Menyiapkan generasi di semua bidang itu hal yang wajar. Orangtuanya Pengusaha lalu anaknya dididik usaha, orangtuanya dokter anaknya diarahkan menjadi Dokter. Bapaknya terjun ke politik lalu anaknya diajak ke politik. Jadi hal yang biasa saja. Keluarga Kennedy, keluarga Nehru, Gandhi, Marcos dan lainnya bagian dari sisi politisi keluarga berlanjut.
Yang harus dibedakan adalah prosesnya. Apakah nepotisme nya yang diutamakan atau memang disiapkan secara baik dengan perencanaan yang matang. Hari ini Jokowi sedang dibidik karena safari membantu anaknya yang memimpin sebagai Ketum PSI.
Di sisi lain, Mega dengan anaknya telah berjalan lama, SBY dengan dua putranya juga sudah berjalan. Belum lagi Amien Rais, Surya Paloh, Zulkifli Hasan, Aidis Kadir, dan lainnya.
Di tingkat lokal Bali ada Giri Prasta, Gede Dana, Agus Mahayastra, Winasa dan lainnya. Apakah itu nepotisme atau regenerasi, maka publik menilainya.
Lalu hal yang sama juga dibidikkan ke diri Saya yang juga terjun ke politik. Maka Sampai sekarang anak saya belum ada terjun ke politik praktis. Tetapi Saya juga tidak melarang atau menghambatnya jika ada bakatnya. Tetapi Saya tidak mau membangun nepotisme tetapi menyiapkan regenerasi.
Misalnya dari empat anak saya semua saya ajak diskusi tentang kondisi negara dan daerah mereka dalam konteks kebijakan publik. Yang tertarik ternyata dua, anak Sulung dan Bungsu yang intens menyoroti masalah - masalah publik dan berdiskusi dengan Saya.
Melihat potensinya, yang sulung saya suruh mengembara dulu dengan kuliah ke Russia, menguasai bahasa asing (Inggris, Russia aktif dan Korea pasif) dan aktif di organisasi kemahasiswaan di luar negeri.
Setelah tamat saya suruh cari kerja sendiri dengan segala kesulitannya sendiri tanpa sedikitpun saya campur tangan. Lalu setelah itu kini muncul idenya mau berangkat kuliah ke luar negeri lagi, ya saya tidak halangi. Biarkan berproses.
Sementara yang bungsu tampaknya sejak dini sudah membaca ketertarikannya. Kuliah di Fisip Unair dan FH UT sekaligus, lalu aktif di BEM Fakultas, ikut OKP KMHDI di Surabaya dan bangun relasi dengan ke kekuasaan politik lokal secara berdikari. Ikut demo mahasiswa, lakukan pembinaan umat dan kegiatan lainnya.
Bahkan Dia memilih KKN ke Malaysia dan ditunjuk oleh teman - temannya lintas fakultas sebagai koordinator, selain pernah ikut pertemuan pemuda dunia di Sochi Russia dengan usaha sendiri. Sejak SMP dan SMA di Jakarta selalu dipilih temannya di organisasi siswa. Bakatnya sejak SMP sudah muncul.
Dia juga bilang ingin kuliah lanjutan S2 dimana mendekatkan antara ilmu hukum dan sosial politik yang kini dipelajarinya.
Sebagai orangtua saya dorong saja keinginan mereka sendiri. Biar menempa dirinya sesuai dengan alur yang diinginkan. Kalau kelak dia memang pantas ya itu karena menempa diri baik pendidikan maupun aktivitas organisasi.
Apakah kelak ikut terjun ke politik atau malah ke Advokat atau malah yang lainnya biar mereka menentukan sendiri. Tidak ada ilmu aji mumpung untuk mereka berdua. Tetapi kalau menyiapkan diri agar kualitasnya meningkat akan selalu sebagai orangtua Saya mendukungnya.
Bagi saya, nepotisme itu memanfaatkan kekuasaan yang kebetulan dimiliki, lalu si anak dipaksakan untuk mewarisi kekuasaan lama yang dimiliki orangtuanya. Si anak walau secara kompetensi belum.siap tetapi dipaksakan karena ada aji mumpung.
Sementara regenerasi lebih pada penyiapan anak agar jika dikemudian hari mengikuti jejak memiliki kualitas yang tidak memalukan orangtuanya karena telah melewati proses kematangan diri lewat mekanisme yang benar.
Jika sekarang muncul perdebatan apakah keluarga tertentu itu melanggengkan kekuasaan dengan Nepotisme atau justru menyiapkan Regenerasi bisa dinilai sendiri sendiri. Lihat dari prosesnya.