Banner Bawah

Hari NYEPI, Tahun Baru Hindu, Vasudhaiva Kutumbakam

Admin - atnews

2026-03-18
Bagikan :
Dokumentasi dari - Hari NYEPI, Tahun Baru Hindu, Vasudhaiva Kutumbakam
Pengelana Global Putu Suasta (ist/Atnews)

Denpasar (Atnews) - Pengelana Global Putu Suasta yang juga Budayawan mengatakan, Nyepi Tahun Saka 1948/2026 bagi umat Hindu sebagai momentum konsolidasi spiritual yang berlandaskan Sanatana Dharma.

Sanatana Dharma tidak terbatas pada satu buku. Namun memiliki aliran ribuan tahun tradisi, pemikiran dan pengetahuan. Hindu mampu beradaptasi. "Hal itulah keistimewaan budaya abadi Sanatana Dharma sebagai way of life," kata Putu Suasta yang juga alumnus UGM dan Universitas Cornell di Denpasar, Rabu (18/3).

Saat ini, Hari Raya Nyepi jatuh pada Hari Kamis, 19 Maret 2026. Hari itu juga menurut kalender lunar Hindu sebagai Tahun Baru Hindu yang disebut Hindu Nav Varsha, menandai awal tahun baru. 

Maka tahun baru ini akan dimulai pada tanggal 19 Maret 2026, pratipata tithi dari shukla paksha di bulan Chaitra. Hari itu akan menjadi Vikram Samvat 2083. Dalam agama Hindu, hari ini sangat penting karena diyakini bahwa pencipta alam semesta, Dewa Brahma, memulai penciptaan alam semesta pada hari itu.

Hari spesial itu juga dirayakan dengan nama yang berbeda di berbagai daerah di negara India (Bharat). Hari ini dirayakan dengan berbagai nama dan masing-masing memiliki nama dan ritualnya sendiri yang khas sebagai Nav Varsh, Nava Samvatsara, Gudi Padwa, Poila Boisakh, Chaitra Navratri, Yugadi, Ugadi, Cheti Chand, dan lain-lain. 

Orang-orang menyambut tahun baru itu, sebagai awal yang baru, dan mempersembahkan doa sesuai dengan ritual dan tradisi mereka.

Vikram Samvat adalah salah satu kalender Hindu tertua dan menurut kalender tersebut, masyarakat India Utara menyambut Dewi Durga dengan merayakan Navratri. Diyakini membawa kekayaan, vitalitas, kesejahteraan, dan kegembiraan. Hari ini juga dianggap sangat beruntung untuk memulai usaha bisnis baru, upaya baru, dan menetapkan tujuan.

Vikram Samvat, yang juga dikenal sebagai kalender Vikrami, adalah kalender historis bagi umat Hindu di India. Vikram Samvat juga merupakan kalender resmi Nepal dan dinamai menurut nama raja Vikramaditya. Kalender ini mulai menjadi fokus setelah abad ke-9 dengan dimulainya karya seni epigrafis. Sebelum abad ke-9, sistem kalender yang sama dikenal dengan nama lain seperti Krita dan Malava.

Sedangkan Era Saka menandai awal dari Saka Samvat, kalender Hindu bersejarah yang kemudian diperkenalkan sebagai ' Kalender Nasional India ' pada tahun 1957. 

Era Saka diyakini didirikan oleh Raja Shalivanhana dari dinasti Shatavahana. Kalender Saka terdiri dari 365 hari dan 12 bulan yang mirip dengan struktur Kalender Gregorian. Bulan pertama Saka Samvat adalah Chaitra yang dimulai pada tanggal 22 Maret yang bertepatan dengan tanggal 21 Maret pada tahun kabisat. Untuk mengetahui tentang 12 bulan dalam Kalender Saka yakni Chhaitra, Vaishakha, Jyeshtha, Ashadha, Shravana, Bhaadra, Ashwin, Kartika, Agrahayana, Pausha, Magha, Phalguna.

Kalender Saka juga digunakan oleh umat Hindu Indonesia di Bali dan Jawa. Sejarahnya Nyepi memperingati Tahun Baru Saka yang dimulai pada tahun 78 Masehi di India, saat Raja Kanishka I berhasil menyatukan suku-suku yang bertikai. Penanggalan ini dibawa ke Nusantara oleh para pedagang dan pendeta dari India.

Kerajaan Majapahit menetapkan sistem kalender Saka yang berasal dari India kuno sebagai kalender resmi. Catatan Kitab Negara Kertagama menunjukkan adanya perayaan tahun baru Saka (Caitramasa) di Kerajaan Majapahit, di mana hari Tilem (bulan mati) pada bulan tersebut dianggap suci untuk penyucian Buana Alit (manusia) dan Buana Agung (alam). Ketika Majapahit menaklukkan Bali pada abad ke-14, kebudayaan dan sistem kalender Saka ikut dibawa, sehingga perayaan Nyepi mengakar kuat di Bali.

Di Bali, Tahun Baru Saka dirayakan dengan Catur Brata Penyepian (tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, tidak mencari hiburan). Praktek mengurung diri dan sama sekali tak keluar rumah sejatinya telah berlangsung sebagai kearifan lokal Bali jauh sebelum Hindu masuk ke Bali. Karena itu dikenal tradisi kuno beberapa desa di Bali yang melakukan "Nyepi Desa" (terbatas pada desa itu). Beberapa desa yang masih mempraktekkannya antara Desa Banyuning, Desa Adat Sebatu di Gianyar, Desa Adat Ababi di Karangasem, Desa Kusamba di Klungkung (Nyepi Segara atau pantangan melaut), Desa Pedawa dan Cempaga Buleleng. Kehadiran Hindu ke Bali memperkuat fondasi teologis praktek yang sudah mengakar itu.

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat menggelar Dharma Santi Nasional 2026 sebagi puncak perayaan Hari Raya Nyepi tahun ini. Acara itu mengusung tema "Vasudhaiva Kutumbakam: Nusantara Harmoni, Indonesia Maju".

Sebelumnya sudah sukses menggelar Mahashivaratri Prambanan Shiva Festival 2026 di Candi Prambanan yang diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD).

Perayaan Dharma Santi Nasional 2026 kembali diselenggarakan di Bali pada 17 April 2026 yang menekankan persatuan dan keharmonisan dalam keberagaman sebagai satu keluarga dunia. 

Membangun kebersamaan, toleransi menjadi tantangan masa kini dan ke depan di tengah kemajuan teknologi dan pengaruh globalisasi. 

Apalagi saat ini masih ada perang di Timur Tengah, akibat serangan Israel/Amerika Serikat (AS) ke Iran sejak tanggal 28 Februari 2026.

Namun perang antara Rusia dan Ukraina belum berakhir. Sementara perang telah dimulai antara Amerika-Israel dan Iran. 

Perselisihan di seluruh dunia tidak berhenti dan perang terus berlanjut sebagai pertanda Kali Yuga. Hal itu menandakan orang lupa kasih sayang pikiran dan lupa kenyataan bahwa manusia terlihat berbeda tetapi kita semua satu (Vasudhaiava Kutumbakam).

Sejarah telat mencatat, era moderen telah terjadi Perang Dunia (PD) Pertama, sehingga "Liga Bangsa" didirikan. Tetapi dia tidak berjalan. Sekali lagi Perang Dunia (PD) Kedua terjadi. Ini seharusnya tidak terjadi lagi sehingga PBB didirikan. Namun sekarang melihat bagaimana situasinya. Dia di tempatnya, tidak efektif. Perang yang sedang terjadi tidak berhenti.

Pada zaman Dvapara Yuga juga telah terjadi perang besar selama 18 hari dikenal Mahābhārata. Mahābhārata memiliki arti sebenarnya adalah "Sejarah India." Mahā berarti agung, dan sejarah agung India. Bhārata berarti India.

Nama asli India adalah Bhārata-varṣa. Mungkin Anda tahu. Bhārata-varṣa. Seluruh planet ini pada awalnya dikenal sebagai Ilāvṛta-varṣa. Kemudian ada seorang raja, Mahārāja Bharata. Jadi sesuai dengan namanya, seluruh planet menjadi Bhārata-varṣa. Seluruh planet ini disebut Bhārata-varṣa menurut literatur Veda. Tetapi sekarang planet ini terbagi.

Ada sejarah panjang tentang bagaimana masyarakat manusia tersebar di seluruh planet Bumi. Menurut Mahābhārata, orang Amerika atau Eropa, berasal dari India (Bharatavarsa).

Peradaban Turki dan peradaban Yunani awalnya berasal dari India. Dua putra Mahārāja Yayāti diberi kerajaan Turki dan Yunani, dan dari Turki dan Yunani peradaban atau populasi Eropa berkembang, dan dari Eropa, orang Amerika, mereka datang ke sini. Tentu saja, itu adalah poin sejarah.

Dalam kitab Veda, bahwa bangsa – bangsa di seluruh di dunia pernah digolongkan bukan berdasarkan ras atau suku, tetapi berdasarkan spiritualitas. 

Jika dilihat dari kesadaran dan spiritual, bangsa-bangsa pada zaman Veda dibagi menjadi 2 bagian besar, yaitu Golongan Arya dan Mlecca.

Golongan Arya memiliki peradaban spiritual yang tinggi. Bangsa Arya tidak dibedakan atas ras ataupun keturunan, namun ras atau keturunan mana pun yang menjalankan prinsip – prinsip agama maka disebut Bangsa Arya. 

Ciri utama golongan arya adalah adanya brahmana dan pemuka agama lainnya.
Golongan Mlecca merupakan golongan yang tidak memiliki prinsip - prinsip agama. Tidak mengikuti orang suci dan melarang upacara korban suci. Kebanyakan raja - raja golongan Mlecca sudah dihabisi oleh Avatara.

Menurut ciri – ciri fisik dan tempat tinggal bangsa - bangsa, menurut kitab Veda (Mahabharata Purana dan Srimad Bhagavatam Skanda 11), bangsa - bangsa di dunia berawal dari Zaman Treta Yuga. 

Diawali dari Raja Pururawa yang merupakan asal muasal dari Dinasti Chandra. Raja Pururawa berputra yang terkenal bernama Raja Ayu. Raja Ayu memiliki 5 putra. Putra yang terkenal bernama Nahusa. Raja Nahusa memiliki putra, yang terkenal bernama Yayati. 

Keturunan Yayati banyak melahirkan golongan ksatria. Begitu juga banyak keturunan Yayati menjadi Mlecca (bukan Arya), yang merupakan golongan (bukan ras) yang tidak mengikuti orang suci dan tidak beragama. Ksatria tersebut banyak dibunuh oleh Parasurama dan sisanya melarikan diri ke berbagai penjuru dunia, sehingga menjadi cikal - bakal berbagai bangsa di seluruh dunia saat ini.

Ksatria tersebut disucikan di bawah dinasti Maharaja Sagara bersama Rsi Aurwa. Raja Sagara melakukan Aswamedha yang juga diikuti oleh Maharaja Yudustira pada masa Dwapara Yuga mulai berakhir.

Dikatakan juga, "Wahai Vyāsadeva, engkau telah menyusun sebuah sastra agung, Mahābhārata. Dan di dalam Mahābhārata itu engkau telah memperkenalkan segala sesuatu yang dapat diketahui untuk dipahami." Mahābhārata awalnya ditulis untuk kaum wanita dan strī-śūdra-dvija-bandhūnām (SB 1.4.25).

(Karena rasa welas asih, sang bijak agung menganggap bijaksana bahwa hal ini akan memungkinkan manusia untuk mencapai tujuan akhir kehidupan. Maka beliau menyusun narasi sejarah agung yang disebut Mahābhārata untuk kaum wanita, buruh, dan sahabat kaum dwifag.

Dahulu hanya ada satu bendera, Bhāratavarṣa, dan ibu kotanya adalah Hastināpura. Lambat laun kendali Pāṇḍava menurun. Hingga Mahārāja Parīkṣit, seluruh dunia adalah Bhāratavarṣa. Sekarang telah menjadi tanah kecil, semenanjung.

Ketika Mahārāja Yudhiṣṭhira melakukan yajña pengorbanan kuda, penduduk negara-negara ini juga hadir untuk mengambil bagian dalam perayaan tersebut, dan mereka memberikan penghormatan kepada Kaisar. 

Bagian dunia ini disebut Kimpuruṣa-varṣa, atau terkadang disebut provinsi-provinsi Himalaya (Himavatī). Konon, Śukadeva Gosvāmī lahir di provinsi-provinsi Himalaya ini dan bahwa ia datang ke Bhārata-varṣa setelah melintasi negara-negara Himalaya.

Dengan kata lain, Mahārāja Parīkṣit menaklukkan seluruh dunia. Ia menaklukkan semua benua yang berbatasan dengan semua lautan dan samudra di segala penjuru, yaitu bagian timur, barat, utara, dan selatan dunia.

Memang pada masa Maharaja Yudistira atau Sri Ramacandra, manusia terbebas dari segala kekhawatiran. Bahkan tidak ada suhu dingin atau panas ekstrem. 

Dengan demikian, tema yang diusung Dharma Santi Nasional 2026 sangat relevan dalam membangun kembali kesadaran Vasudhaiva Kutumbakam.

Suasta juga menjelaskan, rangkaian Perayaan NYEPI, akan selalu berulang setiap tahun; melasti sebagai pengingatan diri akan kesucian para dewa dengan membersihkan peralatan persembahyangan di laut; pangerupukan sebagai upaya tak terganggunya umat dengan segala bentuk bhuta; Nyepi sebagai puncak mahahening; ngembak geni sebagai suka cita dalam tali erat persaudaraan antarumat.

Musim hujan yang terjadi sepanjang awal tahun hingga memasuki Maret 2026 masih menjadi persoalan yang tak kunjung selesai di negeri ini, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan beberapa kota yang lain. Banjir, tanah longsor, adalah gambaran yang umum terjadi di negeri ini. dalam beberapa hal, alam nampak tidak ramah tetapi kita nampaknya tidak ada upaya belajar dari masa lalu tentang persoalan yang sama.

Nyepi tahun ini juga masih dibarengi dengan pergolakan politik, korupsi, konflik SARA yang kian menajam dalam beberapa kasus seperti yang terjadi di Papua beberapa bulan lalu. Begitu juga adanya kasus dugaan mega korupsi soal Pertamina, Timah dan lainnya.

Keselarasan antara pemerintah dengan partai, para pengamat yang tidak sejalan, debat di media elektronik yang tak kunjung menunjukkan kedewasaan dan kearifan. Kita seperti menjadi sebuah negeri yang masih berjalan di tempat sementara sejumlah negara lain telah mengejar ketertinggalan begitu cepat.

Carut-marutnya situasi negeri saat ini seperti membuang kearifan yang pernah dimiliki bangsa ini di masa lalu; menyingkirkan nurani dalam hidup berbangsa dan bernegara, melepas kebersamaan yang pernah dimiliki para pendiri bangsa. Kini yang terjadi ialah keriuhan dan keributan wacana yang jauh dari laksana. Kita hanya berpacu dengan percakapan-percakapan sengit di media elektornik, mengumbar hujatan, caci-maki, kebencian, fitnah hoaks yang tak menguntungkan kedamaian,keharmonisan dan stabilitas kultural.

Ritual yang begitu riuh, seremoni resmi yang hanya jatuh pada pidato-pidato normatif, namun setelahnya tetap saja terjadi sebuah kehebohan yang tak mendatangkan manfaat fungsional maupun manfaat rohani. Keberadaan internet dengan berbagai produk komunikasinya semakin menajamkan kegaduhan. Adakah bangsa ini mebutuhkan sedikit rasa sunyi untuk melihat ke dalam diri? 

Suasta seorang pengelana kehidupan  mengatakan, Nyepi adalah filosofi tahun baru bagi umat Hindu di Bali. Ketika tahun baru Saka datang, ia disambut keheningan diseluruh Bali. 

Para tetua Bali di masa lalu merumuskan keheningan secara awami dalam empat penyepian yang disebut sebagai catur bhrata panyepian. Keheningan secara luas adalah hal-hal mudah dimengerti oleh umat sedharma. Empat keheningan yang dimaksud ialah pertama sepi dari hal-hal terang (amati geni). Dalam konteks awam amati geni dipahami sebagai tidak menyalakan lampu di malam hari. Namun dalam kandungan maknawaminya jauh lebih dalam dari itu. Kesunyian dari terang memungkinkan kita memustkan pikiran untuk mencoba ‘masuk lebih jauh ke dalam diri’, memungkinkan ‘melihat samudra luas’ dalam akal budi, membantu kita ke pintu masuk menuju diri sejti. Bukankah bila kita mau memusatkan konsentrasi selalu memejamkan mata?

Selama setahun kita tak lepas dari tubuh-tuuh yang bergerak, panca indra yang terjaga sesuai fungsinya masing-masing, berpeluh lelah dalam pertarungan kerja, semuanya bergerak, bekerja, bergemuruh dalam diri. Dan saat Nyepi tiba, semua keriuhan tubuh dan pikiran itu menjadi berhenti sejenak, senyap, sunyi dan hening. Inilah saat amati karya yang paling indah untuk merasakan kontraksi bagaimana seluruh diri yang selama ini begitu riuh bergerak namun kemudian berhenti dari seluruh aktivitas. Ada kearifan leluhur yang menciptakan bahwa tubuh dan pikiran memerlukan "rasa" hening, mengumpulakn kembali energi yang dikuras habis selama hampir setahun menuju pemulihan yang kontemplatif.

Kediam dirian sehari penuh dalam keheningan ketiga yang disebut sebagai amati lelungan menggiring rohani mendapatkan suka citanya melakukan perantauan batin sehari penuh yang selama setahun ini jarang batin mendapat kesempatan untuk dirinya sendiri. Bercengkerama dengan batin, mendengarkan suara hati yang selama ini kita abaikan, merasakan kedamaian rohani lebih lekat, hanya mungkin dilakukan ketika kita mengosongkan diri dari langka-langkah bepergian. Kediamdirian adalah tapa bhrata kesunyian di mana yang ada ialah diri dan "diri sejati".

Bagaimanakah rasanya ketika hal-hal yang menyenangkan fisik dihentikan sehari? Inilah yang ditawarkan dalam keheningan amati lelanguan. Dalam keheningan lelanguan (hiburan), kita disarankan untuk lebih dekat dengan ‘hiburan yang paling sejati dalam diri kita’, yaitu nyanyian hati, nyanyian kesunyian, yang walaupun mungkin kita belum sampai pada tingkat ‘mendengarkan’ nyanyian hati atu kesunyian, setidaknya seluruh indra pada diri bisa diistirahatkan dari hiburan-hiburan hedonistik. Hiburan-hiburan yang bersifat indrawi pun kadang menjemukan juga.

Bagi tetua Bali masa lalu, Nyepi tak bertimbang pada untung-rugi dalam pergerakan ekonomi, karena bagaimanapun mungkin mereka merasa, ada satu waktu di mana orang-orang membutuhkan rasa sunyi untuk memberi kesempatan memeriksa seluruh diri dalam perjalanan hidup setahun setelahnya.

Bagi mereka yang tekun suntuk dalam perilaku spiritual, mementum Nyepi menjadi saat yang paling indah melakukan tapa bharata (pengekangan seluruh napsu yang ada dalam diri), yoga dan semadi yang serius. Karena saat Nyepi adalah kondisi yang paling memungkinkan mereka dapatkan, yakini keheningan menyeluruh yang membantu mereka dalam mengantar jalan spiritual mereka. Namun bagi orang awam, empat jalan yang dijelaskan di atas sebaiknya ditaati berdasarkan ketentuan awig-awig adat yang berlaku pada saat pelaksanaan hari Nyepi.

Dalam berbagai pemahaman tattwa (filsafat), arti sunyi—atau sunya menemukan pemaknaann
ya bahwa sunyi bukanlah selalu dipahami secara harfiah. Ketiadaan bukanlah hal kosong. Sunyi, dalam pemahaman mereka, adalah situasi sunya yang memungkinkan orang-orang menemukan pencerahan, suatu jalan menemukan kesadaran utuh kepada diri sejati.

Menuju sunyi adalah laku spiritual. Tidak sedikit pakar sunya tattwa meyakini bahwa kondisi sunyi adalah bangunan seluruh kesadaran diri yang menghendaki penyatuan kepada jati diri. Dan jalan sunyi itu adalah syarat yang paling memungkinkan ke arah itu. “Jadi, hakikat sunya adalah sunyi yang Nirwujud,” 

Dalam sunya, semua keberadaan ini sudah kehilangan identitasnya dan yang ada hanyalah esensi. Untuk itu, mengadakan sunya adalah laku spiritual untuk memunculkan ruang sunyi dalam diri sebagai kesadaran total yang tidak lagi terjebak oleh atribut dan identitas diri yang membelenggu dan menciptakan dinding tebal kekauan dan menghilangkan kadar kemurnian Sang Atma. Maka, hakikat dari mengadakan sunya dalah berupaya menyelami diri sehingga sampai kepada sebuah pengalaman di mana semuanya dirasakan sama dalam pandangan yang sama.

Sesungguhnya menuju diri sejati adalah sebuah ‘perjuangan rohani’ umat manusia dalam mencapai kebahagiaan yang paling hakikat, kemurnian yang sungguh-sungguh transendental. Sering kali pula jangankan upaya untuk menemukan diri sejati, bahkan untuk merekonstruksi ‘ruang sunyi’ dalam diri pun belum tentu mudah. Kuatnya pengaruh keduniawian sering kali mengikat umat manusia menyelami dirinya sendiri, menemukan hakikat diri yang ‘Tak Berwujud’. 

Sebagaimana yang diungkapkan Bagawad Gita Bab IV Sloka 4, “Bagi mereka yang pikirannya dipusatkan kepada Yang Terwujud, kesulitannya lebih besar, karena sesungguhnya jalan dari Yang Tidak Termanifestasikan sukar dicapai oleh orang yang mempunyai badan jasmani”.

Seberapa besar pun sukarnya menuju pada Yang Hakikat, namun para bijaksana dengan penuh kasih tetap menuntun umatnya menuju ke diri sejati. Inilah yang mungkin sebabnya mengapa para leluhur Bali memutuskan merekonstruksi Nyepi sebagai ruang mahasunyi untuk memeriksa segala perbuatan, tindakan, ucapan untuk menjadi permenungan yang memadai untuk orang banyak.

Nyepi adalah kondisi yang dengan sadar dibangun untuk menuju situasi mahahening. Para umat Hindu Nusantara khususnya di Bali, kemudian dipersilakan untuk menyikapi diri dalam keheningan itu. Kondisi keheningan secara umum telah disediakan, maka jika kita bijaksana, maka kondisi ini adalah momentum yang sesungguhnya sangat spirtitual untuk memahami apa yang terjadi dalam diri dan luar diri.

Bahkan dalam percakapan Krsna dengan Arjuna dalam Medan Perang Kurukshetra, Bhagavad Gita Sloka 10.38 disebutkan, maunaṁ caivāsmi guhyānāṁ atau di antara rahasia-rahasia Aku adalah "keheningan". 

Di antara kegiatan rahasia seperti mendengar, berpikir, dan bermeditasi, keheningan adalah yang paling penting karena dengan keheningan seseorang dapat membuat kemajuan dengan sangat cepat. (GAB/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Gempa 8,9 SR Mentawai Mengancam Sumbar

Terpopuler

Sambut Nyepi, BTID Gelar Safari Ogoh-Ogoh, Perkuat Sinergi Budaya di Desa Serangan

Sambut Nyepi, BTID Gelar Safari Ogoh-Ogoh, Perkuat Sinergi Budaya di Desa Serangan

15 Batal Terbang Rute Internasional Bandara Ngurah Rai, Dampak Perang Israel - Iran

15 Batal Terbang Rute Internasional Bandara Ngurah Rai, Dampak Perang Israel - Iran

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

Menteri PKP Siapkan Rusun Khusus Seniman di Denpasar, Hunian Bernuansa Lokal

Menteri PKP Siapkan Rusun Khusus Seniman di Denpasar, Hunian Bernuansa Lokal

MUDIK dengan sehat

MUDIK dengan sehat

Rakor Percepatan Penanganan Sampah, ​Carut-Marut TPA Suwung Diusut Bareskrim

Rakor Percepatan Penanganan Sampah, ​Carut-Marut TPA Suwung Diusut Bareskrim