Oleh Dr. I Wayan Sudirta SH., MH
‘’Sangat banyak kenangan dengan almarhum. Saya mengenalnya ketika almarhum bertugas sebagai wartawan Bali Post di Jakarta, sekitar tahun 1990-an. Sering bertukar pikiran tentang hal yang berkaitan dengan politik, demokrasi, kebebasan pers, dan mengkritik otoritarianisme Orde Baru masa itu.
Ketika Orde Baru jatuh, almarhum menyampaikan permintaan seorang tokoh partai yang menawarkan kalau saya bersedia bergabung. Adapun alasannya, dibanding berjuang di jalanan sebagai aktivis, dengan bergabung di partai politik untuk selanjutnya ke parlemen, ide-ide aktivisme bisa diperjuangkan menjadi kebijakan, seperti undang-undang misalnya.
Namun, waktu itu memang sejujurnya, sebagai advokat yang bergaul dengan banyak aktivis LSM, saya belum tertarik dengan partai politik. Dan era Reformasi membentuk lembaga baru di Senayan, yakni DPD (Dewan Perwakilan Daerah) pada tahun 2004, atas dorongan Sulinggih senior dan sejumlah tokoh Bali lainnya, saya bersedia mendaftar dan lolos sebagai Anggota DPD RI dengan perolehan suara tertinggi, 245.000 lebih.’’
Selama 10 tahun mewakili Bali di DPD RI, almarhum Wayan Suyadnya termasuk salah satu wartawan yang menjadi teman bertukar pikiran dengan saya dan teman-teman aktivis yang nongkrong di kantor Jalan Diponegoro Denpasar.
Dengan tetap menjaga independensi sebagai wartawan, Wayan Suyadnya tak segan-segan menghabiskan waktunya untuk mendengar langsung, ketika kami di Kantor Jalan Diponegoro Denpasar, melakukan rapat-rapat, ketika mengadvokasi berbagai kelompok marjinal.
Advokasi tentunya bersifat teknis, membentuk Tim, menetapkan Ketua Tim, menyiapkan langkah aksi seperti unjuk rasa, menyiapkan orator serta materi orasi, sampai menyiapkan administrasi serta langkah-langkah evakuasi, bilamana di lapangan terjadi hal-hal tertentu.
Seingat saya, almarhum ikut hadir dalam rapat-rapat membentuk Tim Pembela Pengungsi Timtim Eks Transmigran Bali yang memperjuangkan untuk memperoleh tanah pekarangan dan garapan di Desa Sumberkelampok, Buleleng. Juga ketika melakukan advokasi-advokasi membongkar kasus korupsi melalui Bali Corruption Watch (BCW), juga ketika kami bersama sejumlah tokoh Hindu mereformasi Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) melalui Mahasabha VIII Tahun 2001 di Hotel Radisson, Denpasar.
’’Almarhum banyak terlibat, selain karena tugas-tugas jurnalistiknya sebagai wartawan, juga sekaligus menjadi sosok aktivis yang peduli pada isu-isu sosial yang ia tulis di korannya. Karenanya, ia menjadi Anggota Sabha Walaka PHDI Pusat setelah PHDI dikembalikan menjadi majelis yang independen dan dia adalah salah seorang yang sangat aktif dan berdedikasi.
Seingat saya, almarhum juga mendukung perjuangan ketika saya memperjuangkan pengucapan Salam ’’Om Swastyastu’’ dalam sidang resmi di DPD RI yang telah berhasil dan kini menjadi warisan penting adanya kesetaraan pengucapan salam-salam keagamaan di berbagai acara resmi kenegaraan. Almarhum juga aktif mendukung ketika saya memperjuangkan RUU Otonomi Khusus Bali di DPD RI, yang walaupun di DPD RI baru sampai di Prolegnas, namun substansi RUU Otsus Bali tersebut sudah diserap dalam UU Tentang Provinsi Bali yang sudah ketok palu.
Saya menghargai dedikasi almarhum pada jurnalistik yang sedemikian luar biasa. Pertama, almarhum aktif sebagai wartawan di Harian Bali Post. Keluar dari Bali Post, mendirikan koran ’’Pos Bali’’ dan menjadi Pemimpin Redaksi. Berhenti di ’’Pos Bali’’, almarhum sempat menggagas koran untuk bendesa adat se-Bali, dan yang terwujud sekarang adalah ’’Media Bali’’ dalam format cetak maupun online.
Semangatnya tidak berkurang untuk berproses dalam dunia gagasan, walaupun ruang-ruang media semakin sempit karena terbukanya ruang media melalui sarana online yang sedemikian dinamis.
’’Yang luar biasa, almarhum membuat catatan harian tentang Paradoks Bali yang kritis, tajam dan akan menjadi catatan intelektual penting untuk membaca time-line perkembangan Bali dari masa ke masa, sebagaimana catatan Paradoks Wayan Suyadnya yang telah diterbitkan dalam format buku.’’
Meninggalnya almarhum di usia yang masih muda, merupakan kehilangan bagi dunia jurnalistik, kehilangan bagi ide-ide yang memperjuangkan kebebasan berpendapat serta keterbukaan informasi publik. Apa yang ia tulis di korannya, maupun yang ditulis lepas di grup media sosial, semoga menjadi inspirasi bagi kita semua, akan pentingnya menghargai gagasan-gagasan yang positif untuk kebaikan masyarakat.
*) Catatan I Wayan Sudirta, Anggota DPR RI untuk Wayan Suyadnya