Dr. Wididana: Teknologi EM, Dorong Revitalisasi Bumi dan Pertanian Organik Berkelanjutan
Banner Bawah

Dr. Wididana: Teknologi EM, Dorong Revitalisasi Bumi dan Pertanian Organik Berkelanjutan

Admin 2 - atnews

2026-09-11
Bagikan :
Dokumentasi dari - Dr. Wididana: Teknologi EM, Dorong Revitalisasi Bumi dan Pertanian Organik Berkelanjutan
Teknologi Effective Microorganisms (ist/atnews)
Denpasar (Atnews) - Teknologi Effective Microorganisms (EM) diyakini menjadi salah satu solusi penting untuk merevitalisasi bumi sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan. 

Teknologi yang ditemukan Prof. Dr. Teruo Higa, guru besar Universitas Ryukyus, Okinawa, Jepang, tersebut mendorong penerapan pertanian organik dengan mengandalkan mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanah, tanaman, dan lingkungan.

Direktur Utama PT Songgolangit Persada (SLP), Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr atau yang akrab disapa Pak Oles, menegaskan bahwa kondisi tanah, air, dan udara yang sehat merupakan fondasi utama untuk menghasilkan bahan pangan yang sehat.

“Tanah, air dan udara harus sehat, sehingga mampu menghasilkan makanan yang sehat. Berkat rekomendasi dari guru saya Prof. Dr. Teruo Higa, teknologi ramah lingkungan itu tahun 1990 saya bawa ke Indonesia, khususnya Bali,” kata Pak Oles dalam sebuah kesempatan.

Ketertarikan Pak Oles terhadap dunia pertanian telah tumbuh sejak muda. Setelah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Udayana, ia kemudian melanjutkan pendidikan S-2 di Faculty of Agriculture, University of the Ryukyus, Okinawa, Jepang. Di negeri Sakura tersebut, ia mempelajari sekaligus mendalami teknologi EM di bawah bimbingan Prof. Dr. Teruo Higa.

Sepulangnya ke Indonesia, Pak Oles memperkenalkan teknologi EM kepada masyarakat dan mengembangkan bisnis agroindustri dari sektor hulu. Salah satu bentuk penerapannya adalah memproduksi pupuk cair EM4 serta pupuk organik padat Bokashi Kotaku hasil fermentasi yang ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan petani.

Prediksi Bumi Sakit akibat Eksploitasi Kimia
Prof. Dr. Teruo Higa sebelumnya memprediksikan bahwa bumi akan mengalami kondisi yang semakin sakit apabila terus-menerus dieksploitasi menggunakan bahan kimia, termasuk pupuk kimia dan berbagai zat kimia lainnya.

Menurut Pak Oles, penggunaan bahan kimia secara berlebihan tidak hanya berdampak terhadap kondisi tanah, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas air, udara, ekosistem, serta kehidupan manusia.

Untuk menghindari kondisi tersebut, diperlukan perubahan pola pertanian melalui penerapan sistem pertanian organik yang lebih ramah lingkungan.

“Dengan pertanian organik, tanpa menggunakan zat kimia, tanah, air dan udara menjadi sehat, sekaligus mampu menghasilkan bahan makanan yang sehat,” ujarnya.

Pak Oles menilai kondisi bumi yang tidak sehat dapat memberikan dampak luas terhadap kehidupan makhluk hidup. Degradasi lingkungan, munculnya berbagai persoalan kesehatan, hingga menurunnya kenyamanan hidup masyarakat menjadi bagian dari dampak yang perlu mendapatkan perhatian.

Ketika ditanya apakah pandemi Covid-19 menjadi salah satu tanda bumi sedang sakit, Pak Oles menyebut hal tersebut dapat dilihat sebagai salah satu fenomena yang berkaitan dengan berbagai persoalan lingkungan dan kehidupan manusia.

Teknologi EM Telah Mendunia

Teknologi EM dikembangkan Prof. Dr. Teruo Higa bersama mahasiswa di Universitas Ryukyus, Okinawa, melalui penelitian yang berlangsung selama 12 tahun, yakni dari 1968 hingga 1980.

Dalam perkembangannya, teknologi EM kemudian diterapkan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Teknologi tersebut digunakan dalam berbagai bidang, terutama pertanian, peternakan, perikanan, pengelolaan limbah, serta upaya menjaga kualitas lingkungan.

Pak Oles yang kini mengelola pabrik pupuk EM4 di Desa Bengkel, Buleleng, Bali, terus mendorong pemanfaatan teknologi EM untuk mendukung pertanian yang berkelanjutan. Produk EM4 yang diproduksi juga telah dipasarkan ke sejumlah daerah di Indonesia.

Menurutnya, konsep pertanian ramah lingkungan bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru. Di Jepang, Mokichi Okada, salah satu pelopor pertanian organik, telah lebih dahulu mengembangkan cara bertani yang berupaya menjaga keseimbangan alam dan menghasilkan bahan pangan sehat tanpa mengandalkan pestisida kimia.

“Hanya tanah yang sehat dapat menumbuhkan tanaman yang sehat dan memberikan kesehatan kepada umat manusia. Pertanian organik menghasilkan bahan makanan sehat,” tegas Pak Oles.

Ia menambahkan, penerapan teknologi EM dalam pertanian organik dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesuburan tanah sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

“Penggunaan pupuk yang diproses dengan teknologi EM untuk pertanian organik mampu meningkatkan kesuburan tanah serta menjaga kelestarian lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

Dengan demikian, penerapan teknologi EM tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem.

Tanah yang sehat, lingkungan yang lestari, dan pangan yang sehat menjadi fondasi penting bagi peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat (Z/002) 

Baca Artikel Menarik Lainnya : SMA 2 Denpasar Dulu dan Kini

Terpopuler

Pemkab Buleleng, Salurkan Rp 516 juta untuk Ngaben Massal Sepanjang 2026

Pemkab Buleleng, Salurkan Rp 516 juta untuk Ngaben Massal Sepanjang 2026

Ratusan Truk Terjebak di Ketapang, KADIN Minta Penanganan Serius, Logistik Bali Terancam Lumpuh

Ratusan Truk Terjebak di Ketapang, KADIN Minta Penanganan Serius, Logistik Bali Terancam Lumpuh

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

Pasar India Makin Menjanjikan, Kemenpar Raup Potensi Transaksi Rp12,8 Miliar di Pune

Pasar India Makin Menjanjikan, Kemenpar Raup Potensi Transaksi Rp12,8 Miliar di Pune

Gubernur Koster: Bali Bangun Aksi Iklim Berbasis Kearifan Lokal dan Membuka Peluang Ekonomi Hijau

Gubernur Koster: Bali Bangun Aksi Iklim Berbasis Kearifan Lokal dan Membuka Peluang Ekonomi Hijau

Badung Luncurkan SIGAP EMAS, Kawal Masa Emas Anak yang Tumbuh di Balik Jeruji

Badung Luncurkan SIGAP EMAS, Kawal Masa Emas Anak yang Tumbuh di Balik Jeruji