Lawar Leadership
Banner Bawah

Lawar Leadership

Admin 2 - atnews

2026-06-22
Bagikan :
Dokumentasi dari - Lawar Leadership
Ketut Budiasa (ist/atnews)
Oleh Ketut Budiasa

Bicara teori kepemimpinan tidak melulu membuat kening berkerut karena berat dan sulit dipahami. Ada kalanya ia mengalir saja seperti membuat adonan lawar. Ada bumbu “base genep” yang menggabungkan berbagai komponen bumbu (jahe, kencur, lengkuas, bawang merah, bawang putih, kemiri, cabe, garam, dan terasi), sayur dan daging. 

Lawar yang enak justru yang mengandung berbagai unsur rasa yang diramu dalam bumbu base genep itu. Tentu dibutuhkan keahlian mengatur takaran, agar tidak ada yg berlebih atau sebaliknya agar tak ada usur yang kurang. Bila berlebih akan membuat lawar terasa menyengat, atau bila ada yang kurang akan membuat lawar terasa “nyem lalah”.

Kepemimpinan juga seperti itu. Ia adalah seni meramu berbagai potensi. Kepemimpinan harus mampu menghadirkan visi yang memberi arah dan membangkitkan nilai yang memberi rasa. Tanpa itu setiap individu hanya menjadi mesin yang giat mengejar tujuan namun kering dalam kehidupan utuhnya sebagai manusia.

“Lawar Leadership” adalah diksi baru dalam kepemimpinan yang berani mengangkat budaya lokal menjadi nilai2 yang menginspirasi bagaimana kepemimpinan yang tidak hanya efektif mencapai tujuan organisasi tetapi juga menghadirkan nilai yang hidup. 

Setidaknya, itulah yang saya tangkap sekilas dari bedah buku “Lawar Leadership” yang ditulis oleh trio tokoh yang 2 diantaranya saya kenal baik: Arya Amitaba adalah senior di KMHDI yang kini menjadi Direktur Utama BPR Kanti, dan KS Arsana adalah senior yang sudah malang melintang di berbagai organisasi sosial maupun organisasi profit dimana kami seringkali bekerjasama.

Terlepas dari bagaimana “teori baru” ini memiliki implikasi dalam praktek kepemimpinan, saya merasa bangga dan salut dengan ketiga penulis yang telah mengangkat budaya lokal menjadi teori kepemimpinan modern. Bukankah nilai segala sesuatu tergantung dari kemampuan kita untuk memaknainya? 

Bagi saya, cinta yang tulus dan luar biasa pada budaya lokal tidak hanya cukup dipelihara dalam kata2. Meramu dan merealisasikannya dalam kehidupan dan membawanya ke dalam puncak peradaban — salah satunya dengan menjadikannya inspirasi keilmuan — adalah wujud cinta yang paripurna.

*) Sekum PH PHDI Pusat, Ketut Budiasa

Baca Artikel Menarik Lainnya : Bulan Bahasa Bali Diawali Festival Nyurat Lontar dengan Seribu Peserta

Terpopuler

Kemenangan Dharma atas Adharma Tidak Sebatas Slogan, Merta: Adat dan Budaya Bali Bisa Bertahan Sepanjang Masih Ada Tanah

Kemenangan Dharma atas Adharma Tidak Sebatas Slogan, Merta: Adat dan Budaya Bali Bisa Bertahan Sepanjang Masih Ada Tanah

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

Penguatan Desa Budaya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Unwar Gelar PKM di Desa Sukawati 

Penguatan Desa Budaya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Unwar Gelar PKM di Desa Sukawati 

Stan PKB 2026 Digratiskan, Putri Koster Pastikan Tidak Ada Pungli Bagi Pedagang

Stan PKB 2026 Digratiskan, Putri Koster Pastikan Tidak Ada Pungli Bagi Pedagang

Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Berkeadilan

Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Berkeadilan