Banner Bawah

IWFP 2026 Sambut Waisak Gemakan Perdamaian, 50 Bhikkhu Jalan Kaki dari Bali ke Candi Borobudur

Admin - atnews

2026-05-07
Bagikan :
Dokumentasi dari - IWFP 2026 Sambut Waisak Gemakan Perdamaian, 50 Bhikkhu Jalan Kaki dari Bali ke Candi Borobudur
Koordinator IWFP 2026 Wilayah Bali, Romo Sudiarta Indrajaya (Artaya/Atnews)

Denpasar (Atnews) - Kegiatan spiritual internasional Indonesia Walk For Peace (IWFP) 2026 dalam menyambut perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE yang diikuti sebanyak 50 bhikkhu dari Indonesia, Thailand, Laos, dan Malaysia.

Acara itu akan menjadi sejarah bangsa Indonesia dan semakin istimewa, oleh karena IWFP 2026 sebuah perjalanan panjang penuh makna yang dimulai dari Bali menuju Candi Borobudur.

Dijadwalkan berlangsung mulai 7 Mei hingga 5 Juni 2026, IWFP diharapkan menjadi magnet wisata religi internasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat harmoni dunia.

Di tengah dunia yang kerap diliputi konflik dan ketegangan, langkah kaki para bhikkhu ini menjadi pesan sunyi namun kuat bahwa perdamaian bisa dimulai dari perjalanan sederhana dari Bali, untuk Indonesia, dan untuk dunia.

Perjalanan spiritual yang akan diikuti 50 bhikkhu ini dimulai pada 9 Mei 2026 dari Brahmavihara Arama, Buleleng hingga tiba di Candi Borobudur pada 28 Mei 2026.

Sebelumnya, pada 7 Mei 2026, para bhikkhu dari Thailand dijadwalkan tiba di Bali dan menjalani rangkaian persiapan. Perjalanan kemudian resmi dimulai dua hari setelahnya, dengan rute panjang melintasi Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Empat Provinsi yang akan dilalui telah melakukan persiapan terbaik. Dengan koordinator empat provinsi yakni Bali (Romo Sudiarta); Jatim (Irwan Pontoh), Jateng dan DIY (Alex Chen)

Hal itu menjadi semangat perdamaian lintas batas kembali menggema dari Indonesia di tengah ketegangan global.

Tidak sekadar ritual keagamaan, IWFP 2026 menjadi simbol kuat persatuan, welas asih, dan harmoni antarumat manusia. Para bhikkhu yang terlibat memiliki latar belakang usia beragam, mulai dari 23 hingga 67 tahun, menegaskan bahwa semangat damai melampaui batas generasi.

Ketua Umum Panitia, Dr. Tosin S.H., M.H., menyatakan kegiatan ini membawa pesan universal yang relevan bagi dunia saat ini.

“Kegiatan ini bertujuan menyebarkan nilai perdamaian, cinta kasih, dan persaudaraan. Kehadiran para bhikkhu diharapkan memberi inspirasi dan kekuatan spiritual bagi masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator IWFP 2026 Wilayah Bali, Romo Sudiarta Indrajaya, menegaskan bahwa perjalanan ini bukan sekadar agenda keagamaan, melainkan momentum kebangsaan.

“Ini bukan hanya momen agama, ini momen Indonesia dari Bali, pesan damai akan disuarakan untuk dunia,” kata Romo Sudiarta ketika bertemu Manggala Utama Pasikian Pecalang Bali Brigjen Pol (Purn) Dewa Bagus Made Suharya di Denpasar, Rabu (6/5/2026).

Perjalanan spiritual ini akan menempuh jarak sekitar 500 kilometer selama 21 hari, melintasi berbagai daerah hingga mencapai puncaknya pada 28 Mei 2026 di kawasan suci Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Sewu. Rangkaian tersebut menjadi simbol kuat keterhubungan sejarah, budaya, dan spiritualitas Nusantara.

Romo Sudiarta juga menyinggung akar toleransi yang telah lama hidup di Bali, salah satunya tercermin di Pura Gamberang Layang, Buleleng.

Pura itu diyakini didirikan sekitar tahun 1260 atau abad ke-13, menjadikannya salah satu pura tertua di Bali Utara. Pura ini juga dipercaya berkaitan dengan masa pemerintahan Sri Maharaja Jaya Pangus.

Pura ini terkenal sebagai simbol kerukunan umat beragama dan etnik di Nusantara. Di dalamnya terdapat 8 pelinggih yang mewakili berbagai unsur, termasuk pelinggih Ratu Gede Dalam Mekah yang merepresentasikan hubungan spiritual dengan umat Muslim.

“Sejak ratusan tahun lalu, Bali sudah menunjukkan harmoni lintas keyakinan. Nilai ini yang ingin kita hidupkan kembali,” ujarnya.

Dukungan penuh datang dari berbagai elemen masyarakat, termasuk pecalang, Banser, serta aparat keamanan negara. Manggala Utama Pecalang Bali, Dewa Bagus Made Suharya, menegaskan kesiapan pihaknya mengawal perjalanan para bhikkhu dari titik awal hingga Pelabuhan Gilimanuk.

“Ini kebanggaan bagi Bali. Dari sinilah pesan damai dunia dimulai. Kami mengajak masyarakat untuk ikut menghormati perjalanan para bhikkhu, bahkan dengan hal sederhana seperti menyediakan air di sepanjang rute,” ungkapnya.

Dengan lebih dari 1.500 desa adat di Bali, keterlibatan pecalang menjadi kekuatan sosial yang signifikan dalam menjaga kelancaran kegiatan ini.

Hal senada disampaikan Ketua PW GP Ansor Bali, H. Tommy Reza Kurniawan. Ia menegaskan Banser akan turut mendukung sebagai wujud nyata toleransi dan kebersamaan lintas komunitas.

“Kami merasa terhormat bisa berjalan bersama pecalang. Ini bukan sekadar pengamanan, tetapi simbol persatuan masyarakat Bali,” ujarnya.

Selain itu, IWFP 2026 juga dinilai memiliki dampak strategis bagi citra pariwisata Indonesia. Ketua DPW Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Bali Agus Maha Usadha, menyebut kegiatan ini selaras dengan kebutuhan industri pariwisata global yang kini mengedepankan ketenangan dan keberlanjutan.

Acara itu sejalan denga tagline NCPI "Bali Spirit of the World". “Bali sebagai titik awal menunjukkan bahwa pariwisata tidak hanya soal destinasi, tetapi juga nilai. Spirit of peace dari Bali diharapkan menjadi cahaya bagi dunia,” katanya.

Apalagi kini tokoh agama dan adat sedang memperjuangkan Hari Raya Nyepi untuk diusulkan menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO.

Pada pembukaan dan pelepasan perjalanan kaki
IWFP 2026 Brahmavihara Arama, Buleleng akan mengundang  berbagai unsur pemerintahan, tokoh agama, hingga organisasi keagamaan.

Dari jajaran pemerintah pusat, hadir Wakil Menteri Agama RI Muhammad Syaifi serta Dirjen Bimas Buddha Kemenag RI Drs. Supriyadi, M.Pd.

Sementara dari pemerintah daerah, undangan meliputi Gubernur Bali Dr. Ir. Wayan Koster, M.M. dan Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG yang memberikan dukungan langsung terhadap kegiatan ini.

Dari unsur tokoh dan organisasi keagamaan, turut diundang Bhante Dhamavudho, Dr. Tosin, S.H., M.H., Romo I. B. Rahoela, Romo Sudiarta Indrajaya, Romo Wawan, Romo Irwan Pontoh, serta Romo Alex. Selain itu, perwakilan organisasi keagamaan nasional juga hadir, seperti Walubi yang diwakili DR. (H.C.) Dra. S. Hartati Murdaya dan Permabudhi oleh Prof. Dr. Philip K. Widjaja.

Kehadiran para undangan ini menjadi simbol kuat dukungan lintas sektor dalam menyukseskan misi perdamaian yang diusung Indonesia Walk For Peace 2026.

Rute Perjalanan IWFP 2026 di Bali 7-11 Mei 2026 yakni pada Hari Kamis, 7 Mei 2026, bhikkhu tiba di Bandara Ngurah Rai dari Krabi, Thailand. Selanjutnya melakukan Vihara Satya Dharma, Jl Tol Benoa, Taman Ayun untuk menerima persembahan minum dari Ida Cokorda Mengwi XIII lanjut menuju tempat bermalam di Bedugul, Tabanan.

Pada Hari Jumat, 8 Mei 2026 akan mengunjungi Pura Siwa Buddha (Tabanan), Candi Buddha Kalibukbuk lalu menuju tempat bermalam di Brahma Vihara Arama (BVA). Ditambah agenda Upacara Pemberkahan Rupam Buddha Parinibbana.

Pada Sabtu, 9 Mei 2026, acara Pelepasan oleh Wamen Agama - Bupati Buleleng - Start Jalan Damai. Diiringi Baleganjur. Makan Siang di Warung Citta, Tegallenge. Selanjutnya Jalan Menuju Warung Kenanga, Sanggalangit, bermalam Area Warung Kenanga.

Pada Hari Minggu, 10 Mei 2026, jalan menuju Matahari Beach Hotel Pemuteran lanjut menuju Pura Sakti, Pejarakan. Berikutnya jalan Menuju Vihara Empu Astapaka, Gilimanuk.


Hari Senin, 11 Mei 2026, acara Pelepasan oleh Bupati Jembrana menuju Kapal Laut - Banyuwangi (diiringi Jegog - Barongsai Naga - Baleganjur).

Di tengah Laut Para Bhikkhu menguncarkan Parita - Pelimpahan Jasa - pengiring Tabur Bunga, demi Keselamatan, Kesejahteraan dan Kedamaian semua mahluk.

Setelah tiba di Ketapang - menuju TITD. TIK LIONG TIAN, Ronggo Jampi - Acara Serah Terima dari Koordinator Bali kepada Koordinator Jatim.

Memasuki Jawa Timur, perjalanan berlanjut ke Pasuruan, Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto, hingga Jombang dan Nganjuk, dengan berbagai titik singgah di vihara dan kelenteng.

Di Surabaya, rombongan juga akan mengunjungi Balai Kota serta Gereja Katedral Hati Kudus. Kemudian, pada Minggu, 17 Mei 2026, mereka dijadwalkan akan mengunjungi Mahavihara Mojopahit, Trowulan, Mojokerto.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Jawa Tengah melalui Ngawi dan Sragen, sebelum tiba di Solo untuk mengikuti Kirab Waisak dan kegiatan budaya di Pura Mangkunegaran.

Memasuki Yogyakarta, para bhikkhu dijadwalkan bertemu Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, serta mengunjungi sejumlah titik seperti Prambanan dan Pakualaman. Kemudian berlanjut ke Muntilan sebelum akhirnya mencapai kawasan Borobudur pada 28 Mei 2026 melalui Vihara Mendut. (GAB/ART/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Imlek 2019 Wujudkan Keharmonisan

Terpopuler

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

BTID Terima Kunker Komisi VII DPR RI, Tak Hadiri RDP Pansus TRAP DPRD Bali Bahas Tukar Guling Tanah Mangrove

BTID Terima Kunker Komisi VII DPR RI, Tak Hadiri RDP Pansus TRAP DPRD Bali Bahas Tukar Guling Tanah Mangrove

Wali Kota Denpasar Jaya Negara Hadiri Pemelaspasan Bale Kulkul Banjar Panti Gede, Pemecutan Kaja

Wali Kota Denpasar Jaya Negara Hadiri Pemelaspasan Bale Kulkul Banjar Panti Gede, Pemecutan Kaja

Kuliner Pilihan, KEK Kura Kura Bali Gelar Kembali Island Bazaar Edisi Kedua

Kuliner Pilihan, KEK Kura Kura Bali Gelar Kembali Island Bazaar Edisi Kedua