Oleh GN Mahardika
Dalam perkembangan peradaban modern, persoalan sampah menjadi salah satu indikator paling nyata dari hubungan manusia dengan lingkungannya. Kota-kota besar di dunia dihadapkan pada dilema: bagaimana mengelola sisa konsumsi tanpa merusak keseimbangan ekologis. Dalam konteks ini, Singapura sering dipandang sebagai model keberhasilan—negara yang mampu mengubah sampah menjadi energi dan mengendalikan limbah dengan sistem yang presisi. Namun, di sisi lain, Bali menawarkan perspektif yang lebih tua dan filosofis melalui konsep pralina dan ajaran Tri Hita Karana. Pertanyaannya: dapatkah kedua pendekatan ini dipertemukan?
Singapura membangun sistem pengelolaan sampah berbasis teknologi tinggi, terutama melalui insinerasi (waste-to-energy). Sebagian besar sampah dibakar pada suhu tinggi untuk menghasilkan listrik, sementara residunya dikelola secara terkendali di pulau khusus. Dalam pendekatan ini, sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, melainkan sebagai sumber daya. Ini adalah bentuk transformasi—dari sesuatu yang tidak berguna menjadi energi yang menopang kehidupan kota. Secara esensial, ini adalah praktik pralina dalam bentuk modern: penghancuran yang menghasilkan kelahiran kembali.
Namun, pralina dalam kosmologi Bali tidak hanya berarti penghancuran fisik. Ia adalah bagian dari siklus kosmis yang menjaga keseimbangan antara penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan. Segala sesuatu yang tidak lagi selaras harus dikembalikan ke asalnya agar harmoni tetap terjaga.
Dalam konteks ini, sampah adalah simbol dari ketidakseimbangan—akumulasi dari konsumsi yang tidak terkendali. Maka, pengelolaan sampah bukan sekadar urusan teknis, melainkan tindakan kosmologis.
Ajaran Tri Hita Karana memberikan kerangka yang lebih utuh dalam memahami persoalan ini. Pertama, pada aspek palemahan (hubungan manusia dengan alam), pengelolaan sampah harus memastikan bahwa proses pralina tidak menciptakan kerusakan baru. Teknologi seperti insinerasi dapat menjadi solusi, tetapi harus dikontrol agar tidak mencemari udara atau merusak ekosistem.
Dalam hal ini, pendekatan Singapura menunjukkan bahwa penghancuran dapat dilakukan secara efisien tanpa mengorbankan lingkungan—sebuah pelajaran penting bagi Bali yang tengah menghadapi krisis sampah.
Kedua, pada aspek pawongan (hubungan antar manusia), keberhasilan sistem Singapura tidak lepas dari disiplin kolektif masyarakatnya. Sampah dikelola bukan hanya oleh pemerintah, tetapi oleh seluruh warga yang memahami peran mereka dalam menjaga kebersihan.
Dalam konteks Bali, nilai ini sebenarnya telah lama hidup dalam budaya gotong royong dan desa adat. Tantangannya adalah menghidupkan kembali kesadaran kolektif tersebut dalam menghadapi masalah modern.
Ketiga, pada aspek parhyangan (hubungan manusia dengan Tuhan), Bali memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh sistem teknokratis seperti Singapura: dimensi spiritual. Alam dipandang sebagai ruang sakral, bukan sekadar objek eksploitasi.
Oleh karena itu, pengelolaan sampah dapat dimaknai sebagai bagian dari yadnya—persembahan untuk menjaga kesucian ciptaan. Dalam perspektif ini, tindakan membuang sampah sembarangan bukan hanya kesalahan ekologis, tetapi juga pelanggaran spiritual.
Dengan demikian, pertemuan antara model Singapura dan filosofi Bali bukanlah sesuatu yang kontradiktif, melainkan saling melengkapi. Singapura menawarkan efisiensi, teknologi, dan sistem yang terukur. Bali menawarkan makna, kesadaran, dan harmoni kosmis.
Jika keduanya dipadukan, maka akan lahir sebuah pendekatan baru: pengelolaan sampah yang tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga selaras secara filosofis.
Dalam pendekatan ini, pralina tidak lagi dipahami sebagai sekadar pembakaran atau penghancuran, melainkan sebagai proses transformasi yang menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Sampah tidak hanya dihilangkan, tetapi dikembalikan ke siklus kehidupan dengan cara yang bijaksana. Inilah esensi dari pengelolaan sampah yang berkelanjutan: bukan hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga memulihkan harmoni semesta.
*) GN Mahardika, Warga Banjar Kertasari Panjer Denpasar