Ngurah Wijaya Dorong Aset Energi Bersih dan Ramah Lingkungan, Geothermal Belum Dimanfaatkan di Bali
Ngurah Wijaya Dorong Aset Energi Bersih dan Ramah Lingkungan, Geothermal Belum Dimanfaatkan di Bali
Admin -
atnews
2026-08-04
Bagikan :
Ida Bagus Ngurah Wijaya (ist/Atnews)
Denpasar (Atnews) Tokoh Senior Pariwisata Bali, Ida Bagus Ngurah Wijaya mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali pemanfaatan energi panas bumi (Geothermal) sebagai sumber energi bersih dan ramah lingkungan.
Oleh karena, geothermal dinilai menjadi salah satu aset terbesar Indonesia, khususnya Bali.
Bahkan negara di dunia yang menggunakan energi panas bumi (geothermal) untuk listrik meliputi Amerika Serikat, Indonesia, dan Filipina. Indonesia masuk dalam urutan kedua.
Geothermal terdapat sekitar 30 negara lebih yang memanfaatkan energi ramah lingkungan tersebut.
Amerika Serikat menjadi produsen terbesar di dunia dengan kapasitas sekitar 3.953 MW, berpusat di wilayah California (The Geysers)
Sedangkan Indonesia menduduki peringkat kedua terbesar di dunia dengan kapasitas mencapai 2.742 MW yang tersebar di pulau Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.
Selanjutnya, Filipina memiliki kapasitas sekitar 2.034 MW dari sejumlah kompleks lapangan panas bumi di wilayahnya.
Turki berkembang pesat dengan kapasitas sekitar 1.797 MW di kawasan tektonik aktifnya.
Selandia Baru juga memanfaatkan energi panas bumi hingga 1.037 MW lebih.
Negara Meksiko, Kenya, Italia, Islandia, dan Jepang yang juga masuk dalam 10 besar dunia.
Menurutnya, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, meski Bali memiliki kondisi geografis yang mendukung pengembangan Geothermal.
Ngurah Wijaya menjelaskan bahwa Geothermal bukanlah gas, melainkan uap air yang berasal dari dalam bumi. Indonesia, kata dia, memiliki potensi panas bumi terbesar karena berada di kawasan dengan banyak gunung berapi.
Geothermal merupakan hal yang umum dan hemat biaya dibandingkan dengan tenaga gas atau angin.
Sumur-sumur yang dibor ke dalam batuan bersinggungan dengan reservoir hidrotermal, dan air yang sangat panas yang dibawa ke permukaan menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik, dan digunakan untuk pemanasan atau industri.
"Itu kalau tidak salah ya, terbesar di Indonesia dimana-mana dan banyak juga ada di Jepang, Filipina banyak, New Zealand banyak dan juga Eropa banyak sekali, di mana gunung berapi, di sana paling banyak dan kita ini paling kaya dengan gunung berapi khan di hampir semua pulau di Bali ini, di Indonesia ini ada gunung berapinya," kata Tokoh Senior Pariwisata Bali, Ida Bagus Ngurah Wijaya, saat diwawancarai awak media di Denpasar, Rabu (28/7).
Ngurah Wijaya menyebutkan sumber panas bumi berada jauh di bawah permukaan tanah. Sebagai contoh, potensi Geothermal di Bedugul disebut berada pada kedalaman sekitar 2.700 meter, lebih dalam dari ketinggian wilayah Bedugul yang berada di kisaran 1.500 meter di atas permukaan laut.
Menurut Ngurah Wijaya, air yang dimanfaatkan dalam sistem Geothermal berasal dari bawah permukaan bumi dan terus mengalami siklus pemanasan secara alami.
Keberadaan lapisan batuan penutup (cap rock) yang tebal di kawasan Bedugul juga dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga sistem panas bumi tersebut.
Ngurah Wijaya juga mengungkapkan bahwa teknologi Geothermal pertama kali berkembang di Italia pada abad ke-19 sebelum diterapkan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Hingga saat ini, potensi panas bumi juga tersebar di sejumlah daerah, seperti Pulau Jawa dan Sumbawa dengan kapasitas yang berbeda-beda.
Ngurah Wijaya mencontohkan daerah di Indonesia yang menggunakan energi panas bumi (Geothermal) untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) mencakup beberapa wilayah utama, antara lain Jawa Barat, Sumatera Utara, dan Sulawesi Utara.
Sebaran Daerah Pengguna GeothermalJawa Barat: Kabupaten Bandung (Kamojang, Wayang Windu, Patuha), Kabupaten Garut (Darajat), dan Kabupaten Bogor/Sukabumi (Gunung Salak), Sumatera Utara: Kabupaten Mandailing Natal (Sorik Marapi) dan Kabupaten Karo (Sibayak), Lampung: Kabupaten Tanggamus (Ulubelu), Jawa Tengah: Kabupaten Wonosobo (Dieng), Sulawesi Utara: Kabupaten Minahasa dan Kota Tomohon (Lahendong), Nusa Tenggara Timur: Kabupaten Manggarai (Ulumbu) dan Kabupaten Ende (Sokoria).
"Banyak Geothermal di Indonesia ini di Jawa banyak, di Sumbawa banyak. Banyaklah cuma ada yang sumbernya besar dan ada yang sumbernya kecil, tergantung dari aliran air," kata Ngurah Wijaya.
Ngurah Wijaya turut menyinggung perkembangan proyek Geothermal di Indonesia yang sempat berkembang pada masa Presiden Soeharto, namun kemudian terhenti saat krisis moneter akibat kebijakan yang berkaitan dengan IMF.
Ngurah Wijaya mencontohkan proyek Geothermal di Bedugul, Kabupaten Tabanan, yang pernah dikelola sebagai salah satu dari tiga perusahaan milik California Energy, Amerika Serikat.
Setelah proyek tersebut dihentikan, perusahaan disebut memperoleh kompensasi, sementara dirinya pernah diminta untuk mengambil alih pengelolaannya.
Menurutnya, penghentian pemanfaatan Geothermal di Bali merupakan hal yang patut disayangkan, karena daerah ini memiliki sumber energi yang bersih, berkelanjutan, dan berasal dari potensi alam sendiri.
"Geothermal adalah paling terbersih dan berhentinya akan berjalan terus. Ya, jika fosil itu tergantung dari pihak luar, tapi kalau Geothermal milik kita sendiri. Teman-teman Bali mesti memanfaatkan sebaik mungkin," pungkasnya. (GAB/WIG)