Denpasar (Atnews) - Ekonom Jro Gde Sudibya yang juga Pengamat Ekonomi mempertanyakan terobosan dalam mengembangkan pariwisata Bali Berkelanjutan dalam multi krisis yang sedang menimpa Pulau Dewata.
Bali tengah menghadapi krisis sampah, kemacetan kota nyaris kongesti, tingginya angka kriminalitas, dengan penegakan hukum lingkungan antara ada dan tiada.
"Krisis alam Bali yang super dashyat, menyebut saja 98,500 ha DAS Tukad Ayung tinggal 1,500 ha kawasan hutan. DAS yang lain 'setali tiga uang', DAS Tukad Pakerisan, Telaga Waja DAS lainnya," kata Jro Gde Sudibya yang juga Alumni FE UI di Denpasar, Sabtu (9/5).
Selain itu, empat danau lingkungannya rusak parah, bahkan Gunung Tampurhyang nyaris rusak total, sekitar 30 persen kawasan konservasi di pinggang Gunung ditebang.
Menurut sistem keyakinan Hindu, Bali sebagai Padma Bhuwana, lingga Tuhan Vishnu. Kerusakan alam Bali nyaris tidak terpulihkan, sekarang pengambil kebijakan mewacanakan pariwisata berkelanjutan. "Sekadar 'omon-omon' atau ilusi fatamorgana," bebernya.
Ia juga menyoroti Pansus TRAP DPRD Bali terus bergerak menemukan indikasi pelanggaran, sedangkan tupoksinya pengawasan kebijakan, eksekusi ada di eksekutif. Kenapa eksekutif tidak bergerak, tidak kompeten atau terjadi conflict of interest?.
"Bali auto pilot, nyaris tanpa pemimpin, leaderless society. Contoh: krisis sampah, kemacetan lalulintas nyaris kongesti, guminya 'benyah latig' tanpa program penyelamatan," ungkapnya.
Sebelumnya, Ketua Umum Bali Villa Rental and Management Association (BVRMA) Kadek Adnyana menilai perkembangan jumlah akomodasi di Bali peningkatan signifikan dan cenderung tidak terkendali.
Bahkan sejumlah kasus, pembangunan telah merambah kawasan jalur hijau serta area yang seharusnya tidak diperuntukkan bagi pembangunan.
Fenomena itu menjadi perhatian serius bagi pelaku industri pariwisata dan pemangku kepentingan di Bali.
Berdasarkan temuan di lapangan, jumlah akomodasi yang terdaftar di berbagai platform online travel agent (OTA) mencapai angka yang sangat besar.
Namun, angka tersebut perlu dipahami secara lebih kritis. Estimasi sekitar ±370.000 listing tidak sepenuhnya merepresentasikan jumlah vila murni, melainkan figur yang mencakup jumlah kamar dari berbagai jenis akomodasi seperti hotel, homestay, guesthouse, apartemen, hingga kamar kos.
Selain itu, terjadi duplikasi listing dalam skala besar. "Satu properti dapat muncul di beberapa platform OTA, bahkan dalam satu platform yang sama dapat didaftarkan berkali-kali," kata Adnyana dalam rangka menyiapkan Forum Bali Villa Connect 2026 di Denpasar, Jumat (24/4).
Sementara itu, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelar sosialisasi Wonderful Indonesia Award (WIA) 2026 kategori Pejuang Pariwisata atau Local Hero in Tourism sebagai langkah strategis untuk menjaring sosok-sosok inspiratif penggerak pariwisata daerah yang telah memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan pariwisata berkelanjutan.
Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenpar, Martini Mohamad Paham, di Jakarta, Kamis (7/5/2026) mengatakan kegiatan yang berlangsung beberapa waktu lalu ini untuk mendorong peran aktif masyarakat dalam transformasi pariwisata Indonesia yang berkualitas dan berkelanjutan.
“Pembangunan pariwisata tidak hanya berfokus pada pengembangan destinasi, tetapi juga pada penguatan manusia sebagai aktor utama. Melalui Wonderful Indonesia Award kategori Pejuang Pariwisata, kami mendorong lahirnya penggerak-penggerak lokal yang mampu menciptakan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan sekaligus memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di tingkat global,” kata Martini.
Sosialisasi yang dilaksanakan secara daring tersebut diikuti dinas pariwisata provinsi, kabupaten, dan kota, serta perwakilan akademisi, asosiasi, NGO, BUMN, dan lembaga swasta sebagai calon pengusul kandidat. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman teknis sekaligus menyamakan persepsi terkait mekanisme, kriteria penilaian, dan tahapan seleksi WIA 2026 kategori Pejuang Pariwisata.
Menurut Martini, keberhasilan pembangunan pariwisata sangat ditentukan oleh kekuatan aktor di tingkat akar rumput. Karena itu, kategori Pejuang Pariwisata atau Local Hero in Tourism menjadi langkah strategis untuk mengidentifikasi dan memperkuat individu-individu yang berperan sebagai penggerak, penghubung, sekaligus katalis dalam pengembangan destinasi.
Penghargaan kategori Pejuang Pariwisata juga diharapkan menjadi instrumen untuk mengidentifikasi, mendokumentasikan, dan mengangkat praktik-praktik baik dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan yang selama ini belum banyak terekspos ke publik.
“Keberadaan mereka menjadi faktor penting dalam memastikan program pariwisata dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” kata Martini.
Sementara itu, Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas Masyarakat Kemenpar, Ika Kusuma Permana Sari, menjelaskan penyelenggaraan WIA tahun ini menghadirkan sejumlah penyempurnaan sebagai hasil evaluasi dari pelaksanaan sebelumnya.
“Penyesuaian dilakukan untuk memperkuat transparansi, objektivitas, dan akuntabilitas dalam seluruh tahapan proses, mulai dari pengusulan hingga penilaian. Kami juga mendorong partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan dalam mengusulkan kandidat terbaik dari masing-masing daerah,” kata Ika.
Kementerian Pariwisata mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berperan aktif dalam menjaring pejuang pariwisata inspiratif dari berbagai daerah di Indonesia. Para pejuang pariwisata yang terpilih nantinya diharapkan mampu menjadi motor penggerak pembangunan pariwisata yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing. (GAB/001)