Buleleng (Atnews) - Berada di wilayah dengan ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, Desa Gobleg, Kabupaten Buleleng, memiliki potensi besar dalam pengembangan kopi arabika berkualitas.
Potensi tersebut menjadi peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan komoditas kopi tidak hanya sebagai hasil pertanian, tetapi juga sebagai sumber penghasilan yang memberikan nilai tambah bagi petani.
Potensi tersebut dikelola oleh Kelompok Tani Gobleg Bali Coffee yang saat ini beranggotakan 28 petani dengan total lahan sekitar 23 hektare. Produktivitas rata-rata mencapai sekitar 5 ton per hektare per tahun.
Dengan potensi produksi tersebut, penguatan proses pengolahan menjadi penting agar hasil panen yang dihasilkan petani dapat memiliki kualitas dan nilai ekonomi yang semakin baik.
"Melihat potensi sekaligus kebutuhan tersebut, PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Bali melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) memberikan dukungan untuk memperkuat proses pengolahan kopi Kelompok Tani Gobleg Bali Coffee.
Dukungan diberikan secara terpadu melalui penyediaan peralatan pengolahan, penguatan infrastruktur kelistrikan, serta peningkatan kapasitas petani," tandas Manager PT.PLN(Persero) UP3 Bali Utara, RM Dimas Adhi Prabowo
Dalam program tersebut, PLN menyerahkan satu unit mesin pengupas kulit buah kopi (coffee pulper), satu unit mesin pencuci kopi (coffee washer), satu unit mesin pengupas kulit kopi (huller), satu unit mesin sortasi biji kopi (grader), serta satu unit alat ukur kadar air biji kopi. Disamping itu.
Juga adanya dukungan kelistrikan dengan membantu proses tambah daya dari 900 VA menjadi 16.500 VA beserta instalasi kelistrikan yang mendukung operasional peralatan pengolahan kopi secara aman dan optimal.
Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu kelompok tani meningkatkan efisiensi proses pengolahan sekaligus menjaga kualitas biji kopi.
Dengan peralatan yang lebih memadai, petani memiliki kesempatan untuk mengolah hasil panen secara lebih optimal sehingga tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga menghasilkan produk dengan kualitas dan nilai jual yang lebih baik.
Ketua Kelompok Tani Gobleg Bali Coffee, Ketut Sutarnaya, menyampaikan apresiasi atas dukungan dan pendampingan yang diberikan PLN.
“Terima kasih kepada PLN atas bantuan dan pendampingan yang diberikan. Kami berharap dukungan ini dapat membantu meningkatkan kualitas dan nilai jual kopi sekaligus meningkatkan kemampuan para petani dalam mengolah hasil produksi,” ujar Ketut.
Menurutnya, keberadaan peralatan pengolahan dan dukungan kelistrikan memberikan peluang bagi kelompok tani untuk mengembangkan proses pengolahan kopi secara lebih baik.
Hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah hasil panen dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi para petani.
Perbekel Desa Gobleg, Made Separsa, mengapresiasi perhatian PLN terhadap potensi ekonomi masyarakat Desa Gobleg.
“Bantuan ini menunjukkan dukungan PLN terhadap kesejahteraan masyarakat. Kami berharap dukungan ini dapat menjadi media untuk mendorong produktivitas petani agar semakin optimal sekaligus mengembangkan potensi kopi Desa Gobleg,” ungkap Made.
Tidak berhenti pada dukungan peralatan, PLN juga memberikan pelatihan pengoperasian mesin kepada anggota kelompok tani. Peningkatan kapasitas tersebut menjadi bagian penting agar teknologi yang diberikan dapat dimanfaatkan secara optimal dan kelompok tani memiliki kemampuan untuk mengoperasikan serta merawat peralatan secara mandiri.
Manager Komunikasi dan TJSL PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Bali, I Wayan Eka Susana, Kamis(20/8) mengatakan bahwa pemberdayaan masyarakat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program TJSL PLN.
"PLN tidak hanya memberikan bantuan peralatan dan mendukung penambahan daya listrik untuk mengoptimalkan produksi kopi. Kami juga ingin membangun literasi dan kapasitas masyarakat agar bantuan yang diberikan dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan,” jelas Eka.
Eka menambahkan, peningkatan kualitas produk perlu diikuti dengan penguatan aspek pemasaran dan branding. Karena itu, PLN juga mendorong kelompok tani untuk mengoptimalkan berbagai ruang pengembangan usaha, termasuk Rumah BUMN, sebagai sarana untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha, memperkuat branding, serta membuka peluang pemasaran yang lebih luas.
“Harapannya, manfaat program ini dapat dirasakan dari hulu sampai hilir. Mulai dari proses pengolahan yang lebih baik, peningkatan kualitas produk, hingga kemampuan kelompok dalam memperkenalkan dan memasarkan produknya. Dengan demikian, semakin besar pula nilai ekonomi yang dapat kembali kepada petani,” tambah Eka.
Bagi masyarakat Desa Gobleg, penguatan sektor kopi diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih luas. Peningkatan kapasitas pengolahan dan kualitas produk membuka peluang bagi petani untuk memperoleh nilai tambah dari hasil panen, sekaligus memperkuat usaha kelompok tani sebagai bagian dari potensi ekonomi lokal.
Program TJSL tersebut juga dilengkapi dengan monitoring dan evaluasi untuk melihat keberlanjutan pemanfaatan bantuan serta perkembangan kelompok tani setelah program berjalan.
Pendekatan ini dilakukan agar dukungan yang diberikan tidak berhenti pada penyerahan fasilitas, tetapi benar-benar dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Kegiatan penyerahan dan pendampingan program TJSL tersebut dilaksanakan pada Rabo, (19/8) di lokasi pengolahan kopi sekaligus kediaman Ketua Kelompok Tani Gobleg Bali Coffee, Desa Gobleg, Kabupaten Buleleng.
Melalui program TJSL ini, PLN terus mendorong pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Dukungan terhadap petani kopi Desa Gobleg menjadi bagian dari komitmen PLN untuk menghadirkan manfaat yang tidak hanya bersifat langsung, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas, produktivitas, dan kemandirian ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. (WAN/002)