Admin 2 - atnews
Yogyakarta (Atnews) – Kadek Darmawan, mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Peminatan Perilaku dan Promosi Kesehatan, meraih penghargaan Presenter Oral Terbaik dalam 2nd National Conference on Community Empowerment (NCCE) 2026.
Penghargaan tersebut diberikan atas presentasi mengenai kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan di Pondok Pesantren Al-Imdad, Bantul, Yogyakarta, dengan mengangkat persoalan pangan dan gizi serta potensi sumber daya yang tersedia di lingkungan pesantren.
Penghargaan diberikan pada 19 Agustus 2026 dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Perjuangan Tasikmalaya. Kegiatan tersebut berangkat dari pengenalan terhadap kondisi pangan dan gizi di Pondok Pesantren Al-Imdad.
Pesantren menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan anggaran penyediaan makanan, ketergantungan pada pasokan pangan dari luar, hingga belum optimalnya pemanfaatan sumber daya yang sebenarnya tersedia di lingkungan pesantren. Kondisi tersebut juga berjalan beriringan dengan persoalan gizi santri.
Materi yang dipresentasikan menunjukkan bahwa terdapat santri dengan kondisi gizi lebih maupun gizi kurang, sehingga persoalan pangan di pesantren tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga dengan kualitas dan keberlanjutan pemenuhan gizi santri.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Pondok Pesantren Al-Imdad memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan.
Pesantren memiliki lahan produksi sekitar 1.200 m², greenhouse sekitar 600 m², serta menghasilkan limbah makanan dari aktivitas penyediaan makanan sehari-hari. Berbagai sumber daya tersebut menunjukkan bahwa pesantren sebenarnya memiliki modal yang cukup untuk mendukung penguatan pangan dan gizi santri.
Persoalannya bukan semata-mata tidak adanya sumber daya, melainkan bagaimana potensi yang sudah ada dapat dikenali, dihubungkan, dan dimanfaatkan secara lebih optimal untuk menjawab kebutuhan komunitas pesantren.
Melalui kegiatan di Pondok Pesantren Al-Imdad, perhatian kemudian diarahkan pada bagaimana memahami persoalan yang dirasakan oleh komunitas pesantren sekaligus mengenali sumber daya dan peluang yang dapat dikembangkan.
Santri, pengurus dapur, serta pimpinan dan pengelola pesantren menjadi bagian dari proses untuk memahami kondisi pangan, kebutuhan komunitas, berbagai kendala yang dihadapi, serta peluang perbaikan yang memungkinkan dilakukan.
Pendekatan tersebut menghasilkan gambaran bahwa kebutuhan komunitas tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan yang lebih beragam dan bergizi, tetapi juga dengan pemanfaatan sumber daya pesantren dan keberlanjutan sistem pangan yang dapat mendukung kebutuhan santri.
Salah satu pesan utama yang dibawa dalam presentasi tersebut adalah bahwa program pemberdayaan masyarakat sebaiknya tidak dimulai dari solusi, tetapi dari suara komunitas. Prinsip tersebut menjadi penting karena setiap komunitas memiliki persoalan, sumber daya, keterbatasan, dan peluang yang berbeda.
Dalam konteks Pondok Pesantren Al-Imdad, pemahaman terhadap kondisi nyata di lingkungan pesantren menjadi dasar untuk melihat bentuk pengembangan yang paling relevan, daripada langsung membawa suatu solusi yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Perspektif tersebut juga menempatkan persoalan pangan dan gizi sebagai bagian dari sistem yang saling berkaitan.
Ketersediaan pangan, pemanfaatan lahan, pengelolaan limbah makanan, aktivitas ekonomi, serta dukungan terhadap pemenuhan gizi santri tidak dapat dilihat sebagai persoalan yang berdiri sendiri.
Karena itu, penguatan sistem pangan di pesantren perlu mempertimbangkan hubungan antara berbagai sumber daya dan aktivitas yang telah berjalan di lingkungan pesantren, sehingga potensi yang sebelumnya terpisah dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi komunitas.
Bagi Kadek, pengalaman tersebut menjadi bagian dari penerapan ilmu Perilaku dan Promosi Kesehatan dalam pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan di pesantren memperlihatkan bahwa promosi kesehatan tidak hanya berkaitan dengan penyampaian informasi atau perubahan perilaku individu, tetapi juga bagaimana komunitas dapat mengenali persoalannya sendiri, memanfaatkan sumber daya yang tersedia, dan terlibat dalam menentukan arah perubahan.
Perspektif ini menjadi penting dalam pengembangan program kesehatan masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada hasil jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan dan kemampuan komunitas untuk mengembangkan perubahan secara mandiri.
Penghargaan sebagai Presenter Oral Terbaik pada 2nd NCCE 2026 menjadi pengakuan atas penyampaian pengalaman dan gagasan tersebut dalam forum ilmiah nasional.
Bagi Kadek, capaian ini sekaligus menunjukkan bahwa pengalaman pemberdayaan masyarakat di tingkat lokal dapat menjadi pembelajaran yang relevan untuk dibagikan dalam ruang akademik yang lebih luas.
Kegiatan tersebut juga menegaskan pentingnya melihat komunitas sebagai sumber pengetahuan dalam merancang program, karena pemahaman terhadap persoalan di lapangan menjadi bagian penting dalam menentukan arah intervensi yang sesuai.
Pengalaman di Pondok Pesantren Al-Imdad diharapkan dapat menjadi pembelajaran bahwa penguatan kesehatan dan kesejahteraan komunitas perlu diawali dengan memahami kondisi yang benar-benar dihadapi masyarakat.
Ketika persoalan, kebutuhan, dan potensi lokal dapat dikenali dengan baik, pengembangan program pemberdayaan memiliki dasar yang lebih kuat untuk menjadi relevan, diterima oleh komunitas, dan dikembangkan secara berkelanjutan.
Capaian Kadek Darmawan pada 2nd NCCE 2026 sekaligus menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat UGM dalam membawa isu pemberdayaan masyarakat dan promosi kesehatan ke dalam forum ilmiah nasional (Z/002)
Baca Artikel Menarik Lainnya : Presiden Jokowi Menerima Pengurus PHDI