Tabanan (Atnews) – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa memberikan edukasi kepada kader balita di Banjar Mambang Gede, Desa Mambang, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan, Bali.
Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan pemahaman mengenai anatomi anak, stimulasi perkembangan kognitif, serta pengembangan kemampuan bahasa anak usia 0–5 tahun melalui pemanfaatan sastra anak.
Program tersebut dilaksanakan sebagai salah satu upaya meningkatkan kapasitas kader balita agar mampu memberikan pendampingan tumbuh kembang anak secara lebih optimal di lingkungan masyarakat.
Tim PKM diketuai oleh dr. Ni Made Gita Kusuma Dewi, M.Biomed, bersama dr. Ni Putu Diah Witari, M.Sc, Dr. Made Sani Damayanthi Muliawan, S.S., M.Hum, serta melibatkan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa, Ni Putu Ayu Dian Maharani.
Kader balita memiliki posisi penting dalam pelayanan kesehatan berbasis masyarakat karena menjadi salah satu pihak yang berinteraksi langsung dengan anak dan keluarga. Tidak hanya berkaitan dengan pemantauan kesehatan fisik, kader juga diharapkan mampu memahami tahapan tumbuh kembang anak sehingga dapat membantu keluarga mengenali kebutuhan stimulasi sejak dini.
Dalam kegiatan ini, para kader memperoleh edukasi mengenai anatomi dasar anak usia 0–5 tahun, termasuk pemahaman mengenai bagian tubuh dan fungsi dasarnya yang mengalami perkembangan selama masa balita. Pengetahuan tersebut diharapkan menjadi landasan bagi kader untuk memahami proses pertumbuhan anak sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gangguan tumbuh kembang.
Materi berikutnya berfokus pada stimulasi perkembangan kognitif anak. Peserta diperkenalkan dengan berbagai aktivitas sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti permainan interaktif, aktivitas membaca, penggunaan media edukatif, serta kegiatan yang melibatkan kemampuan berpikir, mengenal lingkungan, dan memecahkan masalah sederhana.
Pendekatan yang digunakan tidak hanya berupa penyampaian materi, tetapi juga melibatkan diskusi dan praktik sehingga kader dapat memahami cara menerapkan stimulasi secara langsung kepada anak.
Hal menarik dalam kegiatan tersebut adalah penggunaan sastra anak sebagai media stimulasi bahasa dan kognitif.
Buku cerita bergambar, puisi anak, kegiatan bercerita, permainan bahasa, serta aktivitas interaktif diperkenalkan kepada kader sebagai alternatif metode stimulasi yang mudah dilakukan namun tetap menarik bagi anak.
Sastra anak dinilai dapat menjadi media pembelajaran yang dekat dengan kehidupan anak. Melalui kegiatan membacakan cerita, misalnya, anak tidak hanya mengenal kosakata baru, tetapi juga belajar memahami alur cerita, mengembangkan imajinasi, melatih kemampuan mendengarkan, serta berkomunikasi dengan orang di sekitarnya.
Kader juga dilatih untuk mempraktikkan teknik bercerita sederhana, menggunakan intonasi suara, memilih kosakata sesuai usia anak, serta memanfaatkan buku cerita dan permainan sebagai media untuk membangun interaksi dengan balita.
Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman kader mengenai anatomi dasar anak, pentingnya stimulasi kognitif, serta pengembangan kemampuan bahasa pada usia 0–5 tahun. Para peserta juga dinilai semakin memahami berbagai bentuk stimulasi sederhana yang dapat diterapkan saat kegiatan Posyandu maupun ketika memberikan pendampingan kepada keluarga.
Selain peningkatan pengetahuan, kegiatan juga mendorong kader untuk lebih percaya diri dalam menggunakan metode edukasi yang kreatif. Pendekatan seperti bercerita, membaca buku bergambar, bermain, maupun menggunakan aktivitas gerak dinilai dapat membuat proses stimulasi perkembangan anak menjadi lebih menyenangkan dan mudah diterapkan.
Tim PKM berharap kemampuan tersebut tidak berhenti setelah kegiatan penyuluhan selesai. Para kader diharapkan mampu meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada orang tua dan keluarga sehingga stimulasi tumbuh kembang anak dapat dilakukan secara konsisten di rumah.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, kader kesehatan, dan masyarakat dalam mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Pendampingan terhadap balita tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga mencakup aspek perkembangan kognitif, bahasa, sosial, dan emosional.
Melalui peningkatan kapasitas kader balita, Universitas Warmadewa berharap pelayanan kesehatan berbasis masyarakat semakin mampu mendukung terciptanya generasi anak yang sehat, aktif, komunikatif, dan berkembang sesuai dengan tahapan usianya. (Z/ART/001)