Oleh Jro Gde Sudibya
Agama Hindu, nama komprehensifnya Sanatana Dharma, Aliran Kebenaran yang Abadi, melingkupi Alam Raya yang menyesap ke seluruh Alam Raya terlebih-lebih pada insan-insan manusia yang pada hakekatnya suci nan mulia.
Kebenaran, Dharma menjadi bagian hakiki manusia, menjadi alasan keberadaan, raison d'etre manusia di Alam Fana yang maya ini.
Tetapi realitasnya, manusia terjerumus dalam Ketidak-benaran, Adharma, karena keakuan, keinginan tanpa batas, kesombongan dari kehidupan yang melekat.
Banyak orang, terlebih-lebih penguasa mungkin di bawah sadarnya menganggap penting Dharma, tetapi karena karakter yang rapuh, memanipulasi Dharma, kebenaran menjadi "kebenaran" palsu, melalui pencitraan, manipulasi informasi sampai ke ancaman.
Dalam konteks Bali, menyebut saja "kebenaran" palsu ini, pertama, investasi akan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Tetapi dalam faktanya, investasi hasil kolusi pengusaha-penguasa, "boro-boro" meningkatkan kesejahteraan rakyat, yang terjadi "Gumi Bali benyah latig", masyarakat lokal terpinggirkan dan terjadi degradasi budaya.
Kedua, bantuan penguasa ke Desa Pakraman akan membuat krama Desa Pakraman sejahtera.
Faktanya kemampuan ungkit dari bantuan ini sangat terbatas, terjadi salah arah penggunaan, membuat Desa Pakraman tidak mandiri dan semakin tergantung kepada kekuasaan.
Ketergantungan dalam perspektif budaya Bali merupakan sebuah kemunduran budaya, menurunnya harga diri, karena sekarang sekadar "menengadahkan" tangan, bersemi sub kultur "ngidih-ngidih", peminta-minta.
Sebuah kemunduran tajam dalam ethos kerja manusia Bali. Ketiga, minum Arak plus Kopi meningkatkan energi kerja, tetapi dalam faktanya sejarah kemiskinan di Bali berakar dari sikap pemabuk, penjudi dan tingkah laku "belog ajum".
Kombinasi telak dari prilaku ini, membuat kemiskinan menjadi akut, berkepanjangan, akibat dari kemiskinan struktural dan kemudian kultural.
Struktural, sistem ekonomi politik yang membuat kelompok bawah nyaris tidak bisa naik kelas secara sosial. Kultural, budaya miskin semakin mengakar, malas, pesimis, takut menghadapi tantangan. Jangan-jangan model kemiskinan ini tetap dipelihara untuk keberlanjutan kekuasaan dengan cara murah membeli suara pemilih?.
Raina Galungan, secara normatif kemenangan Dharma terhadap Adharma, sehingga tantangannya, keberanian krama Bali melawan "kebenaran" palsu di atas.
Rahajeng nyanggra raina Galungan lan Kuningan.
Rahayu.
*) Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan.