Buleleng (Atnews) - Indonesia tampil sebagai juara umum kategori senior pada 10 th World Cup Woodball Championship 2026 di Perlis, Malaysia, setelah memborong empat medali emas, dua medali perak, dan satu medali perunggu.
Di balik sukses tersebut, terdapat kontribusi atlet asal Buleleng, I Gede Prabawa Mapet Darma Nugraha, yang memperkuat tim peraih medali emas nomor Fairway Competition Men's Team.
Kejuaraan dunia yang berlangsung pada 24-30 Juli 2026 itu menjadi panggung pembuktian Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama woodball dunia. Prabawa bersama Eka Candra Aprilyanto, Moh. Habibullah, Fachri Husaini, Erif Nurachmad Satrio Mulya, dan Ahmad Yopi Solpianda sukses mempersembahkan medali emas pada nomor beregu putra setelah melewati pertandingan sengit melawan tuan rumah Malaysia.
Selain emas dari nomor Fairway Competition Men's Team, Indonesia juga meraih tiga medali emas lainnya melalui Moh. Habibullah pada nomor Stroke Competition Men Single, pasangan Moh. Habibullah/Ahmad Yopi Solpianda pada nomor Fairway Competition Men Double, serta pasangan Bibit Setyaningati/Ika Yulianingsih pada nomor Fairway Competition Women Double.
Dominasi Merah Putih juga berlanjut di kategori remaja. Pasangan Zukhfura Jasminne Verinda dan Leandra Aliyyah Dahayu berhasil mempersembahkan medali emas pada nomor Youth Competition Girls Double.
Sementara itu, dua medali perak diraih melalui Ika Yulianingsih di nomor Stroke Competition Women Single dan pasangan Nur'izza Nova Mindayati/June C. Ardiningrum pada nomor Fairway Competition Women Double.
Adapun satu medali perunggu dipersembahkan tim Stroke Competition Women Team yang diperkuat Laily Aprilya Maulidiana, Nur'izza Nova Mindayati, June C. Ardiningrum, Dwi Tiga Putri, Ika Yulianingsih, dan Bibit Setyaningati.
Dikonfirmasi Minggu (2/8), Prabawa mengaku bangga dapat menjadi bagian dari tim Indonesia yang mampu membawa pulang gelar juara umum. Menurutnya, tampil di ajang Piala Dunia memberikan banyak pengalaman baru, tidak hanya dari sisi teknik, tetapi juga mental bertanding.
"Kesannya sangat menyenangkan. Banyak hal baru yang saya dapat di World Cup Malaysia, seperti belajar menahan emosi, siap bermain di luar jadwal, menghadapi kondisi cuaca yang tiba-tiba hujan, dan bertemu dengan orang-orang dari seluruh dunia," ujarnya.
Prabawa mengakui perjuangan menuju podium tertinggi tidaklah mudah. Minimnya waktu untuk mencoba lapangan, padatnya jadwal pertandingan hingga malam hari, serta cuaca yang berubah-ubah menjadi tantangan yang harus dihadapi seluruh atlet.
"Kendalanya waktu mencoba lapangan sangat minim. Waktu istirahat juga sangat sedikit karena pertandingan bisa sampai pukul delapan malam. Belum lagi cuaca yang tiba-tiba berubah menjadi hujan badai," katanya.
Namun, dari seluruh pertandingan yang dijalani, partai final melawan Malaysia menjadi pengalaman paling berkesan. Saat itu Indonesia sempat tertinggal 0-2, sebelum akhirnya bangkit dan membalikkan keadaan menjadi 3-2 untuk memastikan medali emas nomor Fairway Competition Men's Team.
"Pengalaman yang paling berharga adalah mampu mengembalikan keadaan saat final melawan tuan rumah Malaysia. Kami sempat tertinggal 0-2, tetapi akhirnya menang 3-2. Itu menjadi pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan," ungkapnya.
Menurut Prabawa, kemenangan tersebut menjadi bukti bahwa di level dunia kemampuan teknik saja tidak cukup. Mental bertanding, kekompakan tim, dan kemampuan mengendalikan emosi menjadi faktor penting dalam meraih kemenangan.
Ia pun berpesan kepada atlet-atlet muda, khususnya di Buleleng, agar tidak pernah berhenti berlatih jika ingin berprestasi.
"Selalu luangkan waktu untuk berlatih. Jangan membuat banyak alasan agar tidak bisa berlatih, tetapi yakinkan diri untuk bisa latihan di mana pun dan kapan pun," pesannya.
Setelah sukses di Malaysia, Prabawa kini mengalihkan fokus untuk menghadapi Indonesia Open yang akan digelar di Jimbaran, Bali.
Sementara itu, Ketua Pengkab Indonesia Woodball Association (IWbA) Buleleng, Sang Made Fernanda Iragraha, mengapresiasi keberhasilan Prabawa menjadi bagian dari tim juara dunia.
Menurutnya, capaian tersebut membuktikan atlet hasil pembinaan Buleleng mampu bersaing di level internasional.
"Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi Buleleng dan diharapkan menjadi motivasi bagi atlet-atlet muda untuk terus berlatih serta berani bermimpi tampil membela Indonesia di ajang dunia," ujarnya.
Keberhasilan Prabawa Mapet memperkuat tim peraih medali emas sekaligus mengantar Indonesia menjadi juara umum Piala Dunia Woodball 2026 menjadi bukti bahwa atlet Buleleng mampu memberikan kontribusi nyata bagi prestasi olahraga Indonesia di tingkat internasional.
Dengan usia yang masih produktif, peluang Prabawa untuk terus mengharumkan nama daerah dan Merah Putih di berbagai kejuaraan dunia masih terbuka lebar.
"Mapet menjadi bukti, jika atlet Buleleng banyak memiliki potensi bahkan tingkat Internasional," katanya. (WAN/002)