Seperti diberitakan maka WHO dan banyak negara (mudah2an negara kita juga) sedang mengamati varian baru COVID-19, BA.3.2, yang diberi nama Cicada. Ini sudah masuk "Variant Under Monitoring - VUM" WHO. Ada 3 informasi tambahan tentang varian ini, menambahkan yang sudah saya tulis kemarin.
Pertama, ternyata BA.3.2 sudah mengalami 75 mutasi, jadi memang banyak sekali dan karena itu disebut "high mutated".
Ke dua, yang banyak jadi perhatian adalah karena mutasi terjadi di "spike protein" virus nya, yang waktu COVID-19 sedang merebak maka kita mengenal peran penting "tonjolan" protein ini dalam proses aktivitas virus.
Ke tiga, nama Cicada rupanya mengacu ke nama serangga yang di kita dikenal sebagai Tonggeret. Ini dihubungkan dengan kejadian infeksi BA.3.2. yang di 2024 terjadi pada seorang anak di Afrika Selatan dan lalu situasi tidak pernah meningkat, baru pada akhir 2025 dan awal 2016 terjadi peningkatan kasus di banyak negara.
Semoga pemantauan di Indonesia juga dapat terus digalakkan. Kita tahu bahwa sejauh ini dinegara kita sudah dilakukan surveilans pada manusia (walau jumlah test nya masih terbatas), tapi yang kini juga diperlukan adalah surveilans (termasuk genomik) pada air limbah, seperti sudah dilakukan di negara-negara lain dan mudah2an akan dilakukan juga di negara kita.
*) Prof Tjandra Yoga Aditama Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Sedang di Padang Arafah