Gianyar (Atnews) - Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Bali Prof Wayan Kun Adnyana membuka Pameran Seni Kontemporer 'JAGA RAGA BARA JIWA #3' Seniman Agus Kama Loedin di Studio BATU8 di Pasekan - Batu Bulan, Gianyar (22/9).
Acara itu dihadiri Putu Suasta, Westa, Warih, Pino Confesa, Eric Buvelot, Jirna.
Pembukaan pameran meriah menjadi ajang perayaan karya dan reuni para seniman. Momentum tersebut menjadi ajang reuni para seniman (seniman turun kabeh)
Pada kesempatan itu, Dr. Anak Agung Gede Putra ikut di daulat memberi sambutan dan memberi apresiasi selain ikut mensponsori dengan membuka stand cocktail, Booth Jung bartender & Co.
"Suasana hangat, meriah dan penuh kegembiraan," Gung Putra.
Hiburan permainan gitar legenda Rock tahun 80-an, Totok Tewel dan grup musik Blues lokal. Menambah keceriaan pembukaan pameran.
Gung Putra hadir sebagai partner bertumbuh sang seniman. Bagi seniman sebuah pameran adalah peraayaan atas kerja kerja berkesenian dalam suatu periode waktu. Di pameran Jaga Raga Bara Jiwa seorang Agus Kamaloedin sedang meremajakan jiwa seninya dalam karya - karta yang semuanya baru dan sangat terasa bahwa bara kreativitasnya menembus ruang jaman.
"Mitologi-mitologi klasik naga hadir dalam ragam tafsir yg sangat propan di mix media kawat, resin, kulit, kayu dan batu," ujarnya.
Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana mengatakan, Agus Kama Loedin menguji dan mengundang apresian untuk memasuki artistika berbasis ragam tekukan kawat, yang kemudian membentuk sosok mitologis, Naga.
Perjalanan kreatif Agus yang berakar dari disiplin arkeologi, bentangan panjang dunia fotografi, hingga berlabuh pada eksplorasi medium kawat serta material keras yang lain menghadirkan sebuah perjumpaan artistik yang khas, sekaligus berkehendak menggoda nostalgia masa lalu yang mengurung.
Ia mengakrabi jejak peradaban dan artefak masa lampau, yang kemudian dilebur dengan ketajaman intuisi material, visual fotografi, ke kedalaman ekspresi rupa personal.
Pada pameran itu, tema "Naga" menjadi perjalanan eksploratif yang merepresentasikan mitologi purba agar tidak membeku dalam ingatan kolektif.
Melalui proses negosiasi material yang "keras kepala" mempertemukan kawat, kulit kerbau, plastik, dan batu perupa ini membongkar kembali wujud yang akrab untuk dihadapkan pada visual dunia kontemporer.
Pendekatan itu mengubah masa lalu dari sekadar objek pamer museum menjadi sebuah medan tegangan yang hidup dan menyala.
Publik apresiasi yang datang, dilingkupi memori masing-masing baik tentang relief candi, cerita leluhur, wayang, hingga budaya pop global seperti film, anime, dan gim fantasi tidak lagi sekadar memandang sebuah artefak.
"Mereka masuk ke dalam ruang disrupsi atensi, di mana karya seni secara aktif menguji kesadaran, memicu keganjilan, dan merangsang lahirnya resonansi serta memori baru," ujarnya.
Pameran itu menunjukkan bahwa mana kala dunia bergerak begitu cepat, warisan masa lalu tidak mesti dibiarkan sekadar menjadi kenangan.
Warisan masa lalu justru mesti dijaga kembali menyala, dibuat untuk merebut perhatian, dan bahkan mempertanyakan ulang cara memikirkan warisan dimaksud.
Tidak terelakkan bahwa makhluk imajinatif dan mitologis, Naga, telah hadir hampir di semua tempat dan berbagai kultur. Naga Agus Kama loedin hadir dalam kebaruan artistik, yang menggoda untuk diselami (Z/002)