Banner Bawah

Krisis Kesadaran Global: Perang Iran dan Pembakaran Sampah di Bali

Admin 2 - atnews

2026-04-29
Bagikan :
Dokumentasi dari - Krisis Kesadaran Global: Perang Iran dan Pembakaran Sampah di Bali
Dr Ketut Suardana (ist/atnews)

Olen Dr Ketut Suardana

“Yatra hi dvaitam iva bhavati, tad itara itaram paśyati…”
(Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad)

“Ketika ada dualitas, manusia melihat yang lain sebagai ‘yang lain’…”

Dua Wajah Api Zaman
Dunia modern sedang berada dalam paradoks yang dalam.

Di satu sisi, manusia mencapai kemajuan teknologi yang luar biasa; di sisi lain, ia justru semakin kehilangan arah dalam memaknai keberadaannya.

Dua peristiwa kontemporer dapat menjadi cermin dari kondisi ini: konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah dan krisis lingkungan di Bali.

Yang satu adalah api yang meledak, dan satu lagi adalah api yang membara diam-diam.

Namun keduanya memiliki akar yang sama: Yaitu krisis kesadaran manusia terhadap hubungan dirinya dengan sesama, dengan alam, dan dengan Yang Ilahi.

Perang dan Lingkungan: 
Adalah Dua Manifestasi Krisis yang Sama;  Perang sering dipahami sebagai konflik antar negara, ideologi, atau kepentingan ekonomi, namun secara lebih mendalam, perang adalah manifestasi dari keterpisahan (separation), ketakutan (fear) dan dominasi (control).

Dalam hal  ini, “yang lain” dilihat sebagai ancaman yang harus dikalahkan.

Tetapi dalam krisis lingkungan adalah bentuk konflik yang lebih halus. Ia tidak menampilkan musuh yang jelas, tetapi tetap melibatkan hubungan yang rusak antara manusia dan alam.

Dalam konteks Bali, praktik pembakaran sampah secara masif mencerminkan keterputusan ekologis, kebiasaan tanpa refleksi, modernitas tanpa kesadaran.

Dengan demikian, perang dan krisis lingkungan bukanlah dua fenomena yang terpisah, melainkan dua ekspresi dari satu realitas yang sama, dimana manusia kehilangan kesadaran akan kesatuan.
 
Lensa yang utuh untuk memahami kedua krisis ini.

1. Kesadaran
Manusia modern cenderung hidup dalam kesadaran fragmatis. Ia mengetahui banyak hal, tetapi tidak memahami makna terdalam dari pengetahuannya.
Akibatnya tindakan tidak mempertimbangkan dampak jangka panjang, keputusan diambil tanpa kebijaksanaan batin

2. Rasa (Empati) yang Menipis
Rasa adalah kemampuan untuk merasakan keterhubungan, dan ketika Rasa melemah: manusia tidak lagi merasakan penderitaan orang lain juga alam tidak akan lagi dianggap sebagai bagian dari diri. 

Dalam kondisi ini, kekerasan mungkin akan terjadi baik terhadap manusia maupun lingkungan.

3. Tindakan yang Tidak Terarah
Energy  tindakan tanpa Kesadaran dan Rasa menjadi  destruktif. Contoh dalam perang menjadi agresi. Dalam lingkungan menjadi eksploitasi. 

Bali: Antara Filsafat dan Realitas
Bali memiliki warisan filosofis yang mendalam, terutama dalam konsep Tri Hita Karana, yang menekankan harmoni antara Manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamadan manusia dengan alam

Namun dalam praktik modern, nilai ini sering mengalami reduksi menjadi simbol budaya tanpa penghayatan eksistensial.

Krisis sampah pembakaran di Bali bukan sekadar persoalan teknis, melainkan krisis implementasi nilai, krisis pendidikan kesadaran, krisis integrasi antara tradisi dan modernitas.

Dengan kata lain, Bali tidak kekurangan filosofi, tetapi kekurangan internalisasi filosofi.

Mediator, pendamai antara butuh dan tidak dalam kondisi eksternal vs internal.

Dalam konflik geopolitik, dunia membutuhkan mediator eksternal negara atau institusi yang mampu menjembatani dialog.

Namun dalam konflik antara manusia dan alam, tidak ada mediator eksternal yang cukup.

Pendamaian harus terjadi pada tingkat:
1. Individu, kesadaran pribadi, perubahan gaya hidup, tanggung jawab ekologis

2. Sosial, pendidikan berbasis nilai, regulasi yang berkeadilan, penguatan komunitas adat

3. Spiritual, pemulihan hub sakral dengan alam,  lpraktik spiritual yang hidup, bukan simbolik

Menuju Dunia Tanpa Perang
“Tanpa perang” bukanlah kondisi tanpa konflik, melainkan kondisi di mana konflik tidak lagi diselesaikan melalui penghancuran.

Dunia tanpa perang adalah dunia di mana perbedaan menjadi ruang dialog dan kekuatan menjadi sarana perlindungan, bukan dominasi serta tindakan berakar pada kesadaran dan empati.

Api sebagai Simbol Transformasi
Api dalam tradisi spiritual tidak selalu bermakna destruktif. Ia juga merupakan simbol pemurnian (purification), transformasi (transformation) dan pencerahan (illumination)

Dengan demikian, tantangan manusia bukanlah memadamkan api, melainkan mengubah arah api: dari penghancuran menuju penerangan, dari konflik menuju kesadaran dan dari ego menuju harmoni.

Kesimpulan: 
Kebangkitan Kesadaran adalah sebagai Jalan Damai.
Krisis global saat ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan politik, ekonomi, atau teknologi.
Ia membutuhkan transformasi yang lebih mendasar transformasi kesadaran manusia.

Perdamaian sejati tidak lahir dari perjanjian, melainkan dari manusia dari menyadari kesatuan eksistensi, merasakan keterhubungan universal dan bertindak dgn kebijaksanaan.

Ketika manusia berhenti melihat “yang lain” sebagai ancaman, dan mulai melihatnya sebagai bagian dari dirinya, maka perang dalam bentuk apa pun akan kehilangan pijakannya.

Walaupun pada saat itu, dunia tidak sepenuhnya bebas dari konflik, tetapi ia akan menemukan cara untuk hidup tanpa perang dan lingkungan bersih tanpa pembakaran sampah. Tingkatkan Kesadaran, kemukakan Rasa dan realisasinya memanfaatkan teknologi secara sadar dan kebijasanaan. (*)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Tak Ada Niat Hapus Sejarah, Koster Tegaskan Komitmen Perkuat LPD

Terpopuler

Makan Siang, De Gadjah - Koster Bahas Sampah, PSEL hingga Sekolah Rakyat

Makan Siang, De Gadjah - Koster Bahas Sampah, PSEL hingga Sekolah Rakyat

Pasca Segel BTID, Bandesa Adat Pariatha Nilai Aksi Dukungan Pansus TRAP Mengatasnamakan 'Warga Serangan', Curigai Benturkan dengan Investor

Pasca Segel BTID, Bandesa Adat Pariatha Nilai Aksi Dukungan Pansus TRAP Mengatasnamakan 'Warga Serangan', Curigai Benturkan dengan Investor

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Carut-Marut Sampah

Carut-Marut Sampah

Penutupan Festasada 2026, Tunjukkan Kolaborasi Seni Budaya Kearifan Lokal

Penutupan Festasada 2026, Tunjukkan Kolaborasi Seni Budaya Kearifan Lokal

Dharma Santi Nasional 2026; Hindu Indonesia Gaungkan 'Vasudhaiva Kutumbakam', Perkuat Harmoni Bangsa dan Umat Manusia

Dharma Santi Nasional 2026; Hindu Indonesia Gaungkan 'Vasudhaiva Kutumbakam', Perkuat Harmoni Bangsa dan Umat Manusia