Oleh Tjandra Yoga Aditama
Eskalasi konflik dan perang di kawasan Timur Tengah hari ini masih terus berlanjut. Setidaknya ada lima dampak buruk bagi kesehatan pada situasi perang seperti sekarang ini. Pertama tentu dampak langsung yang meninggal, cedera dan sakit. Kalau kita lihat data perang Israel dan Iran ini Juni 2025 etika itu, data sampai akhir Juni 2025 menunjukkan lebih dari 1900 orang meninggal dan lebih dari 4000an orang yang cedera dalam berbagai keadaannya. Data pada perang yang sekarang sedang terjadi belum kita ketahui, tetapi sejauh ini skala perangnya nampaknya lebih besar sehingga angka yang meninggal dan cedera juga akan besar pula.
Ke dua adalah dampak buruk ketika terjadinya serangan pada rumah sakit. Sedikitnya ada lima dampaknya. Ke satu petugas kesehatan terluka, ke dua kerusakan pada fasilitas khusus seperti “Intensive Care Unit (ICU)”, ruang rawat kemoterapi, dll., ke tiga karena kerusakan rumah sakit maka pasien harus dievakuasi, dan karena ada berbagai serangan bom maka bahkan mungkin ada pasien yang terpaksa diungsikan ke bunker bawah tanah, tentu dengan fasilitas yang amat terbatas. Ke empat, rumah sakit juga akan penuh pasien, tindakan pembedahan elektif ditunda karena kewalahan menangani pembedahan yang gawat darurat. Ke lima, belum lagi kalau ada gangguan aliran listrik yang membuat alat kesehatan tidak dapat berfungsi.
Dampak ke tiga adalah sumber daya dan sarana serta prasarana kesehatan didaerah perang. Ini meliputi keterbatasan petugas kesehatan, keterbatasan obat dan alat kesehatan dll, padahal jumlah pasien yang harus ditangani jadi jauh lebih banyak serta perburukan sanitasi yang mengakibatkan peningkatan morbiditas dan mortalitas akibat berbagai penyakit. Dampak ke empat yang juga sangat penting adalah krisis kesehatan mental.
Masyarakat di daerah konflik tentu amat tertekan, mengalami trauma kejiwaan dan juga ketakutan dengan suara bom atau serangan udara yang ada. Belum lagi dampak kejiwaan akibat kehilangan anggota keluarga, kehilangan tempat tinggal, tempat bekerja dan bahkan mungkin kota tempat tinggalnya.
Dampak ke lima adalah gangguan kesehatan masyarakat secara luas. Dalam konflik peperangan maka sistem sanitasi juga dapat rusak, demikian juga ketersediaan air bersih dan makanan bersih dan sehat. Program vaksinasi rutin tentu juga tidak akan dapat berjalan baik, sehingga penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) dapat jadi merebak dan terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) atau wabah. Kalau kemudian terjadi pengungsian warga maka akan dapat timbul berbagai masalah kesehatan laun, seperti penyakit berbagai infeksi saluran napas, saluran cerna dll.
Sebagai penutup disampaikan pernyataan DirJen WHO yang menegaskan bahwa obat terbaik adalah situasi damai, "the best medicine is peace". Sementara itu, “World Medical Association” (dimana Ikatan Dokter Indonesia IDI adalah salah satu anggotanya) menyatakan bahwa serangan pada rumah sakit melanggar hukum internasional. Organisasi Dokter Dunia menyampaikan solidaritasnya pada petugas kesehatan dan organisasi profesi kesehatan di daerah perang dan mengutuk serangan pada fasilitas kesehatan.
*) Tjandra Yoga Aditama Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
Penerima Rekor MURI April 2024, Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 - PERSI dan Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025