya penggagalan pengesahan hasil pemilu yang akan dilakukan Kongres AS, dikecam banyak negara, sebagai tindakan anti demokrasi yang sangat bertentangan dengan nilai - nilai demokrasi.
Kalau dilakukan kilas balik terhadap prilaku politik Trump, semenjak 5 tahun, satu tahun di menjelang Pilpres, 4 tahun sebagai Presiden, upaya penguasaan Gedung Kongres di atas, merupakan puncak dari realitas politik AS yang menyimpang dari kodrat aslinya: menghargai tinggi perbedaan, setia pada multikulturalisme, penghormatan terhadap HAM, sangat respek terhadap fair competition.
Realitas politik di bawah ini bisa sedikit memberikan penjelasan:
a. Jauh-jauh  hari sebelum Pilpres, Trump pada berbagai kesempatan secara terbuka mengatakan: akan menolak hasil Pemilu kalau Dia kalah, dengan alasan dicurangi. Agitasi politik yang tidak dikenal dalam tradisi demokrasi AS yang menjunjung tinggi fair competition. 
b.Trump secara sengaja dalam kampanyenya, menggunakan isu SARA dalam bahasa fulgar dan bahkan banal, untuk mendapat dukungan publik dan perolehan suara dari masyarakat menengah dan bawah, yang paling menderita akibat krisis keuangan tahun 2008, yang tekanan ekonominya terus berkepanjangan.
c. Statementnya sebagai Presiden pada saat berlangsungnya kerusuhan yang bernuansa SARA yang lebih populer sebagai " Black Matters ", dinilai sebagai pemicu dari dari kerusuhan dan kekerasan yang berkepanjangan di banyak kota. Dalam sejarah kepemimpinan AS, tindakan ini oleh banyak pengamat dinilai sebagai anomali, kekacauan besar dalam kepemimpinan AS.

d. Kegagalan AS menangani pandemi: kasus tertular tertinggi dengan angka kematian tertinggi, padahal sistem pelayanan kesehatannya terbaik di dunia, memberikan penggambaran dari kepemimpinan yang maunya sendiri, kecendrungan otoritarianisme, sangat berlawanan dengan tradisi kepemimpinan demokratik yang telah berlangsung sangat lama di negeri Pan Sam itu.
e. Modal politik yang dipergunakan Trump, kalau disederhanakan: semboyan: Make American Great Again   ( dengan keseluruhan implikasi global yang menyertainya ), rasa keterpinggiran ekonomi masyarakat menengah- bawah yang berlangsung sejak krisis keuangan tahun 2008, dan isu SARA yang terus digemakan. Akibatnya:   melahirkan sosial disorder, dan rasa ketakutan luar biasa pada sebagian masyarakat.
Sisi gelap demokrasi di AS, dikawatirkan memberi inspirasi dan kemudian dicontoh oleh elite politik di banyak negara yang proses demokrasinya jauh lebih belakangan dari AS. Dan atau  di bawah sadar secara pelan-pelan mengikuti pola politik di Tiongkok, kecendrungan kuat otoritarian,  sehingga proses demokrasi akan kembali set back, mengalami kemunduran. Proses demokrasi formal berlangsung, substansinya  tidak, lembaga negara " terbajak " oleh kolusi oligarki partai plus para konglomerat. Sisi gelap demokrasi di AS sangat pantas untuk dijadikan perenungan dan kemudian pembelajaran.
*) I Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi politik.

Baca Artikel Menarik Lainnya : Pelaku Sejarah Pertempuran Laut Arafuru ABK RI Matjan Kumbang Peltu Pur I Dewa Made Pegeg Tutup Usia

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng