Denpasar (Atnews) - Intlektual Hindu Jro Gde Sudibya asal Desa Pakraman Tajun kembali mengungkap kearifan besar (great wisdoms) dari Itihāsa Mahābhārata dalam konteks ke kinian yang tengah memanasnya gejolak geopolitik.
Mulai dari perang Ukrania - Rusia, perang AS/Israel dengan Iran dengan implikasi geopolitiknya.
Mengingatkan kekaguman dari pengawi di Bali tentang keunggulan dan keutamaan sastra Mahābhārata atau lebih tepatnya Asta Dasa Parwa, rujukan kearifan hidup dalam 18 Parwa karya Rsi Vysadeva.
Kitab Mahābhārata merupakan uraian sejarah kepahlawanan terpanjang di dunia dan dinyatakan sebagai "puisi terpanjang yang pernah ada".
Bahkan dalam sejarah mencatat pertempuran besar 18 hari di Kurukshetra sebagai perang terbesar di dunia.
Perang berlangsung selama 18 hari. Total seluruh pasukan yang terlibat dalam perang adalah 3.936.600 orang. Jumlah pasukan yang terlibat dalam perang sangat banyak, sebab divisi pasukan kedua belah pihak merupakan gabungan dari divisi pasukan kerajaan lain di seluruh daratan India.
Pasukan tersebut dibagi ke dalam aksohini (divisi). Pasukan Pandawa memiliki 7 divisi, dengan total pasukan 1.530.900 prajurit. Pasukan Korawa memiliki 11 divisi, dengan total pasukan 2.405.700 prajurit.
Keseluruhan pasukan terdiri dari 18 akshauhini, 7 di pihak Pandawa dan 11 di pihak Kurawa (1 akshauhini = 21.870 kereta perang 21.870 ekor gajah 65.610 kuda 109.350 prajurit berjalan kaki).
Perang itu terjadi di tanah suci Kurukshetra (saat ini dikenal sebagai Haryana), perang besar terjadi dengan Shri Krishna di medan perang.
Perang Kurukshetra berlangsung selama 18 hari, dan Pandawa keluar sebagai pemenang. Selain itu, pertempuran ini membawa kehancuran kemurnian kemanusiaan dan menunjukkan jalan menuju iri hati, keserakahan, kesombongan, dan pemikiran manusia seperti yang dirasakan saat ini.
Kisah suci ini disertai dengan pembelajaran yang kompleks tentang kemanusiaan, perspektif, pemikiran, kesuksesan, harapan, dan kekayaan.
Untuk itu, kekaguman para pengawi di Bali berupa "totalitas pengetahuan" yang ada di alam raya terangkum dalam Asta Dasa Parwa.
"Tidak semua pengetahuan di Asta Dasa Parwa bisa dijelaskan oleh pengetahuan di Alam Raya," kata Sudibya di Denpasar, Minggu (29/3).
Ditekan kembali, narasi di atas, sejarah selalu berulang, ketika Adharma begitu berkuasa, lahir kekuatan Alam Raya yang menciptakan keseimbangan. Kalah dan menang menjadi tidak relevan karena semua menuju pralaya.
Shri Kṛṣṇa dengan kokoh menegakkan kembali dharma, banteng agama, di atas empat kakinya yang terdiri dari welas asih, pertapaan, kebersihan, dan kebenaran.
Shri Krisna sempat membawa misi perdamian antara Pandava dengan Korawa, namun upaya itu gagal yang ditolak oleh Korawa.
Dengan demikian, dharma dapat sekali lagi menjadi gotra, pelindung bumi. Shri Kṛṣṇa juga menetapkan fungsi keagamaan Govardhana-pūjā untuk menghormati bukit favorit-Nya, sapi-sapi, dan para brahmana.
Namun demikian pengawi di Bali selalu menyimak dengan bergairah episode Shri Krishna "memurti" menjadi Tuhan Wisnu (dan kemudian urung). Kalau terus "memurti", Perang Kurushetra batal berlangsung, karena kekuatan Tuhan Wisnu menghancurkan para Korawa.
Tembang kidung berbahasa Jawa Kuno:
"Ngkan Drona, Bhisma, Nguni weh Rsi Narada, Aserang mangastuti umu, Sahapuspa warsa, Sojaar Bhatara Hari, Ayua mageng uyung ta, Suasta nikang Bhuwana, Kasih tulihanta". Permohonan dari Drona, Rsi Bhisma, Rsi Narada agar Prabu Kresna tidak "memurti" menjadi Tuhan Wisnu untuk keselamatan dunia dan isinya, terutama bagi mereka yang "mepakardi ayu", yang selalu berbuat baik dan terus nunas kerahayuan.
Dijelaskan pula, perang Kurukshetra yang selalu menjadi bahan diskusi yang nyaris menjadi "momenth of truth" ketika Rsi Bhisma rebah di Padang Kuru, cucunya Arjuna menggunakan kekuatan panahnya menjadikan tumpukan panah semacam kasur bagi sang Rsi, "jeda" menunggu matahari bergerak ke Utara (Ngutara yana) untuk Sang Rsi "pulang" ke Swarga Loka.
Perang berhenti sejenak, Pandawa dan Korawa mendekat sang Kakek bersimpuh di dekatnya. Sebelum "berpulang" menatap Panca Pandawa terutama Yudistira dengan kata bergema Rahayu.
"Bagi pengawi di Bali, kata ini bermakna pesan hanya mereka teguh di jalan Dharma akan mencapai Sorga, kebebasan, Moksha. Gelising cerita, hanya Yudistira yang mampu mencapai Sorga bersama anjing hitamnya.
Moral cerita ini begitu membekali di kalangan para pengawi di Bali, mengalami internalisasi nilai, pembatinan nilai, kemudian menjadi 'sesuduk kayun' dalam mendidik putra-putri mereka. Pemimpin 'punyah' dewasa ini, agaknya tidak tersentuh oleh kearifan besar sastra Mahābhārata," ujarnya.
Pada kesempatan itu, pihaknya menjelaskan pula perang Mahābhārata atau Perang di Kurukshetra terjadi pada tahun 3138 SM (5.155 tahun yang lalu).
Perang Mahābhārata dimulai pada Mrugashirsha Shukla Ekadashi (hari ke 11 di bulan ke 2 tahun Hindu) ketika Gita Jayanti (turunnya Bhagavadgita), sabda Shri Krishna kepada Arjuna dan berlangsung hingga 18 hari.
"Bintang Kartika dan Naksatra Rohini tegak lurus pada bulan kelima awal Mahābhārata pada Suklapaksa 11 Margasira berakhir 18 hari kemudian Purwani Tilem Margasira," imbuhnya.
Perang berakhir pada akhir Margasira matahari masih di selatan. Matahari berjalan ke utara pada bulan Magha (7) sekitar akhir Desember. Jadi Bhisma (Bhishma) menunggu sebulan untuk berangkat ke alam rohani.
Bhishma meninggal pada hari ke-8 bulan Magha (Shukla Ashtami), yang dikenal sebagai Bhishma Ashtami, saat posisi matahari berada di utara (Uttarayana).
Bisma meninggal di atas kasur panah (saratalpa) dalam pertempuran Kurukshetra, setelah menunggu selama 58 hari. Ia wafat saat matahari berada di utara (uttarayana), yang diyakini sebagai waktu terbaik untuk mencapai moksa.
Śrī Bhīṣmadeva mencapai kesempurnaan pada waktu akan meninggalkan badannya, dan sangat beruntung memiliki Śrī Kṛṣṇa sebagai obyek perhatiannya, dimana Śrī Kṛṣṇa Sendiri secara pribadi hadir di hadapannya saat ajal menjemput.
Hal itu sebabnya, Bhīṣmadeva membuka matanya lebar-lebar dan menatap Śrī Kṛṣṇa. Sejak lama beliau ingin melihat Śrī Kṛṣṇa karena cinta beliau yang spontan kepada-Nya.
Menurut referensi astrologi tertentu dalam kitab suci Veda, tahun 3102 SM adalah awal dari Kali Yuga yang dimulai 35 tahun setelah pertempuran di Kurukshetra.
Garis keturunan Bhishma yakni dari Shri Vishnu – Brahma-Atri-Candra-Budha – Pururavas – Ayus – Nahusha- Yayati – Puru – Janamejaya – Prachinvaa – Pravira – Namasyu – Vitabhava – Shundu – Bahuvidha – Samyati – Rahovadi – Raudrasva – Matinara – Santurodha – Dushyanta – Bharata – Suhotra – Gala – Gardda – Suketu – Brhatksetra – Hasti – Ajamidha – Riksha – Samvarana – Kuru – Jahnu – Suratha – Vidaratha – Sarvabhauma – Jayatsena – Ravyaya – Bhavuka – Chakroddhata – Devatithi – Riksha – Bhima-Pratipa - Shantanu - Bhishma.
Sedangkan nama Kurukshetra diberikan untuk menghormati Raja Chandravanshi Kuru- ke 1 yang lahir di bawah garis keturunan Raja Puru. Raja Yuddhisthira lahir pada generasi ke 53 setelah Raja Kuru-1. Yuddhisthira adalah raja Chandravanshi terakhir dari Era Dwaparayuga di bawah garis keturunan Dinasti Kuru.
Sedangkan Raja Kuru-1 memerintah pada Era Satyayuga. Raja Ikhvaku Sudas (Maha Bhishaka) hidup sejaman dengan Raja Kuru-1. Sedangkan Raja Sudas (Mahabhishaka) kelak akan lahir kembali sebagai Raja Shantanu (ayah dari Bhisma) di kehidupan selanjutnya.
Dalam perang Mahabharata total ada 14 negara modern (saat ini) yang terlibat yakni (1) India; (2) Pakistan: Kerajaan Sindhu, Kerajaan Keikaya, Kerajaan Madra; (3) Afghanistan: Kerajaan Gandhara, Kerajaan Kamboja, Kerajaan Parada, Kerajaan Parasika, Kerajaan Huna; (4) Iran: Kerajaan Aswaka, KerajaanYavana; (5) Tajikistan: Kerajaan Parama Kamboja, Kerajaan Hara Huna; (6) Balkhan : Kerajaan Bahlika, Kerajaan Saka; (7) Turkmenistan: Kerajaan Tushara; (8) Irak: Kerajaan Pahlava; (9) Kyrgistan: Kerajaan Uttara Madra, Kerajaan Uttara Kuru; (10) Tibet: – Kerajaan Rishika, Kerajaan Tushara; (11) Nepal: Kerajaan Videha, Videha diperintah oleh (Raja Janaka 1), 62 Raja memerintah setelah Raja Siradhwaja (Raja Janaka-2) yang merupakan ayah dari Dewi Sita di Ramayana. Kerajaan Videha ditaklukkan oleh Kerajaan Magadha pada tahun 544 SM yang dipimpin oleh Raja Bimbisara (559- 491 SM). Raja Magadha Ajaatshatru memerintah Kerajaan Videha dari tahun 491 SM sampai tahun 460 SM. Raja Bimbisara hidup sejaman dengan Buddha Gautama (563-483 SM), Kerajaan Kailasha, Kerajaan Nepal, Kerajaan Kirata; (12) Bangladesh: Kerajaan Vanga, Kerajaan Pundra. Raja Paunduraka Vasudeva memerintah di Kerajaan Paundra pada saat Perang Mahabharata. Sri Krishna mengalahkan & membunuh Paunduraka.
Sebelumnya, Pengelana Global Putu Suasta yang juga Budayawan mengatakan, perselisihan di seluruh dunia tidak berhenti dan perang terus berlanjut sebagai pertanda Kali Yuga. Hal itu menandakan orang lupa kasih sayang pikiran dan lupa kenyataan bahwa manusia terlihat berbeda tetapi kita semua satu (Vasudhaiava Kutumbakam).
Sejarah telat mencatat, era moderen telah terjadi Perang Dunia (PD) Pertama, sehingga "Liga Bangsa" didirikan. Tetapi dia tidak berjalan. Sekali lagi Perang Dunia (PD) Kedua terjadi. Ini seharusnya tidak terjadi lagi sehingga PBB didirikan. Namun sekarang melihat bagaimana situasinya. Dia di tempatnya, tidak efektif. Perang yang sedang terjadi tidak berhenti.
Pada zaman Dvapara Yuga juga telah terjadi perang besar selama 18 hari dikenal Mahābhārata. Mahābhārata memiliki arti sebenarnya adalah "Sejarah India." Mahā berarti agung, dan sejarah agung India. Bhārata berarti India.
Nama asli India adalah Bhārata-varṣa. Mungkin Anda tahu. Bhārata-varṣa. Seluruh planet ini pada awalnya dikenal sebagai Ilāvṛta-varṣa. Kemudian ada seorang raja, Mahārāja Bharata. Jadi sesuai dengan namanya, seluruh planet menjadi Bhārata-varṣa. Seluruh planet ini disebut Bhārata-varṣa menurut literatur Veda. Tetapi sekarang planet ini terbagi.
Ada sejarah panjang tentang bagaimana masyarakat manusia tersebar di seluruh planet Bumi. Menurut Mahābhārata, orang Amerika atau Eropa, berasal dari India (Bharatavarsa).
Peradaban Turki dan peradaban Yunani awalnya berasal dari India. Dua putra Mahārāja Yayāti diberi kerajaan Turki dan Yunani, dan dari Turki dan Yunani peradaban atau populasi Eropa berkembang, dan dari Eropa, orang Amerika, mereka datang ke sini. Tentu saja, itu adalah poin sejarah.
Dalam kitab Veda, bahwa bangsa – bangsa di seluruh di dunia pernah digolongkan bukan berdasarkan ras atau suku, tetapi berdasarkan spiritualitas.
Jika dilihat dari kesadaran dan spiritual, bangsa-bangsa pada zaman Veda dibagi menjadi 2 bagian besar, yaitu Golongan Arya dan Mlecca.
Golongan Arya memiliki peradaban spiritual yang tinggi. Bangsa Arya tidak dibedakan atas ras ataupun keturunan, namun ras atau keturunan mana pun yang menjalankan prinsip – prinsip agama maka disebut Bangsa Arya.
Ciri utama golongan arya adalah adanya brahmana dan pemuka agama lainnya. Golongan Mlecca merupakan golongan yang tidak memiliki prinsip – prinsip agama. Tidak mengikuti orang suci dan melarang upacara korban suci. Kebanyakan raja – raja golongan Mlecca sudah dihabisi oleh Avatara.
Menurut ciri – ciri fisik dan tempat tinggal bangsa – bangsa, menurut kitab Veda (Mahabharata Purana dan Srimad Bhagavatam Skanda 11), bangsa – bangsa di dunia berawal dari Zaman Treta Yuga.
Diawali dari Raja Pururawa yang merupakan asal muasal dari Dinasti Chandra. Raja Pururawa berputra yang terkenal bernama Raja Ayu.
Raja Ayu memiliki 5 putra. Putra yang terkenal bernama Nahusa. Raja Nahusa memiliki putra, yang terkenal bernama Yayati.
Keturunan Yayati banyak melahirkan golongan ksatria. Begitu juga banyak keturunan Yayati menjadi Mlecca (bukan Arya), yang merupakan golongan (bukan ras) yang tidak mengikuti orang suci dan tidak beragama. Ksatria tersebut banyak dibunuh oleh Parasurama dan sisanya melarikan diri ke berbagai penjuru dunia, sehingga menjadi cikal – bakal berbagai bangsa di seluruh dunia saat ini.
Ksatria tersebut disucikan di bawah dinasti Maharaja Sagara bersama Rsi Aurwa. Raja Sagara melakukan Aswamedha yang juga diikuti oleh Maharaja Yudustira pada masa Dwapara Yuga mulai berakhir.
Dikatakan juga, "Wahai Vyāsadeva, engkau telah menyusun sebuah sastra agung, Mahābhārata. Dan di dalam Mahābhārata itu engkau telah memperkenalkan segala sesuatu yang dapat diketahui untuk dipahami." Mahābhārata awalnya ditulis untuk kaum wanita dan strī-śūdra-dvija-bandhūnām (SB 1.4.25).
(Karena rasa welas asih, sang bijak agung menganggap bijaksana bahwa hal ini akan memungkinkan manusia untuk mencapai tujuan akhir kehidupan. Maka beliau menyusun narasi sejarah agung yang disebut Mahābhārata untuk kaum wanita, buruh, dan sahabat kaum dwifag.
Dahulu hanya ada satu bendera, Bhāratavarṣa, dan ibu kotanya adalah Hastināpura. Lambat laun kendali Pāṇḍava menurun. Hingga Mahārāja Parīkṣit, seluruh dunia adalah Bhāratavarṣa. Sekarang telah menjadi tanah kecil, semenanjung.
Ketika Mahārāja Yudhiṣṭhira melakukan yajña pengorbanan kuda, penduduk negara-negara ini juga hadir untuk mengambil bagian dalam perayaan tersebut, dan mereka memberikan penghormatan kepada Kaisar.
Bagian dunia ini disebut Kimpuruṣa-varṣa, atau terkadang disebut provinsi-provinsi Himalaya (Himavatī). Konon, Śukadeva Gosvāmī lahir di provinsi-provinsi Himalaya ini dan bahwa ia datang ke Bhārata-varṣa setelah melintasi negara-negara Himalaya.
Dengan kata lain, Mahārāja Parīkṣit menaklukkan seluruh dunia. Ia menaklukkan semua benua yang berbatasan dengan semua lautan dan samudra di segala penjuru, yaitu bagian timur, barat, utara, dan selatan dunia.
Sebagaimana dijelaskan dalam SB 1.9.41. Pada upacara Rājasūya-yajña (kurban suci) yang diselenggarakan oleh Mahārāja Yudhiṣṭhira, di sana ada pertemuan seluruh petinggi dunia, golongan raja dan cendekiawan. Dalam pertemuan itu, Śrī Kṛṣṇa dipuja oleh semua hadirin.
Sesudah Mahārāja Yudhiṣṭhira mencapai kejayaan, selaku Mahārāja penguasa dunia, beliau melaksanakan upacara kurban suci Rājasūya.
Pada masa itu, pada waktu seorang Mahārāja naik takhta, mengirim sekor kuda sebagai tanda tantangan ke seluruh pelosok dunia untuk memaklumkan supremasinya, dan setiap pangeran atau raja bebas dalam menanggapi tantangan ini tanpa bicara dengan cara memperlihatkan kerelaannya untuk mematuhi atau tidak mematuhi supremasi Mahārāja yang sedang berkuasa.
Raja yang menerima tantangan ini harus berperang melawan Mahārāja dan membuktikan keunggulannya sendiri melalui kejayaan. Penantang yang kalah terpaksa mengorbankan nyawanya sendiri, dan memberi kesempatan dan mempersilakan raja atau penguasa yang lain.
Jadi, Mahārāja Yudhiṣṭhira juga mengirimkan kuda-kuda seperti itu sebagai tantangan ke seluruh pelosok dunia, dan setiap pangeran dan raja di seluruh dunia menerima kepemimpinan Mahārāja Yudhiṣṭhira sebagai Mahārāja penguasa dunia.
Sesudah ini, semua pemimpin dunia yang berada di bawah kekuasaan Mahārāja Yudhiṣṭhira diundang untuk menghadiri upacara kurban suci agung bernama Rājasūya.
Upacara semacam itu membutuhkan dana ratusan juta dollar (ukuran sekarang-red), sehingga bukan pekerjaan gampang bagi sebuah kerajaan kecil. Oleh karena upacara kurban suci seperti itu terlalu mahal dan terlalu sulit untuk keadaan sekarang ini, upacara jenis itu tidak mungkin dapat dilaksanakan di zaman Kali ini.
Orang juga tidak akan bisa menemukan pendeta-pendeta yang kompeten untuk melaksanakan upacara ini.
Jadi, setelah raja dan resi mulia yang berpengetahuan tinggi di dunia diundang, mereka berkumpul di ibukota kerajaan Mahārāja Yudhiṣṭhira.
Para cendekiawan, termasuk para filosof, pemuka agama, ahli kesehatan, ilmuwan dan semua resi yang mulia juga telah diundang. Para brāhmaṇa dan kṣatriya sebagai tokoh-tokoh masyarakat pun semuanya diundang untuk menghadiri sidang ini.
Sedangkan dalam SB 1.9.49 disebutkan. Raja mulia yang religius itu, Mahārāja Yudhiṣṭhira, menjalankan kekuasaan seorang raja di kerajaannya dengan tegas menurut berbagai peraturan dan prinsip kerajaan yang disetujui oleh pamannya dan dibenarkan oleh Śrī Kṛṣṇa.
Mahārāja Yudhiṣṭhira bukanlah hanya sebagi pemungut pajak semata. IA selalu menyadari kewajibannya sebagai seorang raja. Kewajiban raja tidak kurang dari kewajiban seorang ayah atau guru spiritual. Raja harus menjaga kesejahteraan para warganya dari segala segi, baik sosial, politik, ekonomi maupun kemajuan spiritual.
Raja harus mengetahui bahwa kehidupan manusia dimaksudkan untuk membebaskan roh yang terkurung dari ikatan keadaan material. Karena itu, kewajiban raja adalah mengatur agar kesejahteraan para warganya dijaga supaya mereka mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi tersebut.
Mahārāja Yudhiṣṭhira mengikuti prinsip-prinsip tersebut secara tegas. Hal ini akan terlihat jelas dalam bab selanjutnya. Mahārāja Yudhiṣṭhira tidak hanya mengikuti prinsip-prinsip, tetapi Yudhiṣṭhira juga mendapat persetujuan dari pamannya yang sudah lanjut usia dan berpengalaman dalam urusan politik, dan itu pun dibenarkan oleh Śrī Kṛṣṇa, yang telah menyabdakan Bhagavad-gītā.
Mahārāja Yudhiṣṭhira adalah raja teladan. Sistem kerajaan di bawah raja yang terdidik seperti Mahārāja Yudhiṣṭhira adalah jenis pemerintahan yang terbaik.
Memang pada masa Maharaja Yudistira atau Sri Ramacandra, manusia terbebas dari segala kekhawatiran. Bahkan tidak ada suhu dingin atau panas ekstrem. (Z/002)