Gianyar (Atnews) - Penguasaan lahan sawah yang relatif sempit oleh petani dapat dioptimalisasi melalui intensifikasi usahatani campuran dengan penerapan sistem mina sari. Minasari tersebut mencakup komoditas tanaman padi, gonde dan ikan nila sehingga mampu menghasilkan tiga produk dalam satu hamparan sawah dalam satu musim tanam.
Demikian disampaikan oleh Rektor Dwijendra University, Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc.MMA. dalam penyuluhannya di hadapan para petani Subak Pujung Kaje, Tegallalang, Gianyar pada acara pengabdian kepada masyarakat Fakultas Pertanian dan Bisnis yang diselenggarakan pada Sabtu, 22 Agustus 2026 di wantilan Desa Pujung.
Sedana menyampaikan bahwa sistem pertanian ini merupakan modifikasi mina padi terpadu (polikultur), yaitu suatu teknik budidaya modern yang menggabungkan tiga komoditas sekaligus dalam satu lahan sawah: padi (sebagai tanaman utama), gonde (sayuran lokal di pematang/galengan), dan ikan (di dalam air sawah). Sistem ini dimaksudkan untuk memaksimalkan keuntungan dari lahan yang terbatas.
Manfaat utama dari sistem mina sari (integrasi padi, gonde, dan ikan) adalah melipatgandakan keuntungan finansial sekaligus menjaga kelestarian lingkungan secara alami dalam satu kali musim tanam.
Sistem pertanian terpadu polikultur ini memberikan keuntungan menyeluruh dari tiga aspek penting yaitu ekonomis, ekologis dan kualitas produk.
Secara ekonomis, sistem ini memberikan manfaat untuk melipatgandakan penghasilan. Petani tidak semata-mata mengandalkan produk padi tetapi juga dapat menghasilkan pendapatan harian atau mingguan dari memetik sayur gonde. Selain itu, mereka juga dapat penghasilan dari panen ikan konsumsi.
Sistem ini juga meningkatkan efisiensi sarana produksi karena pemeliharaan ikan dapat mengurangi kebutuhan biaya untuk membeli pupuk kimia buatan dan obat pembasmi hama (pestisida).
Di samping itu juga, Sedana yang didampingi oleh Dekan Fakultas Pertanian dan Bisnis Dwijendra University, Kadek Ayu Charisma Julia Dewi, SP.MP. mengatakan bahwa mina sari dapat meminalkan risiko gagal panen.
Jika harga salah satu komoditas jatuh atau tanaman padi sedang kurang maksimal, petani masih memiliki cadangan ekonomi dari penjualan ikan dan sayur gonde.
Manfaat ekologis sistem mina sari dapat menyuburkan tanah karena pemeliharaan ikan menghasilkan pupuk organik yang kaya nitrogen dan bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman padi dan gonde.
Sistem ini juga merupakan bagian dari sistem pengendali hama dan gulma alami, dimana ikan menjadi predator alami yang memakan jentik nyamuk, ulat, dan serangga pengganggu padi.
Pergerakan ikan juga mencabuti rumput liar (gulma) sebelum sempat tumbuh besar. Saat berenang di sela-sela batang padi, ikan terus bergerak dan mengaduk lapisan lumpur sawah. Hal ini membantu sirkulasi oksigen masuk ke dalam tanah sawah, yang membuat akar padi bernapas lebih baik dan tumbuh kokoh.
Dari aspek kualitas produk, sistem mina sari menghasilkan produk yang berkualitas dan sehat serta menjadi bagian sistem ketahanan pangan keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan gizi keluarga petani terpenuhi dengan sangat baik.
Hasil panen juga lebih sehat karena penggunaan bahan kimia pertanian ditekan seminimal mungkin agar ikan tidak mati, beras dan sayur gonde yang dihasilkan jauh lebih sehat, bebas residu kimia berbahaya, dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi di pasar,” ungkap Sedana (Z/002)