Denpasar, (Atnews) - Masyarakat Bali (Hindu) Pulau Dewata setiap pergantian tahun baru masehi senantiasa merayakan penuh eforia. Momentum pergantian tahun yang kebetulan bersamaan dengan perayaan Natal bagi Umat Kristiani, nampak berlebihan. Dikatakan demikian karena bukan hanya yang di kota-kota, namun sampai di desa-desa, hampir tiap rumah menyalakan mercon dan kembang api, dari anak-anak hingga dewasa berhura-hura membakar duit menyalakan petasan dan kembang api yang harganya sampai puluhan ribu rupiah per bijinya.
Ikut merayakan Natal dan Tahun Baru dengan petasan, kembang api dan sejenisnya, merupakan sikap belog ajum krama Bali demikian I Gde Sudibya, pengasuh Dharma Sala "Bali Werdhi Budaya ", Rsi Markandya Ashram, Banjar Pasek, Desa Tajun, Den Bukit, Bali Utara kepada Atnews , Senin (7/12) di Denpasar.
Ditegaskannya, milu-milu tuwung perayaan ini bagi krama Bali yang beragama Hindu, sudah tentu tidak ada landasan sastranya, dari sisi agama Hindu dan juga kebudayaan Bali.
Menurutnya, Ini dampak dari modernisme, globalisme kehidupan yang untuk kita di Bali dibawa oleh kapitalisme pariwisata dalam kurun waktu empat dasa Warsa terakhir. Industri ini telah memberikan kemakmuran pada sebagian masyarakat Bali, tetapi dengan catatan biaya sosialnya juga tidak sedikit. Kerusakan alam, tercemarinya kawasan-kawasan suci, individualisme kehidupan, kehidupan yang serba benda (pada masyarakat yang akar tradisinya religius), kemerosotan etika dan moralitas kehidupan pada sebagian besar masyarakat (pada masyarakat yang pada dasarnya menggunakan rujukan Itihasa Ramayana dan Mahabarata sebagai rujukan nilai kehidupan).
Lebih jauh konsultan ekonomi manajemen kelahiran DesaTajun Denbukit ini melihat, transformasi massif lahan pertanian dan perkebunan menjadi industri, dan industrial estates lainnya, sehingga sebagian masyarakat kehilangan hak kepemilikan tanahnya dan seluruh konsekuensi budaya yang menyertainya. Masyarakat menjadi tertatih-tatih menghadapi persaingan, dalam sistem kapitalisme pariwisata, dimana adagium: "homo homini lupus", manusia menjadi serigala di antara sesamanya, tampak muncul di permukaan, termasuk di dunia politik yang secara normatif semestinya memegang amanah publik.
"Dalam kedualistikan ( rwa bhineda ) kehidupan seperti itu, masyarakat menikmati kesejahteraan ekonomi, dengan beban sosial yang tidak kalah "tingginya", sebelum pandemi Covid-19, lahir fenomena belog ajum pada sebagian masyarakat. Belog ajum: gambaran prilaku (maaf) orang-orang bodoh tetapi sangat suka pamer. Diksi yang pada dirinya kontradiktif, bodoh tetapi punya sikap ekspresif untuk pamer, ujarnya.
Lalu ia menguraikan, bagaimana fenomena belog ajum ini bisa dijelaskan dalam konteks masyarakat Bali:
a. Terjadi kegagapan masyarakat mengalami perpindahan dari tradisi agraris pertanian ke industri jasa pariwisata yang paradigmanya sangat berbeda.
b. Rezeki nomplok dari industri pariwisata: nilai penjualan dan sewa tanah yang tinggi dan yang sejenisnya, membuat sebagian masyarakat gagap secara kultural dan kemudian tampil dalam perilaku ydm.
c. Kekurang-berhasilan dan bahkan kegagalan dari kepemimpinan umat untuk melakukan transformasi sastra agama dan ritual keagamaan yang bersemamgat dan semarak, untuk mengantarkan umat ke pemahaman keagamaan yang lebih baik, peningkatan viveka, menuju jagra, bahkan ketercerahan diri.
Masa paceklik pariwisata akibat pandemi Covid-19, yang "memporak-porandakan" ekonomi Bali, dan kita tidak tahu sampai kapan akan berlangsung, sebagai momentum bagi krama Bali untuk melakukan refleksi dan kemudian koreksi terhadap perilaku destrukrif belog ajum, yang dimulai dari lapisan para elitenya.
"Kearifan tetua Bali mengajarkan, mulailah kehidupan ini dengan jujur, jujur kepada diri sendiri, sebelum berupaya untuk jujur kepada orang lain, dalam konteks dharma kita melakoni kehidupan", pungkasnya. (IBM/02).