Badung (Atnews) - Upacara Stiti Puja Nyanggra Pewangunan Pewayangan Hyang Semar, Tuwalen, dan Sabdo Palon digelar di Taman Suci, lokasi pembangunan Patung Sabdo Palon Naya Genggong, kawasan Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Minggu (6/9/2026).
Upacara tersebut menjadi bagian dari rangkaian spiritual yang menyertai proses pembangunan kawasan Taman Suci dan pewayangan Hyang Semar, Tuwalen, serta Sabdo Palon.
Tokoh adat Badung sekaligus Koordinator Lapangan kegiatan ritual, Ida Bagus Gede Widnyana atau Gus Wid mengatakan Stiti Puja dilaksanakan sebagai bentuk permohonan doa, restu, dan dukungan spiritual agar seluruh tahapan pembangunan dapat berjalan lancar hingga selesai.
Menurut Gus Wid, istilah stiti dalam pemaknaan Bali Kuno memiliki arti tetap, tegak, kokoh, stabil, dan lestari. Nilai tersebut diharapkan menjadi landasan spiritual selama pembangunan berlangsung.
"Harapan kita tentu dukungan dari semua. Baik dukungan spiritual, doa, pengrestu, maupun support system agar tetap berjalan. Bukan hanya pada saat awal peletakan, tetapi selama proses ini sampai nanti sempurna," kata Gus Wid.
Ia menegaskan, dukungan terhadap pembangunan tidak hanya dibutuhkan ketika proses dimulai. Masyarakat maupun pihak-pihak yang memiliki pengetahuan dan keyakinan terhadap keberadaan Hyang Semar, Tuwalen, dan Sabdo Palon diharapkan dapat terus memberikan doa serta restu.
Taman Suci, kata dia, akan tetap dibuka sebagai ruang bagi masyarakat dan berbagai pihak yang ingin hadir untuk berdoa maupun memberikan dukungan terhadap proses pembangunan.
"Kami membuka dukungan dari semua yang yakin dan dari semua lapisan masyarakat untuk bisa datang langsung. Ini bagian dari permohonan doa dan restu agar proses yang sedang berjalan bisa terlaksana dengan baik," katanya.
Sejumlah tokoh dan praktisi spiritual turut hadir dalam pelaksanaan upacara tersebut. Salah satunya Panglingsir Puri Satria Denpasar, Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi atau Cok Rat, yang hadir bersama istri.
Kehadiran Cok Rat menjadi bagian dari dukungan terhadap proses pembangunan kawasan Taman Suci Sabdo Palon Naya Genggong di kawasan yang disebut sebagai Tanah Taman Suci.
Patung Diproses di Yogyakarta
Ditengah proses ritual dan persiapan pembangunan kawasan, pengerjaan patung Hyang Semar, Tuwalen, dan Sabdo Palon disebut masih berlangsung di Yogyakarta.
Gus Wid mengatakan, saat ini pihak pengelola memprioritaskan pembangunan fondasi dan sejumlah bangunan penunjang sebelum patung selesai dikerjakan dan dibawa ke Bali.
"Yang sekarang diutamakan adalah bangunan penunjangnya terlebih dahulu. Karena proses pengerjaan patungnya masih berjalan dan sudah diproses di Jogja," kata Gus Wid.
Bangunan penunjang tersebut direncanakan berupa gedung lima lantai. Fasilitas itu nantinya digunakan untuk mendukung aktivitas di kawasan Taman Suci, termasuk sebagai tempat peristirahatan tamu dan sulinggih.
Selain rest area dan ruang akomodasi, bangunan tersebut juga akan dilengkapi kantor serta fasilitas penunjang lainnya.
"Sekarang sudah ada balai adat dan gedung. Ke depan akan dibangun fasilitas penunjang agar ketika ada tamu atau sulinggih yang datang, tersedia tempat untuk beristirahat dan fasilitas lainnya," katanya.
Gus Wid yang juga ngayah di Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Badung mengatakan, sosialisasi mengenai pembangunan kawasan Taman Suci akan terus dilakukan.
Sosialisasi dinilai penting agar masyarakat mengetahui proses pembangunan sekaligus memahami keberadaan pewayangan Hyang Semar, Tuwalen, dan Sabdo Palon yang direncanakan menjadi bagian penting dari kawasan tersebut.
"Kami akan terus menyebarkan dan mensosialisasikan informasi ini kepada masyarakat, terutama kepada mereka yang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang sama mengenai keberadaan Sabdo Palon, Semar, maupun Tuwalen, sehingga bisa ikut andil dan berperan," ujarnya.
Ia berharap pembangunan dapat berjalan lancar dengan dukungan masyarakat serta kekuatan spiritual.
Pelaksanaan Stiti Puja pun diharapkan menjadi momentum untuk menjaga semangat pembangunan agar tetap teguh, kokoh, dan berkelanjutan.
"Lebih dari sekadar rangkaian ritual, kami berharap nilai stiti menjadi pijakan dalam menjaga kesinambungan pembangunan kawasan Taman Suci sekaligus memperkuat pelestarian nilai-nilai budaya Bali dan manfaatnya bagi masyarakat," tutupnya (WIG/002)