Labuan Bajo (Atnews) - BNPB terus menyisir wilayah yang terdampak gempa M7.7 Nusa Tenggara Timur (NTT). Identifikasi titik-titik tersebut akan membantu dalam penyaluran bantuan kemanusiaan kepada para korban.
Langkah penyisiran dilakukan Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari di Kecamatan Kuwus, Manggarai Barat, NTT, pada Rabu (19/8). Asesmen berlangsung di dua tempat, yaitu Dusun Coal di Desa Coal dan Dusun Dahang di Desa Pangga.
Sejumlah warga melakukan pengungsian mandiri dan terpusat. Saat melakukan asesmen, BNPB sekaligus menyalurkan bantuan, di antaranya bantuan presiden.
Di wilayah desa tersebut, sejumlah dampak dirasakan warga masyarakat. Sebanyak 148 rumah warga mengalami kerusakan. Rumah rusak berat berjumlah 101 unit, rusak sedang 12 unit dan rusak ringan 35 unit. Sedangkan korban jiwa, satu warga meninggal dunia.
Jumlah pengungsi di Desa Coal berjumlah 1.108 orang. Sedangkan di Desa Pangga, lebih dari 20 keluarga mengungsi mandiri.
Saat mengunjungi pengungsi di wilayah terdampak, Deputi Bidang Pencegahan mengatakan, pihaknya mendapatkan informasi kalau di desa ini belum mendapatkan bantuan pascagempa yang terjadi 4 hari yang lalu.
“Kami saat ini langsung ke lokasi dan melihat langsung kondisi masyarakat dari laporan camat tadi sudah ada bantuan pangan dan tentu saja ini akan terus kita tindak lanjuti,” ujar Deputi Abdul Muhari, Rabu (19/8).
BNPB memastikan bantuan pemerintah, khususnya dari bantuan Presiden, langsung diterima masyarakat yang terdampak.
“Ini akan jadi atensi kita tentu saja karena jarak dari Labuan Bajo ke sini ditempuh sekitar 3,5 jam dan akses jalan cukup sulit sehingga tentu saja kita akan pastikan masyarakat terdampak di sini menerima bantuan pangan dan kebutuhan sandang, kebutuhan dasar permakanan dan non-permakanan kita pastikan terpenuhi di sini.”
Sementara itu, Deputi Bidang Pencegahan BNPB juga menyampaikan tantangan yang dihadapi dalam penyaluran bantuan pada titik-titik warga yang mengungsi mandiri.
“Tantangan kita memang di titik-titik dimana masyarakat mengungsi secara mandiri dan ini tidak semuanya juga masyarakat yang mendirikan tenda di sekitar rumah, itu rumahnya rusak, tapi ada faktor-faktor psikologi trauma dan guncangan gempa susulan yang masih terus berjalan sampai sekarang,” lanjut Deputi.
Di samping penyaluran bantuan, BNPB mengidentifikasi masih banyak warga yang mengungsi sementara waktu. Kondisi ini tidak terlepas dengan adanya banyak gempa susulan. Dengan adanya pengungsian, BNPB bersama pos komando yang dipimpin pemeirntah daerah terus mendukung pemenuhan kebutuhan.
“Nah ini menjadi perhatian kita, tentu saja selain pendataan bangunan yang rusak terus kita lakukan tetapi masyarakat yang masih mengungsi karena kita lihat banyak anak-anak, banyak ibu-ibu, banyak lansia juga yang akan kita pastikan selama nanti masih ada pengungsi-pengungsi mandiri ini kita sekali lagi kita pastikan kebutuhan makanan dan permakanan terpenuhi,” tutur Deputi.
Hingga kini, BNPB bersama BPBD di kabupaten terdampak terus mendistribusikan logistik bantuan kepada para korban. Di wilayah NTT, pos pendukung logistik dipusatkan di Labuan Bajo dan Maumere (Z/002)