Badung (Atnews) - Ida Pedanda Gde Oka Telabah, 80 tahun, yang didiksa pada 16 Agustus 2008, menerima Piagam Penghargaan dari Ketua Umum Monumen Perjuangan Bangsal, Dr. Bagus Ngurah Putu Arhana, SpA(K). Penyerahan piagam berlangsung di Pasraman Geria Telabah, Kuta, pada 28 Juni 2026.
Penghargaan diberikan dalam rangka Mengenang Delapan Dasa Warsa Puncak Pertemuan Rahasia Perjuangan Bawah Tanah Perang Kemerdekaan Republik Indonesia di Bali, 16 Agustus 1945. Dalam piagam ditegaskan, “Bangsal adalah embrio perjuangan kemerdekaan di Bali”.
Dari Seniman Lukis ke Pedanda
Penganugerahan ini memiliki catatan khusus. Sebelum ber-Dwijati, beliau bernama Ida Bagus Danendra dan dikenal sebagai seniman lukis. Jejak seninya dimulai sejak 1970 melalui lukisan topeng Punta Kartala. Perjalanan spiritual tersebut kemudian mengantarkannya menjadi seorang Pedanda.
Nabe beliau adalah Ida Pedanda Istri Ketut Punia dari Geria Pidada, Klungkung.
Jejak Leluhur di Bangsal 1945
Selain itu, leluhur beliau tercatat ikut dalam pertemuan belasan para pendeta dan tokoh pada 15 Agustus 1945 di ruang suci Monumen Perjuangan Bangsal. Pertemuan malam itu menjadi salah satu rantai penting menjelang Proklamasi Kemerdekaan.
Sehari setelahnya, 16 Agustus 1945, tiga puluh pemuda berkumpul di rumah yang sama dan mengumandangkan “Merdeka”, sehari sebelum Proklamasi dibacakan di Jakarta.
Karya Spiritual dan Kehadiran Keluarga
Lima tahun setelah didiksa, Ida Pedanda Gde Oka Telabah menyucikan Patung Dewi Gayatri di Taman Shiva Loka, kawasan Monumen Perjuangan Bangsal.
Pada acara penganugerahan tersebut, beliau didampingi istri, Ida Pedanda Istri Praba. Tampak hadir pula perwakilan Keluarga Besar Geria Telabah Denpasar, Ir. Ida Ayu Diah Widhiasrini, owner Puri Sekar Tunjung Florist.
Piagam ditandatangani oleh Dr. Bagus Ngurah Putu Arhana, SpA(K) selaku Ketua Umum Monumen Perjuangan Bangsal, dan Bagus Ngurah Rai, BA., SH., MBA., MM selaku Ketua DHD Angkatan 45 Provinsi Bali.
Monumen Perjuangan Bangsal menilai penghargaan ini sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh yang merawat nilai perjuangan, budaya, dan spiritualitas secara berkesinambungan. (KRS/002)