Denpasar (Atnews) - Pemerhati Pertanian Ir. I Nyoman Baskara, M.M. yang juga Aktivis Lingkungan mengatakan, wacana kebijakan pariwisata Bali berkualitas (Bali Quality Tourism), sudah cukup lama diembuskan.
Oleh pemerintah dan atau pelaku industri plesiran tersebut, namun impian tersebut belum sepenuhnya terwujud.
Wacana itu terus saja bergulir, merespon adanya sejumlah permasalahan yang menimpa Bali.
Sebenarnya, telah banyak adanya kajian teknokratis terkait konsep ideal paradigma pariwisata yang berbasis budaya dengan konsep tmTri Hita Karana.
"Baik yang dilakukan atas nama lembaga perguruan tinggi dan atau oleh asosiasi atau oleh para ahli dengan dsiplin keilmuannya masing - masing," kata Baskara di Denpasar, Rabu (30/9).
Sebut saja diantaranya kajian dari aspek daya dukung alam Bali yang dilakukan Prof. Suarna dan kawan - kawan.
Guru Besar Universitas Udayana (Unud) itu sudah sering mengingatkan pemerintah, agar sungguh sungguh memperhatikan tata ruang dan daya dukungan alam Bali, manakala akan membangun infrastruktur pendukung pariwisata.
Bali yang luasnya kurang dari 6000 kilo meter persegi maksimum hanya menampung penduduk 2,5 juta jiwa. Jika mengabaikan daya dukung tersebut, sudah pasti akan berdampak buruk pada kualitas lingkungan.
"Secara kasat mata, kita bisa temui berbagai bentuk dampaknya antara lain : krisis air, polusi, rentan banjir," ujarnya.
Kondisi tersebut diperburuk oleh adanya pelanggaran tata ruang. Berlanjut pada alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan pemukiman dan akomodasi pariwisata serta pendukungnya.
Bali kini hadapi sejumlah isu strategis, yang memerlukan solusi komprehensif. Tebing tebing di bebukitan di kawasan pariwisata dibabat habis untuk pembangunan vila super seksi. Daerah aliran sungai dikepung bangunan liar. Pun zone kesucian wilayah, tak luput aksi penyerobotan.
"Lalu, bagaimana Bali bisa mewujudkan pariwisata berkualitas?? Mari kita diskusikan dan rumuskan bersama. Let's save Bali," pungkasnya. (Z/ART/002)