Banner Bawah

Varian baru lagi COVID-19, kini BA.3.2 “Cicada” dan sudah masuk Variant Under Monitoring (VUM)

Admin 2 - atnews

2026-03-30
Bagikan :
Dokumentasi dari - Varian baru lagi COVID-19, kini BA.3.2 “Cicada” dan sudah masuk Variant Under Monitoring (VUM)
Prof Tjandra Yoga Aditama (ist/atnews)

Oleh Prof Tjandra Yoga Aditama

CDC Amerika Serikat pada Februari 2026 mulai melacak COVID-19 varian BA.3.2 “Cicada” variant , dan pada 19 Maret 2026 mulai dideteksi makin adanya peningkatan kasusnya di Amerika Serikat. Kasus pertama mulai ada di Amerika Serikat pada Januari tahun ini, dan laporan terakhir maka sudah mulai ditemukan juga pada swab pengunjung dari luar negeri yang masuk Amerika Serikat.

Sementara itu, WHO mulai melacak BA.3.2 ini di dunia sejak Desember 2025 (walaupun sudah mulai ada kasus sejak November 2024 di Afrika Selatan, tapi tadinya dibawah permukaan saja), dan sekarang sudah masuk dalam kategori Variant Under Monitoring (VUM).

BA.3.2 kini sudah ditemukan di lebih 30 negara, dan disebabkan negara mencakup lebih 30% kasusnya, termasuk Jepang, Kenya, Belanda, Inggris dan tentunya Amerika Serikat. Kita tentu harus amati ketat juga di negara kita , jadi surveilans harus dijaga tetap kuat. Kita tahu bahwa idealnya setidaknya ada tiga virus pernapasan yang selalu dipantau negara (termasuk Indonesia), yaitu Influenza, COVID-19 dan Respiratory syncytial virus (RSV).

Yang menarik dan perlu jadi perhatian kita adalah bahwa varian ini di temukan di air limbah di banyak negara. Artinya, kita juga harus melakukan surveilan pada air limbah negara kita, selain harus meningkatkan test dan surveilans pada manusia.

Empat hal tentang sifat varian baru ini. Ke satu, dia sangat bermutasi, "highly mutated". Ke dua dilaporkan sudah terjadi "antigenis drift" dan juga penurunan netralisasi invitro. Ke tiga, efektifitas vaksin yang ada kini setidaknya dapat mencegah terjadinya penyakit yang berat, karena itu banyak negara tetap menganjurkan vaksin booster, setidaknya pada risiko tinggi.

Mungkin hal ini perlu juga dievaluasi di negara kita, untuk kemudian diputuskan bagaimana rekomendasi resminya. Ke empat, gejala pada dasarnya tidak berbeda dengan varian sebelumnya. Tetapi memang pada beberapa varian terakhir COVID-19 memang ada keluhan nyeri di tenggorokan, seperti dipotong silet "razorblade throat" katanya. 

*) Prof Tjandra Yoga Aditama Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Sedang berada di kota Mekkah

Baca Artikel Menarik Lainnya : Informasi Update Aplikasi atnews v.1.2

Terpopuler

Buka Parade Ogoh-Ogoh, Wabup Badung Soroti Peran Strategis Generasi Muda dalam Pelestarian Budaya

Buka Parade Ogoh-Ogoh, Wabup Badung Soroti Peran Strategis Generasi Muda dalam Pelestarian Budaya

Indonesia Genjot Konektivitas Udara, ANA Didorong Buka Rute Baru ke Yogyakarta

Indonesia Genjot Konektivitas Udara, ANA Didorong Buka Rute Baru ke Yogyakarta

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Refleksi Hari Raya Nyepi, Tahun Baru Saka 1948

Refleksi Hari Raya Nyepi, Tahun Baru Saka 1948

Indonesia Gandeng Jepang, Perkuat Strategi Pariwisata Asia Timur

Indonesia Gandeng Jepang, Perkuat Strategi Pariwisata Asia Timur

15 Batal Terbang Rute Internasional Bandara Ngurah Rai, Dampak Perang Israel - Iran

15 Batal Terbang Rute Internasional Bandara Ngurah Rai, Dampak Perang Israel - Iran