Denpasar (Atnews) - Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti) Wilayah VIII Prof Dr I Nengah Dasi Astawa, M.Si menilai pengetahuan kitab suci Veda umat Hindu sangat luas.
Namun kemampuan manusia terbatas dalam memahami hal tersebut, khususnya dalam tatanan filosofis.
Sedangkan dalam pemahaman etika, tatwa dan upacara, diyakini lebih mudah.
"Kitab suci Veda sangat luas, sementara kita manusia memiliki keterbatasan sedangkan dalam mempelajarinya tidak akan pernah berakhir," kata Prof Dasi Astawa.
Kitab suci Veda dalam konteknya terdapat anjuran dan larangan.
Kedua hal itu dapat dipahami sesuai dengan kapasitas masing - masing.
Apabila dicapai oleh kedua hal itu tercapai dapat mencapai kehidupan kebahagiaan (jagadhita) dengan lahir bathin.
"Semua individu mengalami jagadhita maka desa, kecamatan, provinsi hingga Republik akan jagadhita, " ungkapnya.
Jika kebahagiaan oleh setiap individu maka seluruh umat Hindu kesejahteraan lahir bathin yang seimbang.
Untuk itu, apabila memahami Hindu dengan baik mestinya umat dapat mengikuti perkembangan zaman yang baik.
Mengingat Hindu bersifat universal, fleksibel, lentur dan komprehensif sehingga cepat beradaptasi dengan perubahan.
Diharapkan pula, anak muda dapat meningkatkan srada dan bhakti dalam menghadapi digital disruption.
Hal itu dalam mencegah penyalahgunaan teknologi yang sedang berkembang.
Justru adanya teknologi dan pengetahuan (SAINS) dapat digunakan kearah yang optimal dan progresif.
Begitu juga dalam menghadapi pandemi Covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan (sekala) dan doa (niskala).
"Anak muda jangan sampai menjauhkan ilmu pengetahuan dan agama, meskipun Tuhan memberikan keterbatasan," ujarnya.
Jangan menyalahkan orang lain, karena pekerjaan menyalahkan mudah tetapi coba membenahi tidak gampang.
Maka kolaborasi, take and give dan budaya semangat menyambraya ditumbuhkan. (ART/001)