Denpasar (Atnews) - Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII di depan Monumen Puputan Bajra Sandi Denpasar, Sabtu 13 Juni 2026.
Peed Aya yang dimulai tepat pada pukul 14.00 WITA ini, turut dihadiri oleh Gubernur Bali Wayan Koster, Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Enik Ermawati (Ni Luh Puspa), Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Indonesia, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, Irjen Kemendagri, Sang Made Mahendra Jaya dan Istri, Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, Prof. I Nengah Duija, Ketua DPRD Bali, Dewa Made Mahayadnya, Wakil Ketua I DPRD Bali Wayan Disel Astawa, Sekretaris Daerah Bali, Dewa Made Indra dan Forkopimda provinsi Bali.
Pada kesempatan itu, Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, Prof. I Nengah Duija mengatakan, sebuah narasi ringan tetapi cukup berat pemaknaanya hingga kini dan di masa depan.
Seorang Intelektual, Budayawan dan Agamawan I Gusti Bagus Sugriwa (1952), mengatakan bahwa "Agama Hindu dan kesenian Bali dalam berbagai cabang tidak bisa dipisahkan, kedua saling terikat satu sama lain, jika kesenian Bali hilang maka agama Hindu akan punah, jika Agama Hindu punah demikian sebaliknya kesenian Bali pun akan paramasatya hilang juga".
"Betapa dalam dan berat makna narasi ini, jika betul- kita renungkan dalam perjalanan panjang Pesta Kesenian Bali," kata Prof. Duija.
Dua entitas penopang kokoh eksistensi Bali hingga saat ini, sudah selayaknya mendapat apresiasi semua komponen penjaga kedua modal ini.
Mengutip apa yg dikatakan filsuf Leo Tolstoy "bahwa hanya seni yang bisa menghilangkan kebuasan hidup manusia", tautan nilai seni dan nilai agama Hindu ini sesungguhnya esensi narasi dibangun I Gusti Bagus Sugriwa, bahwa tubuh agama adalah seni dan roh seni adalah agama.
Sebuah konsepsi teologi kebudayaan menurut Paul Tillich, sungguh jika rohnya rapuh maka tubuhnya bercerai-berai, jika tubuhnya tdk kokoh maka rohnya tidak stabil.
PKB sebagai senyawa apik seni bukan untuk seni, tapi seni untuk masyarakat, entitas ini lahir dari great tradition (seni istana) dan litle traditon (seni rakyat), namun berpadu menopang rohnya secara berkelanjutan.
Pertanyaanya apakah seni sebuah kebenaran, Dasgupta mengatakan seni bukan kebenaran itu sendiri, tetapi seni membeberkan bagaimana sesungguhnya kebenaran itu terjadi.
Seni bukan meniru kehidupan, tetapi seni menjelaskan bagaimana seharusnya kehidupan yang sesungguhnya harus dilakukan.
Seni akan berkembang seiring dengan perkembangan pemikiran dan imajinasi manusia itu sendiri, karena seni adalah ranah kebudayaan. Pertanyaanya adalah apakah nilai seni ya g hakiki akan tergerus?
Tetapi yakinlah bahwa seberapapun terjadi kreasi dalam seni, pakem nilai agama masih tersirat dalam setiap aktivitas seni.
Sepanjang dalam memori manusia Bali masih terkristal nilai dasar seni berbasis Hindu, maka sepanjang itu juga seni tidak tergerus, sebuah keyakinan sungguh sangat esensial agar seni dan agama Hindu saling bertumbuh dalam setiap gen manusia Bali.
"Persoalanya sekarang kemampuan kita menangkap simbol yang tersaji dalam peristiwa seni itu, yakni suara, getaran, benda, warna, bentuk, gerak, ekspresi, tekstuaklitasnya dll, mari kita cerna seni itu jauh lebih ke relung hati paling dalam," pungkasnya. (ART/002)