Banner Bawah

Alasan Wanita Menjadi Guru

Atmadja - atnews

2020-04-05
Bagikan :
Dokumentasi dari - Alasan Wanita Menjadi Guru
Slider 1

Oleh Romi Sudhita
Penulis sempat bertanya kepada beberapa orang tua yang anaknya kuliah di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), mengapa anak bapak memilih jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ? Jawaban yang diperoleh, "dia itu kan wanita tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, cukup yang singkat hanya dua tahun saja." Memang ketika pertanyaan ini diajukan (1995) status PGSD di seluruh Indonesia belum Strata Satu (S1) melainkan masih Diploma Dua (D2) yang lama studinya dua tahun. Setelah ditingkatkan statusnya menjadi S1, toh mahasiswanya masih tetap didominasi oleh lulusan SMA/SMK berjenis kelamin wanita.
Penulis menjadi agak penasaran mengenai alasan studi atau menyekolahkan putri-putri mereka. Selanjutnya, penulis bertanya lagi dengan seorang ibu paruh baya, sebut saja namanya Ni Made Karthini, yang dua putrinya kuliah di Progam S1 PGSD. Apa yang melatarbelakangi menyuruh anak-anak ibu kuliah di kampus yang mencetak calon-calon guru SD ? "Saya menyekolahkan/menguliahkan putri saya itu karena yang namanya wanita kan lebih cocok menjadi guru atau pendidik nantinya, lagi pula dari segi pembiayaan jauh lebih rendah ketimbang di jurusan atau fakultas lain seperti Kedokteran atau fakultas Teknik."
Seorang teman, Nyoman Susila, S.Pd. yang guru SD di bilangan Kuta, Badung, lain ceritanya. Wanita menjadi guru di SD memang sangat cocok karena memiliki sifat keibuan apalagi jika ia mengajar di kelas-kelas rendah yaitu kelas I sampai kelas III, katanya seraya membenarkan bahwa kuliah di IKIP atau FKIP yang ada PGSD nya relatif lebih rendah. Kuliah yang disinggung guru asal desa Patas, Buleleng itu adalah dalam rangka persiapan hendak menjadi guru SD.
Seorang mantan dosen yang bergelar fungsional akademik guru besar yakni Prof. Dr. Gde Anggan Suhandana dalam berbagai kesempatan resmi sering berkomentar bahwa mereka yang dikatakan cenderung berprofesi sebagai guru, terutama guru SD, disebabkan oleh adanya perlakuan berbeda orang tua terhadap anaknya dalam menuntut ilmu. Tegasnya, kata profesor asal Karangasem ini, masih ada orang tua yang menganggap putrinya sebagai warga negara kelas dua, dalam arti kurang mendapat perhatian jika dibandingkan dengan anak laki-lakinya, sehingga mereka itu beranggapan anak wanita cukup  berpendidikan yang singkat ala PGSD tersebut.
Apabila kita lihat situasi dan perkembangan terkini mengenai hak dan kewajiban anak-anak wanita, tampaknya sudah imbang, sama-sama dianggap penting dan berperan dalam pembangunan di bidang pendidikan.
Informasi yang penulis dapatkan bersumber pada situs vandanote.com (Google, 2020), menyebutkan ada lima alasan seorang wanita atau seorang ibu memilih pekerjaan sebagai guru. Kelima alasan itu, adalah sebagai berikut (1) Jam kerja guru lebih singkat daripada jam kerja orang kantoran, (2) Penghasilan guru di zaman sekarang sudah ada perbaikan malah relatif sama dengan yang kantoran, (3)  Ada waktu liburnya yang cukup panjang yaitu ketika raportan dan kenaikan kelas siswa, (4) Mengajar anak orang lain berarti mengajar anak sendiri, dan (5) Terasa lebih menyenangkan jadi guru ketimbang kerja kantoran atau kerja yang lain. 
Andaikata pengakuan ibu-ibu guru ini sebanyak lima persen saja di Indonesia, tentu akan ikut mewarnai jawaban atas pertanyaan kenapa jumlah guru wanita lebih banyak dibandingkan dengan laki-lakinya.
*)Penulis, pemerhati pendidikan dan jurnalis media online "Atnews"

Baca Artikel Menarik Lainnya : UU Tak Nabrak UUD 1945

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng