Banner Bawah

Refleksi Hari Nyepi, Indikasi Peradaban Bali di Ufuk Senja

Admin 2 - atnews

2026-03-24
Bagikan :
Dokumentasi dari - Refleksi Hari Nyepi, Indikasi Peradaban Bali di Ufuk Senja
Ilustrasi Bali (ist/atnews)

Denpasar (Atnews) - Intelektual Hindu Jro Gde Sudibya yang juga Pengamat Kecenderungan Masa Depan mengatakan, Catur Bratha Penyepian, di Tahun Baru Saka 1948, pada tanggal 19 Maret 2026, bagi insan-insan manusia yang selalu berkarma baik dengan pamrih rendah.

Menstimulasi ketenangan hati dan nurani, melahirkan kecerdasan holistik baik fisik, intelektual, emosional, spiritualitas dan sosial, melahirkan viveka (kecerdasan pembeda) dalam merespons hukum Rwa Bhineda di dunia maya ini.

Lahir pertanyaan reflektif, jangan-jangan di tahun baru Saka 1948, bulan ke tiga tahun 2026 Bali memasuki tanda-tanda memudarnya peradaban "Sandya Kalaning" Bali, Peradaban Bali di Ufuk Senja?

Dengan sejumlah indikator menyebut beberapa, pertama, sebut saja dari perangkat lunak sosial (social soft ware) Bali dihadapkan kepada tantangan kepemimpinan publik yang kurang berkualitas, nir empati dan nir keteladanan.

Lembaga umat seperti PHDI terpecah, "dipecah", sehingga kemampuan melayani umat sangat terbatas, demikian juga posisi tawarnya berhadapan dengan kekuasaan. 

Desa Pakraman yang secara tradisi mandiri, menjadi semakin tergantung pada dana kekuasaan, dana negara yang semestinya merupakan hak bagi mereka. Kedua, ethos kerja manusia Bali kurang cepat bertumbuh dalam menghadapi tantangan perubahan, sehingga muncul fenomena kalah bersaing di bidang ekonomi dengan para pendatang yang beragama berbeda. 

Wacana "Ajeg Bali" dikembangkan untuk membangun kesadaran baru kebudayaan, tetapi di bawah sadar manusia Bali tersimpan kekhawatiran berupa sekadar wacana menunda kekalahan. 

Ketiga, secara sebut saja " phisical hard ware ", lingkungan alam Bali "benyah latig" dengan kerusakan tak terpanai yang nyaris tidak mampu dipulihkan. 

Kerusakan parah terjadi dalam perspektif sebut saja "Nyegara - Gunung", mulai dari kawasan pantai, kehidupan masyarakat pesisir, DAS, empat danau. gugusan hutan dan lereng-lereng Gunung.

Rasio hutan tinggal 18 persen, dari persyaratan ideal 30 persen.

"The dark numbers", titik-titik gelap yang mengancam Peradaban Bali di atas, tidak melahirkan kesadaran publik bahwa Bali dalam ancaman. 

Yang justru dikembangkan keberhasilan palsu, jargon-jargon "mengukir langit rohani" yang "jauh panggang dari api"dengan realitas sosial.

Ilusi tentang Bali 100 tahun ke depan dalam kondisi Bali kini "benyah latig" secara phisik alam dan juga sosial.

Pencitraan terus "diproduksikan" dengan biaya APBD ratusan milyar rupiah, dengan merekayasa fakta, komunikasi berbasis ilusi, dengan memanfaatkan logika algorithma, untuk tetap terkenal dengan "top mind" di wacana publik.

Dalam tantangan besar ini, memudarnya Peradaban Bali, tantangan krama Bali dalam perspektif Veda/Vedanta untuk menumbuhkan "pohon-pohon" Realisasi Diri yang berupakekuatan karakter (Stitha Prajna), integritas, pengabdian tanpa pamrih, disiplin diri, kehidupan yang tidak terikat (vairagya).

Menghancurkan "Pohon-pohon" Perusakan Diri, seperti prilaku "Memunyah" (termasuk "memunyah" akibat kopi plus arak), "Buduh" dan "Memuduh" -sikap gila dan gila-gilaan-, "Belog" dan "Belog Ajum" -bodoh dan sekaligus memamerkan kebodohan."Angkaban Barong Sumi", tampak perkasa di luar, tetapi sangat rapuh di dalam.

Tantangan bagi krama Bali untuk menjawab tantangan di atas, untuk tidak nantinya tercatat dalam sejarah sebagai generasi perusak peradaban Bali.

Secara terpisah, Advokat Gede Pasek Suardika yang juga Politisi mengungkapkan, ritual itu basisnya kepercayaan, kepercayaan didasari keyakinan. 

Keyakinan seringkali dirobohkan hedonisme dan pragmatisme. Jadi jika di zaman kali atau kali yuga ternyata ritual yang tampil justru gaya hidup hedon dan gaya hidup narsistik maka sejatinya kepercayaan dan keyakinannya sendiri sedang diruntuhkan oleh penganutnya sendiri.

Sisi lain ritual Nyepi, ketika pelanggaran ajaran justru dipertontonkan dengan bangga oleh penganutnya sandiri dan lalu meminta pihak lain untuk menghormatinya. 

"Maka menurut saya hanya manusia yang sudah tidak tahu malu bangga melakukan kesalahan dan ketidaktaatan secara vulgar seperti itu," ujarnya.

Maka yang menjadi korban adalah penganut yang berjuang menjaga kearifan tradisi spiritual tersebut dan umat lain yang sudah dengan ikhlas menghormati tradisi spiritual tersebut berjalan dengan baik. Dan yang tertinggi adalah mereka para pendahulu, para waskita, yang telah dengan kemampuan visioner mampu mengartikulasikan nilai spiritual, ritual dengan kehidupan aktual menjadi Catur Brata Penyepian. 

Hanya kata maaf yang bisa diungkapkan kepada mereka yang sudah berikhtiar menjaga kualitas pelaksanaan Nyepi baik bagi yang menganutnya maupun yang menghormatinya, sambil menyesalkan prilaku bodoh yang dipertontonkan beberapa oknum mahluk penganut yang tidak berhasil disomyakan mental bhutakala nya saat Tawur Tilem Kesanga dan masih terbawa saat Nyepi yang seharusnya hening dan sepi sehari.

"Bangga mempertontonkan kebodohan adalah mempermalukan dirinya sendiri," pungkasnya.(Z/002) 

Baca Artikel Menarik Lainnya : Koster Ingin Jajarannya Bekerja Cepat, Tepat dan Cermat

Terpopuler

Buka Parade Ogoh-Ogoh, Wabup Badung Soroti Peran Strategis Generasi Muda dalam Pelestarian Budaya

Buka Parade Ogoh-Ogoh, Wabup Badung Soroti Peran Strategis Generasi Muda dalam Pelestarian Budaya

Sambut Nyepi, BTID Gelar Safari Ogoh-Ogoh, Perkuat Sinergi Budaya di Desa Serangan

Sambut Nyepi, BTID Gelar Safari Ogoh-Ogoh, Perkuat Sinergi Budaya di Desa Serangan

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

15 Batal Terbang Rute Internasional Bandara Ngurah Rai, Dampak Perang Israel - Iran

15 Batal Terbang Rute Internasional Bandara Ngurah Rai, Dampak Perang Israel - Iran

Jelang Nyepi dan Lebaran, Menpar Intensifkan Visitasi 165 Destinasi Wisata Nasional

Jelang Nyepi dan Lebaran, Menpar Intensifkan Visitasi 165 Destinasi Wisata Nasional

Menteri PKP Siapkan Rusun Khusus Seniman di Denpasar, Hunian Bernuansa Lokal

Menteri PKP Siapkan Rusun Khusus Seniman di Denpasar, Hunian Bernuansa Lokal