Parodi Lagu Indonesia Raya, Penghinaan Terhadap Lagu Kebangsaan
Banner Bawah

Parodi Lagu Indonesia Raya, Penghinaan Terhadap Lagu Kebangsaan

Artaya - atnews

2021-01-06
Bagikan :
Dokumentasi dari - Parodi Lagu Indonesia Raya, Penghinaan Terhadap Lagu Kebangsaan
Slider 1
Oleh : I Made Adiwidya Yowana
Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan negara Republik Indonesia. lagu yang diciptakan di tengah perjuangan pemuda Indonesia untuk mencapai kemerdekaan. Indonesia Raya dikumandangkan pertama kali pada 28 Oktober 1928, bertepatan dengan Konggres Pemuda II di Batavia. Hal itu menunjukkan, Lagu Indonesia Raya merupakan simbol persatuan dan kesatuan bangsa.
Beberapa hari belakangan ini masyarakat dikejutkan dengan beredarnya parodi lagu Indonesia Raya di media sosial. Dalam parodi tersebut, lirik lagu diubah hingga gambar Pancasila diganti karikatur ayam. 
Tidak hanya itu, kalimat “Bhineka Tunggal Ika” juga dituliskan secara terbalik. Kepolisian RI merespon dengan cepat. 
Alhasil, dua terduga pelaku yang merupakan WNI berhasil ditangkap. Ternyata pelaku masih tergolong anak di bawah umur. Apapun motifnya, hal ini mengisyaratkan bahwa pendidikan karakter anak bangsa perlu dievaluasi.
Pendidikan yang bernuansa nasionalisme dan patriotisme mendapat tantangan baru di era milenial. Kemajuan teknologi dan kemudahan akses informasi memudahkan anak bangsa untuk berkreativitas. Oleh sebab itu, peran orang tua dan lembaga pendidikan menjadi sentral untuk membatasi mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Sebagai bangsa yang dilahirkan dari tetesan darah dan perjuangan panjang, penghinaan terhdapa lagu kebangsaan tentu mencederai perasaan masyarakat Indonesia. Parodi semacam itu juga dapat dijadikan alat provokasi oleh oknum tertentu, untuk membuat kegaduhan dan memecah persatuan bangsa.
Membangun karakter bangsa dapat menjadi sebuah solusi. 
Selama ini, Pendidikan Pancasila dan Pendidikan kewrganegaraan menjadi perwujudan dalam upaya membangun karakter bangsa. Bahkan, mata pelajaran/kuliah tersebut diwajibkan hingga perguruan tinggi. Namun, sekali lagi saat ini kita berada pada era milenial. Setiap era memiliki tantangan tersendiri. 
Maka dari itu, seorang pendidik harus mampu berinovasi, serta bersungguh-sungguh memberikan edukasi mengenai nilai-nilai luhur dan pusaka bangsa. Sehingga penghinaan terhadap simbol-simbol negara tidak terulang lagi di kemudian hari.
*) I Made Adiwidya Yowana, Dosen STISPOL Wira Bhakti Denpasar/Wakil Ketua Pemuda Panca Marga Bali

Baca Artikel Menarik Lainnya : KPU Bali Ajak Masyarakat Tak Golput

Terpopuler

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Penguatan Desa Budaya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Unwar Gelar PKM di Desa Sukawati 

Penguatan Desa Budaya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Unwar Gelar PKM di Desa Sukawati 

Pimpinan DPRD Badung Ucapkan Galungan dan Kuningan

Pimpinan DPRD Badung Ucapkan Galungan dan Kuningan

Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Berkeadilan

Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Berkeadilan

Senantara: Kita Butuh Investor yang Jaga Bali, Bukan Cuma Cari Untung

Senantara: Kita Butuh Investor yang Jaga Bali, Bukan Cuma Cari Untung

Kemnaker Gandeng Boga Group Perluas Akses Kerja bagi Lansia

Kemnaker Gandeng Boga Group Perluas Akses Kerja bagi Lansia