Denpasar (Atnews) - Yayasan Sabha Budaya Bali semula bernama Yayasan Sabha Budaya Hindu Bali, didirikan tahun 2005 berpusat di Denpasar. Ketua Umum Yayasan Sabha Budaya Bali, Dr. Drs. I Gusti Made Ngurah, M.Si ketika dihubungi Atnews, Sabtu (1/08/2026) menjelaskan, tujuan utama pendirian Yayasan merupakan pengabdian dalam membina masyarakat Hindu Bali dalam bidang Adat, Budaya dan Agama Hindu. Mengingat pembinaan umat Hindu di Bali sangat menurun sejak tahun 2001.
Yayasan kata mantan Kakanwil Depag Provinsi Bali ini, memiliki pengurus lengkap yang terdiri dari welaka dan pembina/ penasehat Yayasan oleh para sulinggih saat sekarang ada 25 sulinggih sebagai pembina Yayasan.
Lebih lanjut dikatakannya, lima tahun sesudah yayasan berjalan, dibentuklah Sabha Purohita Yayasan yang terdiri dari para sulinggih pembina yayasan dimaksud.
Adapun sasaran pembinaan adalah masyarakat adat atau komunitas umat Hindu dilakukan dengan tatap muka langsung dengan mendatangi masyarakat. Yayasan sudah turun ke beberapa Desa Adat seperti Ke Bayung Gede, Blandingan, Sangggem, Segehe, Grokgak, Klandis, Gilimanuk, Nusa Lembongan dan lain-lain tersebar di Provinsi Bali.
Disamping pembinaan langsung tatap muka juga dilakukan melalui siaran RRI terjadwal, siaran Televisi sewaktu-waktu. Disampig itu juga pembinaan melalu brosor hari suci agama (Nyepi, Siwaratri, dan Saraswati, serta Galungan), juga mengadakan buku saku seperti Dasar-dasar Wariga, Kidung Yadnya, pedoman do'a sehari-hari, sor singgih basa Bali, dll. "Masyarakat yg diberi pembinaan sangat antusias menerimanya", ujarnya.
Keseriusan yayasan ini dalam membina umat ( c/q Umat Hindu di Bali-red) juga ditunjukkan dalam rapat Pengurus Yayasan Sabha Budaya Bali, Jumat (31/07/2026) yang bertempat di Sekretariat FKUB. Provinsi Bali di Denpasar.
Rapat sekitar tiga jam dikaitkan dengan menyongsong HUT. Yayasan Sabha Budaya Bali ke-21, sekaligus HUT. Sabha Purohita ke-16 itu menghasilkan beberapa keputusan dirangkum oleh Sekretaris Yayasan Sabha Budaya Bali, Drs. I Gd Nurjaya, M.M. antara lain: menekankan pentingnya melaksanakan konsolidasi organisasi yang diserahkan kepada pengurus.
Revitalisasi kegiatan yayasan juga diserahkan kepada pengurus diantaranya agar membuat pedoman tari-tari Wali, kemudian juga melakukan sosialisasi hubungan adat, budaya dan agama.
Dalam rapat tersebut juga menyepakati pembentukan panitia HUT. yang sudah mendapatkan persetujuan dari Ketua Pembina Yayasan, Ida Pedanda Gede Putra Bajing.
Tentang pelaksanaan Nyepi, Yayasan Sabha Budaya Bali menilai sudah final (harga mati) tidak ada pembahasan lagi, yakni pelaksanaan tawur pada Tilem Kesanga, kemudian esok harinya pada 'penanggal apisan' Nyepi Sipeng.
Untuk pelaksanaan Nyepi tahun 2027 yang jatuhnya bersamaan dengan Hari Raya Idul Fitri, Yayasan Sabha Budaya Bali sepakat akan membuat suatu kajian soal itu. Dan ke depannya rapat akan diupayakan setidaknya setiap dua atau tiga bulan sekali.
Selain itu juga merencanakan untuk melakukan audiensi ke Danrem 163/ WSA. Pada kesempatan ini juga dilaksanakan penyerahan dana punia dari Kt. Rai Arya sebesar, Rp 8.000.000,-
Hasil kesepakatan dalam rapat ini juga berdasarkan usul saran peserta rapat diantaranya dari Ketua Pembina Yayasan Ida Pedanda Gede Putra Bajing, Ida Pedanda Gede Putra Kekeran, Ida Rsi Agung Wayabya Suprabu Sogata Karang, Prof. Dr. I Wayan Dibya, Wayan Artha Dipa, dan Nyoman Lastra S.Pd.M.Ag. Mereka adalah dari unsur pembina , pengawas & pengurus Yayasan Sabha Budaya Bali.
Pada rapat tersebut Ketua Umum Yayasan Sabha Budaya Bali, Dr. Drs. I Gusti Made Ngurah, M.Si mengawalinya dengan laporan kegiatan Yayasan Tahun 2025 terdiri atas 5 (lima) poin diantaranya : Penandatanganan MOU dengan MDA Prov. Bali (31/01/2025).
Mengadakan Paruman Madya tgl.13/09/2025 di Pasramsn Windu (Grian Ida Pedanda Gede Putra Kekeran) membahas peristiwa Kadurmanggalan Jagat Banjir Bandang di Pasar Badung. Melaksanakan Upacara Padufusan Alit di Pura Penataran Agung Besakih (30/09/2025) sehubungan Banjir Bandang di Pasar Badung-Denpasar, 10 September 2025.
Kegiatan Yayasan Tahun 2026 ada beberapa poin diantaranya: Penyerahan Buku Upedesa dan Sat Kerti Loka Bali kepada MDA. Provinsi Bali, selanjutnya bersama-sama mendistribusikan buku je MDA Kab./ Kota yang disaksikan oleh pejabat di Kab. seperti Klungkung dilaksanakan di Pura Kentel Gumi
disaksikan langsung oleh Bupatinya.
Sedangkan di Tabanan disaksikan oleh Wakil Bupatinya. Kemudian lobby-lobby ke berbagai pihak, betapa pentingnya ada pengabdian dari Yayasan ini yang berkaitan dengan Adat dan Budaya Bali yang dijiwai oleh Agama Hindu.
Sementara rencana untuk program tahun 2027 tercatat ada 8 (delapan) poin antara lain: Pembinaan Masyarakat Adat/ Umat Hindu pada 4 (empat) Desa di daerah kritis (ideologi, sosial budaya & geografis).
Mencetak brosur Adat, Budaya dan Agama untuk punia pada Umat saat piodalan di Pura Kahyanga Jagat. Kemudian juga berencana melaksanakan paruman khusus (Februari 2027) pergantian pengurus Yayasan periode: 2027 - 2032, serta juga berencana membuka Pelayanan Masyarakat yang bersifat konsultasi dan Pembinaan tentang adat, seni, budaya dan Agama Hindu.
Kembali bicara soal pelaksanaan peringatan HUT XXI Yayasan Sabha Budaya Bali dari hasil kesepakatan pada rapat tersebut, akan dilaksanakan 25/08/2026 di Pura Kahyangan Jagat Kentel Gimi Banjarangkan Klungkung.(IBM/002)