Banner Bawah

Saraswati, Veda, Mencerahkan Kebodohan

Admin 2 - atnews

2026-04-04
Bagikan :
Dokumentasi dari - Saraswati, Veda, Mencerahkan Kebodohan
Pengelana Global Putu Suasta (ist/atnews)

Denpasar (Atnews) - Pengelana Global Putu Suasta  Alumnus UGM dan Cornell University mengucapkan Hari Raya Suci Saraswati bagi umat Hindu di Indonesia (Nusantara) pada Hari Sabtu (4/4). 

Ilmu pengetahuan yang agung disimbolkan dalam wujud Dewi Saraswati. Perayaannya dilakukan setiap enam bulan sekali (dengan memakai perhitungan bulan Bali yang berumur 35 per bulan) dan jatuh setiap hari Sabtu (Saniscara). 

Sedangkan perayaan serupa "Saraswati Puja" di India (Bharat) yang dikenal sebagai Vasant Panchami, festival utama untuk memuja Dewi Ilmu Pengetahuan, Seni, dan Kebijaksanaan, yang jatuh pada hari kelima musim semi (Januari/Februari). Pada tahun ini jatuh pada Hari Jumat, 23 Januari 2026. 

Dirayakan meriah terutama di Benggala Barat, Assam, Bihar, dan Odisha, umat mengenakan pakaian kuning, meletakkan buku/alat musik di dekat patung untuk diberkati, serta mengadakan tradisi Hate Khori (menulis huruf pertama) bagi anak-anak. 

Masih dalam rangkaian hari Saraswati adalah Pagerwesi, jatuh pada hari Rabu. Semua umat di Bali, terutama pelajar, mahasiswa, guru/dosen dan kaum intelektual, merayakannya dengan khusuk dan kidmat. 

Semua buku dan bacaan lain pada hari itu didoakan (diupacarai dengan berbagai bunga yang disebut canang) dan dupa. Saraswati adalah perayaan untuk ilmu pengetahuan bagi orang Bali dengan memberi makna khusus pada pengupacaraan buku dan segala macam bacaan.

Saraswati (Sarasvatī) dalam bahasa Sanskerta adalah dewi pengetahuan, musik, seni, kebijaksanaan, dan pembelajaran Hindu. Dengan hal itu, perayaan Hari Saraswati di Indonesia, khususnya di Bali serentak dilaksanakan di sekolah - sekolah sebagi tempat pendidikan.

Bahkan, pendidikan dianggap sakral sejak dahulu, sebuah kutipan Sanskerta kuno mengatakan "Swagruhe Pujyate Murkhaha; Swagraame Pujyate Prabhuhu Swadeshe Pujyate Raja; Vidvaansarvatra Pujyate" artinya (Orang bodoh disembah di rumahnya. Seorang pemimpin disembah di kotanya. Seorang raja disembah di kerajaannya. Orang yang berilmu disembah di mana-mana). 

Sebagaimana diuraikan dalam Bhagavadgita 4.38. Di dunia ini, tiada sesuatupun yang semulia dan sesuci pengetahuan yang melampaui hal-hal duniawi. Pengetahuan seperti itu adalah buah matang dari segala kebatinan. Orang yang sudah ahli dalam latihan yoga menikmati pengetahuan ini dalam Diri-Nya setelah beberapa waktu.

Kebodohan menyebabkan ikatan dan pengetahuan menyebabkan pembebasan. 

Ditekankan dalam Bhagavadgita 4.38. Orang yang bodoh dan tidak percaya yang ragu-ragu tentang Kitab-kitab Suci yang diwahyukan, tidak akan mencapai kesadaran terhadap Tuhan Yang Maha Esa; melainkan mereka jatuh. Tidak ada kebahagiaan bagi orang yang ragu-ragu, baik di dunia ini maupun dalam penjelmaan yang akan datang.

Karena itu, keragu-raguan yang telah timbul dalam hatimu karena kebodohan harus dipotong dengan senjata pengetahuan. Wahai Bhārata, dengan bersenjatakan yoga, bangunlah dan bertempur. Hal itu ditekankan dalam Bhagavadgita 4.42.
 
Sedangkan dalam Ginada adalah jenis pupuh, tembang Bali yang tak lekang oleh waktu. Ia bukan saja indah di lagu, juga luhur dalam hal makna. Sebagai tembang pupuh, Ginada tidak sendiri. Ada jenis yang lain seperti pupuh Sinom, pupuh Pucung, pupuh Ginanti dan bebrerapa yang lain.

Semua punya cengkok irama yang tak sama, namun keluhuran maknanya setara. Pupuh menawarkan kekhasan irama, menawarkan kesyahduan dan kearifan makna yang terasa sangat lokal namun sesungguhnya—jika didalami secara literatif—ia bisa berlaku universal. 

Salah satu tembang Ginada yang sangat terkenal ialah bersangkutan dengan kerendahan hati dalam mencari tahu tentang ilmu pengetahuan, tentang mendalami arti diri dan kehidupan, tentang  menjauhi kesombongan. Tembang itu dibuka dengan: Ede ngaden awak bisa, dan diakhiri dengan: enu liu papelajahang.(jangan menganggap diri pintar, banyak yang perlu dipelajari di kehidupan ini) 

Generasi 60-an hingga 70-an di Bali sangat hapal dengan tembang Ginada tersebut. intinya, tembang tersebut menyuratkan kerendahan hati di depan keagungan ilmu pengetahuan dan karena itu jangan merasa sudah menguasai semuanya. 

Sementara rasa hormat orang Bali pada ilmu dengan memberi perhatian khusus pada buku tidaklah sendirian. Dunia juga memberi perhatian pada buku dengan menetapkah Hari Buku setiap 23 April. 

Di zaman Yunani, kesadaran pada teks sebagai medium pencatatan pemikiran-pemikiran para filsuf dan cendekia menjadi perhatian utama ketika itu. mereka meyakini pepatah Latin yang berbunyi verba volan scripta manent (yang diomongkan sirna, yang dicatat/ditulis abadi).

Demikian pula India yang meletakkan segala filsafat dan agamanya di jalan sastra. Maka, secara historis, kedudukan ilmu menjadi sangat penting dalam perjalanan sejarah umat manusia. 

Hal menakjubkan ialah bahwa orang Bali, yang sehari-hari dikenal sebagai petani, mempunyai kearifan juga memberi rasa hormat kepada ilmu pengetahuan dalam bentuk perayaan hari Saraswati. Hari yang agung untuk ilmu pengetahuan ini, bagi orang Bali, bukan sekadar menyangkut cakepan (buku dan bentuk bacaan lain), tetapi juga melibatkan ke dalamnya ialah relevansi moralitas dalam ilmu. Bagi cendikian Bali, ilmu pengetahuan bukan dipahami sekadar bangku sekolah dan keterampilan, melainkan lebih dalam dari sekadar itu.

Bagi manusia Bali, dasar ilmu pengetahuan ialah moralitas. Belajar dan bekerja dengan kemampuan keterampilan yang dipunyai (bertani, melukis, menggambar, keahlian arsitektur dan lain-lain) adalah pertama-tama untuk rasa bakti, bahagia, bersahaja. 

Secara sosiologis, hal itu terciri dari kehidupan orang Bali masa lalu. Tidak ada kesombongan sekalipun mereka menguasai beberapa keterampilan (melukis, undagi, menari, bermusik); tidak ada sikap yang berlebihan dalam pergaulanan antar mereka maupun kepada orang lain.

Keahlian dan keterampilan yang mereka miliki bukanlah segalanya, mereka merasa masih jauh dari yang dipujikan kepada mereka. Lirik awal dari pupuh Ginada: ede ngaden awak bisa, terlahir dari sikap manusia Bali ini. 

Inilah sesungguhnya bentuk kearifan yang paling indah dalam kedudukan manusia di depan ilmu pengetahuan. Dan leluhur orang Bali yang telah lama memahami hal ini. Mereka "mencatat" kearifan-kearifan itu dalam bentuk lagu, lontar dan literasi lisan, diwariskan dalam lagu tembang setiap malam atau upacara-upacara, menyimpan dalam lontar-lontar yang kelak dikaji para cendekia Bali, dituturkan dalam tradisi masatua (bercerita) oleh kakek/nenek sebelum anak-anak tidur.

Dan pupuh Ginada menutup kearifan itu dengan lirik: enu liu papelajahanang (masih banyak yang harus dipejalari). Keutamaan ilmu bagi orang Bali adalah bhakti, sebagai bentuk sujud tertinggi kepada Dewi Saraswati yang  merupakan manifestasi Tuhan dalam "Dewi Ilmu Segala Ilmu”.

Tetapi segala hal berubah. Tidak ada yang menetap kecuali yang tercatat. Hari Saraswati juga selalu tercatat dalam ingatan dan sekarang dalam kalender Bangbang Gde Rawi. 

Tetapi kita kini hanya sekadar merayakan hari Saraswati dan setelahnya kembali melangsungkan hidup dalam AI, era gadget, smartphone, laptop dan segala modernitas fisik. Tak ada yang salah karena hal itu sudah ada dan terjadi hari ini. Hanya sayang bahwa ada hal-hal yang disebut di atas "menjebak" kita untuk menjauhi daya kontemplasi, yang vital dalam mengejar ilmu pengetahuan dan mengabaikan ketahanan intelektual.

Ironis bahwa kecepatan  kemajuan teknologi informasi justru menjauhkan kita dari sikap gairah belajar, mematikan kuriositas akan pengetahuan, merenggangkan tata adab pergaulanan dan sikap mawas diri. 

Teknologi informasi yang menawarkan produk-produk seperti WhatsApp, facebook, twitter dan banyak lagi, merampas hampir seluruh waktu senggang dan kerja kita, melupakan dunia nyata dan mengutamakan dunia maya. Ini sesungguhnya kelengahan yang sangat fatal dan jika hal itu terus terjadi, maka generasi hari ini akan sulit diharapkan untuk dapat menjadi generasi harapan di masa mendatang. 

Sejumlah studi dari berbagai belahan negeri telah banyak menunjukkan hasil penelitiannya betapa  dunia maya itu menyihir dan cenderung membodohkan. 

Mereka tidak bisa lagi membagi waktu yang seimbang untuk kesenangan di dunia maya dari dunia nyata. Ilusi dunia maya demikian memabokkan dan merampas begitu banyak waktu belajar generasi muda khususnya. 

Dan jangan pula ditanya pengaruh-pengaruh "keberuntungan" ekonomi seperti Bali yang dimanjakan oleh kemakmuran turisme Bali. Maka sesungguhnya generasi muda Bali hari ini khususnya benar-benar sedang dihadapkan pada tantangan yang mengancam kualitas intelektual mereka nantinya, mengancam pula kutamaan adab yang telah tertanam dalam kearifan leluhur. 

Maka, gerakan spiritual Hari Saraswati bukan saja perlambang turunnya ilmu penghetahuan ke dunia,  melainkan juga semacam "teguran dari seorang Dewi Pengetahuan" tentang seberapa agung kita memperlakukan ilmu pengetahuan dalam hidup kita. 

Sudahkah ilmu kita pelajari dengan benar? Sudahkah pengetahuan memperbaiki cara kita berpikir? Sudahkah ilmu pengetahuan menuntun akal budi dan pekerti kita menjadi lebih baik ? 

Berbahagialah mereka yang merayakan Hari Saraswati dengan kesadaran baru untuk Maju, menjawab tantangan perubahan global. Secara tradisional dilakukan persembahyangan kidmat, namun juga tiada henti belajar dan menggali ilmu pengetahuan di  luar dan di dalam dirinya.

Ketika mereka berhasil melakukan hal itu, maka mereka pantas merayakan Pagerwesi, rangkaian dari Hari Saraswati yang secara filosofis dan spiritual berarti: ketahanan yang kuat dalam intelektual dan ketahanan yang indah dalam aspek kerohanian/spiritual. 

Disamping itu, pendidikan sungguh-sungguh diperhatian sejak era Rāmāyaṇa dan Mahābhārata yang merupakan epos utama peradaban India kuno yang masuk dalam Itihasa. 

Nilai dan pengaruh dari kedua epos itu memang cukup besar karena kedua epos ini memberi gambaran yang sangat jelas tentang peradaban India kuno yang sangat berkembang hingga saat ini. 

Beberapa pertapaan sangat populer di mana ribuan siswa berkumpul di sana untuk mempelajari Veda dan Śāstra lainnya. 

Hal itu pula dibuktikan peradaban Bharatavarsa (India) telah memiliki universitas tertua dan terbaik di dunia bernama Universitas Taxila (Takṣaśilā Viśvavidyālaya).

Takṣaśilā sebagai, universitas internasional pertama di dunia kuno (sekitar 400-500 SM hingga 550 M), dinamai berdasarkan “Kota Batu Potong Taksha” di India Utara kuno. 

Takshashila, atau lebih dikenal dengan Taxila, adalah lembaga pendidikan terbaik pada masanya. Itu berlanjut selama ratusan tahun di tanah umat Hindu.

Kampus itu didirikan sebagai pusat pendidikan dan pembelajaran Veda, agama dan sekuler. Sedangkan abad-abad awal Masehi, kota itu juga menjadi pusat keilmuan Buddhis yang terkemuka. 

Takshashila 2700 tahun yang lalu telah menawarkan kursus di lebih dari 64 bidang studi yang berbeda mulai dari bedah dan perdagangan hingga musik dan tari, dan dari filsafat dan Ayurveda hingga tata bahasa, politik, panahan, dan peperangan. 

Terlebih lagi, kursus diajarkan untuk menemukan harta karun dan mendekripsi pesan juga.

Apalagi proses penerimaannya juga cukup ketat dan murni berdasarkan prestasi. Dan, kompetisi ini akan diikuti oleh siswa yang memenuhi syarat di seluruh benua. Termasuk mereka juga harus menyelesaikan sekolah dasar dan berusia 16 tahun, sebelum mendaftar kursus di sini. Hal itu mirip seperti model pendidikan moderen sebelum masuk universitas.

Saat ini menurut Statista, peringkat pertama memiliki kampus terbanyak oleh India dengan total 5.349 universitas. Berikutnya Indonesia yang duduk di peringkat kedua dengan jumlah 3.277 universitas.

Lebih lanjut, Amerika Serikat menduduki posisi di bawah Indonesia dengan 3.180 buah universitas. Posisi keempat dipegang oleh China dengan total 2.495 universitas, disusul Brasil dengan 1.264 universitas, Meksiko dengan 1.139 universitas, dan Rusia dengan 1.010 universitas.

"Semoga simbol Saraswati terus - menerus memberi inspirasi bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan pencaharian pengetahuan baru untuk kemajuan dan kesejahteraan umat manusia," kata Putu Suasta yang juga salah satu Pendiri KMHDI dan Prajaniti di Denpasar, Sabtu (4/4).

Pada kesempatan itu, Suasta tidak lupa mengucapkan Hari Jumat Agung 2026 jatuh pada tanggal 3 April 2026. Perayaan itu sebagai hari libur nasional untuk memperingati penyaliban dan wafatnya Yesus Kristus di Bukit Kalvari, yang merupakan momen sakral penuh kasih, pengorbanan, dan penebusan dosa sebelum Minggu Paskah. Umat Kristiani merayakannya dengan ibadah khusus dan Jalan Salib

Jumat Agung adalah bagian dari Tri Hari Suci (Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci), yang memuncak pada kebangkitan Yesus di hari Minggu Paskah. 

Begitu juga, upacara karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) di Pura Agung Besakih, Karangasem pada Kamis (2/04/2026), bertepatan dengan Hari Purnama Kedasa.
            
Termasuk Hanuman Jayanti pada tahun 2026 telah dirayakan pada hari Kamis, 2 April 2026. Perayaan ini jatuh pada saat bulan purnama (Purnima Tithi) di bulan Hindu Chaitra, yang juga dikenal sebagai Hanuman Janmotsav.

Serta Ram Navami 2026 akan dirayakan pada Kamis, 26 Maret 2026. Festival ini memperingati kelahiran Shri Rama, inkarnasi ke-7 Dewa Wisnu, yang jatuh pada hari kesembilan (Navami) Shukla Paksha di bulan Chaitra menurut kalender Hindu. Umat Hindu merayakannya dengan doa, puasa, dan membaca Ramayana. 

Suasta juga mengingatkan agar umat Hindu semakin gemar belajar Veda, kebangkitan Sanatana Dharma ada dimana-mana. 

Veda berarti pengetahuan. Veda berasal dari wahyu Tuhan. Dan Veda sendiri mendefinisikan pengetahuan sebagai berikut, “kstra-ksetra jnayor jnanam yat taj jnanam, mengerti perbedaan antara badan jasmani (sketra) yang material dan sementara degan sang makhluk hidup (ksetra jnana) yang spiritual abadi, disebut pengetahuan” (Bhagavadgita. 13.3). Jadi pengetahuan Veda mencakup pengetahuan material dan spiritual.

Dalam Shri Vayu Purana,  “Pada yuga ini, putra Parashara—yang dimuliakan sebagai bagian dari Vishnu dan dikenal sebagai Dvaipayana, sang penakluk segala musuh—menjelma menjadi Shrila Vyasadeva. Atas dorongan Brahma, beliau mengemban tugas untuk mengklasifikasikan Veda. Shrila Vyasadeva menerima empat murid guna melestarikan dan melanjutkan ajaran Veda tersebut.” 

Veda menyatakan sebagai berikut, “Rg yajna samatharvas ca baratam pancaratrakan mula-ramayanam caiva Veda ity eva sabditah puranani ca yaniha vaisnavani vido viduh, Rg, Yajur, sama dan atharva – Veda, Mahabharata, Pancaratra dan juga kitab-kitab purana dan vaisnava tergolong pustaka suci Veda” (Bhavisya purana sebagaimana dikutip oleh Madhvacarya dalam ulasannya atas sloka Vedanta-sutra 2.1.6). 

Disamping keempat Veda (Rg, Yajur, Sama dan Atharva Veda). Kitab-kitab Itihasa (Mahabharata dan Ramayana) dan Purana. Veda mencakup pula kitab-kitab Upanisad yang berisi uraian pilosofis tentang Tuhan. 

Ringkasan seluruh Upanisad adalah Vedanta Sutra. Selain itu semua, Veda juga mencakup Vedanga, Vedanga adalah kitab-kitab penuntun mempelajari Veda dan terdiri dari 6 (enam) cabang pengetahuan yaitu: a. Siksa ( ilmu mengucapkan mantra-mantra Veda). B. Vyakarana (ilmu tata bahasa sansekerta). C. Nirukti (Kamus Veda), d. Canda (lagu/irama/tembang dalam sloka-sloka Veda). e. Jyotisha (ilmu astronomi dan kosmologi Veda) dan f. kalpa (tata cara melaksanakan ritual atau yajna).

Sedangkan upa-Veda adalah Veda pelengkap seperti : Ayur Veda (ilmu medis), Dhanur Veda (Ilmu senjata dan perang), Gandharva Veda (ilmu musik dan tari), dsb. Dan sebagai kitab Dharma-sastra (Manu-smrti, Garga-Samhita, Brahama-Samhita, Niti-Sastra, dsb).

Sementara itu, Sugi Lanus, Pembaca Manuskrip Lontar Bali dan Jawa Kuno yang juga Jurusan Sastra Bali Universitas Udayana dalam Catatan Harian Sugi Lanus pada tanggal 5 September 2025.

Ia mengatakan, Sungai Saraswati (Sárasvatī-nadī́ ) adalah sungai mitologis alam dewata, pertama kali disebutkan dalam Rigveda dan kemudian dalam teks-teks Weda lainnya dan teks pasca-Weda. Sungai ini memainkan peran penting dalam para penganut berbagai aliran pemikiran dan kepercayaan yang berbasis Weda.

RV 7.95.1-2, menggambarkan Saraswati mengalir ke ‘samudra’. Dewi Sarawasti disebutkan dalam banyak pujian (himne) dalam Rigveda, dan ada tiga himne yang didedikasikan untuknya (6:61 secara eksklusif, dan 7:95–96 yang ia disebutkan bersama Sarasvant). Dalam Rigveda 2.41.16 ia disebut: "Ibu terbaik, sungai terbaik, dewi terbaik".

Dalam Mandala (bagian buku) 10 (10.17) dari Rigveda, Saraswati dirayakan sebagai dewi penyembuhan dan pemurnian air. Dalam Atharva Veda perannya sebagai penyembuh dan pemberi kehidupan lebih dipertegas. Dalam berbagai sumber, termasuk Yajur Veda, Saraswasti digambarkan telah menyembuhkan Indra setelah dia minum terlalu banyak Soma.

Dewi Saraswati dalam Rig Weda disebutkan sebagai Dewi yang memberikan kekuatan pikiran dan wicara. *Pikiran tajam jernih dan mulia adalah ‘dhi’. Wicara halus teratur dan luhur adalah bermuara pada ‘vac’. Saraswati sebagai Dewi mengatur dan pemberkah ‘dhī’ (Rigveda 1:3:12c.).

‘Dhī’ adalah pikiran yang diilhami (terutama yang dimiliki para rishi ), itu adalah intuisi atau kecerdasan – terutama yang terkait dengan kalimat suci dan agama. Saraswati dipandang sebagai dewi yang dapat memberikan dhī ( Rgveda 6:49:7c.) jika kita mohon dalam doa atau meditasi.

‘Dhi’ diperlukan untuk menuntun ‘Vac’. Ucapan (vac) membutuhkan pikiran yang diilhami, pikiran yang murni, dia juga terkait erat dengan ucapan dan dengan dewi ucapan, Vāc. Dalam kitab Shatapatha Brahmana, peran Saraswati-Vac meluas, menjadi jelas diidentifikasi dengan pengetahuan (yang dikomunikasikan melalui ucapan). Disebutkan bahwa Dewi Saraswasti adalah "ibu dari Weda " serta Weda itu sendiri.

Shatapatha Brahmana menyatakan bahwa ”seperti semua air bertemu di lautan... maka semua ilmu pengetahuan (vidya) bersatu (ekayanam) dalam Vāc”* (14:5:4:11).

Kitab-kitab Purana dan kitab lainnya yang ditulis di India menjelaskan dan memuliakan Dewi Saraswati.

Bukan hanya dalam ajaran Hindu dimuliakan. Dalam agama Buddha, Dewi Saraswati dihormati dalam banyak bentuk, termasuk Dewi Cinta Kasih dan identik dengan Dewi Tara. Dalam Jainisme, Saraswati dihormati sebagai dewi yang bertanggung jawab atas penyebaran ajaran dan khotbah Tirthankara.

Begitu juga Kakawin Dharmasunya dalam Wirama Ragakusuma secara jelas menulis bahwa yang disebut sebagai Pujangga Agung adalah seseorang yang batinnya telah dikuasai oleh Dewi Saraswati.

Dalam karya sastra Kawi lainnya yang ditulis era Kerajaan Majapahit keberadaan Dewi Saraswati sangat sentral menempati posisi inti dalam kependetaan dan kesusastraan. Kakawin Dharmasunya, kakawin didaktis dalam bahasa Jawa Kuno, yang diperkirakan ditulis pada pertengahan abad ke 15 Masehi, sebagai salah satu contoh.

Dalam tradisi suci penulisan Kakawin baik era kerajaan Majapahit atau sebelumnya, yang dipuja dan dimuliakan adalah Dewi Saraswasti sebagai ‘Weda’, sebagai pemberi kejernihan ‘Dhi’ dan ‘Vac’ — hanya ketika sang penyair atau Sang Kawi Sastra sudah ‘kesusupan’ atau telah mendapat anugrah Dewi Sarasawati atau Sang Hyang Sarasawati, atau Hyang Haji Sasraswati, baru disebutkan siddhi dan layak disebut Pujangga Agung.

Karya Kakawin Dharmasunya bagian Wirama Ragakusuma di atas terang benderang menyebutkan hal tersebut. Kakawin-kakawin lain yang lebih tua, pun menyebutkan hal yang sama. Bahwa manusia yang pikiran dan batinnya mulia dan mampu berucap disebut sebagai diberkati ‘dhi’ dan ‘vac’ oleh Hyang Saraswati.

"Bahkan kalau kita urai karya Jawa Kuno secara lebih jauh maka Dewi Saraswati menempati posisi penting dari tahun 800 Masehi dan selanjutnya bersambung ke tradisi sastra Kawi era Teguh Dharmawangsa dan Kerajaan Kediri, serta era setelahnya, Singosari dan Majapahit," ungkapnya.

Demikian disebutkan dalam Kakawin Ramayana bahwa Saraswati adlaah dewati yang dimuliakan… Kakawin Ramayana, yang diperkirakan telah ditulis dalam era Mataram Hindu pada masa pemerinthan Dyah Balitung sekitar tahun 820-832 Saka atau sekitar tahun 870 M, dibawa salinanya ke Bali setidaknya di era Raja Udayana.

Sekalipun belum ada bukti peninggalan atau pura pemujaan khusus atau bukti temuan arca Saraswati di Bali dari era Bali Kuno, tapi kemungkinan sudah dikenal setidaknya di kalangan bhujangga dan lingkar kerajaan.

Karya Sastra yang diwarisi di Bali sampai saat ini, seperti: Kakawin Sutasoma, Kakawin Bhomantaka, Tantri Kamandaka, Kakawin Arjunawijaya, Kakawin HARISRAYA, Kakawin- Adiparwa, Bhismaparwa, Tantu Panggelaran, Siwarätrikalpa, Sumanasantaka, Nawaruci, Kakawin Nirartha Prakreta, dll mengandung uraian pemuliaan Dewi Saraswati. 

Sekian banyak kakawin atau teks sastra yang memuliakan Saraswasti yang mengalir dari tradisi Kawi atau Jawa Kuno, tentu tidak lain merupakan kelanjutan aliran pemikiran Weda dan pemuliaan Saraswati yang bersumber dari tradisi Rigveda yang telah ada sekitar 1500 – 1000 Sebelum Masehi yang berkembang di tanah Bharata Warsa.

Karya-karya Kakawin tersebutlah yang menyusup menjiwai tradisi Hindu Bali. Bersama karya-karya Kakawin dan teks sastra Hindu di Nusantara tersebut terdalam pula lontar-lontar berisi kompilasi mantra dan mengandung secara khusus Mantra Puja Saraswasti. (Z/002) 

Baca Artikel Menarik Lainnya : Gubernur Bali Akan Hadiri Perayaan Imlek

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius