Oleh Wayan Supadno
Artikel singkat ini penting buat anak muda Indonesia yang punya target memiliki perusahaan berkelanjutan. Usaha dirintis untuk diwariskan ke putra putri dan masyarakatnya.
Indikasinya banyak karyawan, membayar pajak besar, lokomotif perekonomian, menyerap hasil penelitian dijadikan inovasi, jadi kebanggaan masyarakat dan peran lainnya.
Kisah ini penuh ilmu hikmah cara membangun karakter dan kapasitas untuk keberlanjutan perusahaannya. Karena sadar perusahaannya tempat banyak keluarga mengais rezeki.
1). Kegagalan karena karakter dan kapasitas.
Di Indonesia jumlah peminat jadi pengusaha, start up, terbanyak di Asean. Bahkan mengalahkan Jerman, Perancis dan negara maju lainnya. Sayangnya 95% gagal total. Bagai bunga layu, sebelum berkembang.
Sebab utamanya karena gagal karakternya, tidak amanah terhadap kepercayaan investor. Mau menipu, termasuk saya berulang kali tertipu oleh para start up tersebut. Misal membuat laporan keuangan palsu.
Kapasitasnya juga belum mumpuni, masih tahap hafal teori akademik. Belum punya pengalaman panjang jatuh bangun. Belum banyak praktiknya. Misal leadership, menjaga cashflow dan lainnya.
2). Kesuksesan karena karakter dan kapasitas.
Seorang perintis bisnis punya kebun sudah puluhan tahun silam. Sangat bagus. Karena sadar itu semua terbangun karena kerja kerasnya tim, bukan karena dirinya semata. Ratusan karyawan, dimanusiakan.
Tiap kali ke kebun, yang dikunjungi pertama rumah-rumah karyawannya, kebersihan diperhatikan. Ditanya kesehatan keluarga, sekolah anak dan lainnya. Memberi uang saku ke anaknya penuh sayang.
Karakternya nampak jelas terpercaya, serius prioritas pertama soal disiplin jadwal gajian dan membayar kewajiban lainnya. Kapasitas leadershipnya nyata mampu menggerakkan pekerjanya,terus semangat.
Yang paling menonjol selalu berjiwa adaptif dengan inovasi terbaru. Karena sadar hanya cara itu bisa menekan harga pokok produksi (HPP) agar kompetitif lalu berkelanjutan usahanya, turun temurun.
Jika laba sangat sehat, parsial dibagikan ke pekerjanya, insentif namanya. Karena ekosistem usaha telah terbentuk, ditinggal santaipun usaha tetap sibuk produktif, ditinggal jalan-jalanpun usaha tetap jalan langkah tegap. (*)