Tabanan (Atnews) – Jatiluwih Festival kembali hadir di Kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan. Event yang memasuki tahun ke-7 ini resmi dibuka langsung Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, didampingi Ketua Panitia yang juga Manajer DTW Jatiluwih, John K. Purna, pada Sabtu (20/6).
Pelaksanaan festival tahunan ini membawa makna filosofis mendalam sebagai simbol tujuan dan keberhasilan bagi perkembangan kawasan. Lebih dari sekadar pesta rakyat, festival ini dirancang sebagai ruang strategis untuk menggerakkan ekonomi lokal secara menyeluruh, mulai dari sektor pertanian, kuliner tradisional, UMKM, hingga panggung bagi para seniman daerah.
“Festival ini bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi ruang promosi budaya, kuliner tradisional, UMKM, pertanian, dan seluruh potensi lokal yang melibatkan masyarakat secara langsung,” ujar Bupati Sanjaya.
Di hadapan para undangan, Bupati Sanjaya mengingatkan bahwa Jatiluwih adalah potret nyata peradaban agraris Bali yang dihidupi oleh sistem Subak berasaskan Tri Hita Karana (THK). Sistem tata kelola air yang berkeadilan dari hulu ke hilir inilah yang membuat UNESCO menetapkan Lanskap Budaya Provinsi Bali sebagai Warisan Budaya Dunia pada 2012 silam.
“Kalau sawah, hampir semua daerah punya. Tetapi sistem tata kelola air seperti Subak inilah yang menjadi keunggulan Bali dan diakui dunia,” paparnya.
Kabupaten Tabanan sejatinya dianugerahi kekayaan alam yang utuh lewat konsep Nyegara Gunung (perpaduan gunung, danau, sungai, hingga laut) yang menciptakan kesuburan tanah. Kendati pariwisata Jatiluwih terus berkembang pesat, Pemkab Tabanan berkomitmen membentengi kawasan ini dari ancaman alih fungsi lahan pertanian agar keseimbangan tetap terjaga.
Melaluinya festival ini, perputaran ekonomi diharapkan tidak hanya dinikmati oleh pelaku wisata modern, tetapi juga menyentuh UMKM lokal masyarakat sekitar.
“Festival seperti ini menggerakkan ekonomi masyarakat secara menyeluruh. Seniman mendapat ruang berkarya, UMKM berkembang, produk pertanian memiliki nilai tambah, dan masyarakat merasakan manfaat langsung dari pariwisata,” tambah Sanjaya.
Ia pun menegaskan bahwa predikat Tabanan sebagai lumbung pangan Bali tidak boleh bergeser. “Pertanian adalah fondasi utama Kabupaten Tabanan, sedangkan pariwisata merupakan bonus yang harus dikelola dengan tetap menjaga keberlanjutan alam dan budaya,” tegasnya.
Gelaran tahun ini terasa kian istimewa. Untuk pertama kalinya, Jatiluwih Festival berhasil menembus daftar prestisius Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata RI.
Ketua Panitia sekaligus Manajer DTW Jatiluwih, John K. Purna, menyatakan bahwa tema festival tahun ini mencerminkan komitmen kuat masyarakat dalam menjaga pariwisata agar tetap berjalan selaras dengan kelestarian alam dan tradisi.
Menurutnya, Jatiluwih Festival telah bertransformasi menjadi agenda penting dalam pelestarian budaya, penguatan ekonomi, sekaligus promosi pariwisata berkelanjutan.
"Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Pemerintah Kabupaten Tabanan, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sehingga Jatiluwih Festival tahun ini dapat menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara," terang John Purna.
Pencapaian ini melengkapi rentetan penghargaan internasional yang diraih Jatiluwih. Setelah menyandang status Warisan Dunia UNESCO (2012), Jatiluwih berturut-turut meraih Best Tourism Village by UN Tourism (2024), masuk Top 100 Green Destination (2025), dan teranyar menyabet penghargaan Leading UNESCO Culture Landscape Tourism Destination dalam ajang Asian Tourism and Hospitality Awards 2026 di Kuala Lumpur.
John menegaskan, kesuksesan ini adalah buah kerja kolektif dari petani, pengelola Subak, pemerintah, hingga pelaku pariwisata.
Selama festival berlangsung yakni 20-21 Juni 2026, pengunjung disuguhkan perpaduan festival alam dan budaya, pameran UMKM, hingga produk turunan pertanian unggulan seperti beras merah khas Jatiluwih yang menjadi daya tarik utama wisatawan. (SUK/002)