Tumpek Landep: Menajamkan Pikiran di Tengah Zaman yang Tumpul Bukan Sekadar Upacara Untuk Besi, Tapi Pengingat agar Manusia Tak Melukai Sesama
Admin 2 - atnews
2026-04-17
Bagikan :
Tumpek Landep (ist/atnews)
Bangsal Gaji (Atnews) - Tumpek Landep yang jatuh pada Sabtu (12/4) kembali mengingatkan umat Hindu di Bali pada satu hal: ketajaman yang paling penting bukan di ujung keris, melainkan di dalam kepala.
Tumpek Landep, yang datang setiap 210 hari sekali pada Saniscara Kliwon Wuku Landep, secara harfiah berarti "tajam". Dahulu, pemujaan ditujukan pada senjata pusaka warisan leluhur seperti keris, tombak, dan pedang sebagai simbol kewibawaan serta perlindungan. Kini, maknanya meluas. Motor, mobil, komputer, bahkan mesin pabrik ikut diupacarai.
“Landep itu tajam. Tapi tajam yang dimaksud adalah pikiran,” ujar pemuka agama Hindu, Ratu Ida Pandita Mpu Swi Reksodamarjati Dipayana yang berdomisili di Solo, dalam perbincangan ringan di Monumen Perjuangan Bangsal belum lama ini. “Zaman boleh berubah, dari keris ke komputer. Tapi inti Tumpek Landep tetap sama: memohon kepada Ida Sang Hyang Pasupati agar kita diberi ketajaman akal budi, bukan ketajaman untuk menyakiti.”
Filosofi Tiga Ketajaman
Secara filosofis, Tumpek Landep mengajarkan tiga hal. Pertama, menajamkan pikiran. Manusia diingatkan untuk terus belajar agar tidak tumpul menghadapi tantangan zaman. Kedua, mensyukuri teknologi sebagai anugerah. Besi, mesin, dan gawai adalah alat netral. Tangan dan pikiran manusialah yang menentukan arahnya. Ketiga, pengendalian diri. Sama seperti keris yang bisa melukai jika disalahgunakan, pikiran yang tajam tanpa dharma juga bisa menyakiti sesama.
Wakil DHD Angkatan 45 Provinsi Bali, Drs. Nengah Sukartha, menegaskan relevansi nilai itu bagi generasi sekarang. “Para pejuang dulu menajamkan bambu runcing untuk kemerdekaan. Sekarang kita menajamkan pikiran untuk mempertahankan kemerdekaan itu. Jangan sampai kita tajam ke luar, tapi tumpul ke dalam. Tajam kritik, tapi tumpul introspeksi,” katanya.
“Kalau dulu leluhur menajamkan keris untuk menjaga diri dari musuh, sekarang kita menajamkan pikiran untuk menjaga diri dari hoaks, ujaran kebencian, dan keserakahan,” lanjutnya.
Relevansi di Era Digital
Di era media sosial, makna Tumpek Landep justru makin relevan. Jempol yang mengetik di gawai bisa lebih tajam dari keris. Satu unggahan bisa membangun, bisa juga menghancurkan. Karena itu, upacara Tumpek Landep kini dimaknai sebagai momentum "me-reset" niat: bahwa setiap alat yang kita punya harus dipakai untuk kebaikan.
Prosesi Tumpek Landep ditutup dengan nunas tirta dan bija. Simbol bahwa setelah pikiran ditajamkan, ia harus dijernihkan dengan hati yang bersih.
Karena pada akhirnya, seperti kata orang tua: setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya. Masa Tumpek Landep ini adalah masa bagi kita untuk jadi orang yang tajam akalnya, lembut hatinya. (B.K/002)