Jakarta (Atnews) - Tujuh calon Ketua Umum Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) periode 2026–2028 diuji dalam panggung debat terbuka yang digelar di Aula Wali Kota Jakarta Utara, Selasa (24/03/2026).
Debat ketiga ini mengangkat tema “Purwaka dalam Rencana Strategis Calon Ketua Umum”.
Debat ini mengupas nilai-nilai dasar KMHDI sekaligus rencana strategis yang ditawarkan masing-masing kandidat guna menjawab tantangan organisasi ke depan.
Gagasan yang disampaikan berfokus pada penguatan kaderisasi, relevansi program kerja, hingga kontribusi nyata KMHDI dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Dalam sambutanya, Ketua Umum PP KMHDI, Wayan Darmawan, menegaskan bahwa forum debat ini menjadi momentum penting dalam proses demokrasi organisasi.
Ia menyebut, debat langsung dan terbuka ini merupakan yang pertama kali digelar secara fisik dalam sejarah KMHDI, terlebih debat ini dihadiri stakeholder dan ormas Hindu nasional lainya.
“Debat ini adalah media demokratis yang menunjukkan kualitas organisasi, kualitas calon, kualitas ide dan program kerja yang akan direncanalan,” ujarnya.
Menurutnya, KMHDI selama ini konsisten sebagai organisasi kader yang tidak hanya mencetak pemimpin, tetapi juga membentuk karakter dna mental kader.
Melalui debat ini, Darmawan mengatakan para calon akan diuji apakah mampu tampil di ruang publik menyampaikan gagasan, serta menunjukkan kesiapan memimpin organisasi ke depan.
“Jika pada debat sebelumnya dilangsungkan secara online, para caketum mungkin agak santai, sekarang kita laksanakan langsung secara fisik, tentu ini adalah media menguji calon ketua umum tampil di publik,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua FA KMHDI, I Ketut Wiriana, menekankan bahwa KMHDI merupakan organisasi yang serius dalam proses kaderisasi.
“KMHDI adalah tempat penggemblengan kader. Kita adalah kader penerus umat dan bangsa, sehingga proses ini harus dijalani dengan sungguh-sungguh,” tegasnya.
Adapun tujuh calon Ketua Umum PP KMHDI yang mengikuti debat ini adalah Gede Sandy Satria, Gde Bayu Pangestu AW, Wayan Ardi Adnyana, Nyoman Sugidana, Ni Putu Virgi Rasta, Nengah Candra Irawan, serta Putu Esa Purwita.
Melalui debat terbuka ini, KMHDI tidak hanya menghadirkan ruang kompetisi gagasan, tetapi juga mempertegas komitmennya sebagai organisasi kader yang demokratis, progresif, dan berorientasi pada masa depan. (Z/002)