Oleh Jro Gde Sudibya
Pasca kematian pemimpin tertinggi Iran Ayatolah Ali Khamenei, Sabtu, 28 Februari 2026, terjadi tindakan balasan oleh Iran, menyerang dengan senjata rudal: kapal induk AS ASS Abraham Lincoln, pangkalan udara dari Qatar, UEA, Arab Saudi, pangkalan udara Perancis di Qatar. Pernyataan dukungan Rusia, China dan Korea Utara terhadap Iran, yang punya potensi perang akan meluas dan semakin sulit untuk dihentikan. Bisa-bisa terjadi potensi risiko awal dari Perang Dunia Ketiga.
Tantangan keras kepemimpinan nasional yakni a) Jika kondisi semakin memburuk (worse scenario), perang di Timur Tengan meluas, semakin membakar kawasan itu, Korea Utara menyerbu Korea Selatan dengan rudal (bisa saja dengan Hulu Ledak Nuklir), China menjalankan ambisinya menguasai Taiwan terus menusuk ke Selatan menguasai Laut China Selatan. Pangkalan AS yang ada di Jepang dan Filipina melakukan serangan balasan. Australia dengan kerja sama kapal selam nuklir dengan AS dan Inggris melakukan serangan balasan dari dari arah Utara. Posisi Indonesia menjadi terjepit, di tengah kemampuan Alutsista TNI yang terbatas, dan daya tahan perang berkepanjangan yang relatif pendek. Pemimpin nasional mesti memutuskan ke pihak mana kita akan memihak, dalam risiko tinggi terhadap keberlanjutan negara bangsa;
b) Dalam "worse case" di atas, timbul pertanyaan: berapa bulan stock pangan yang ada untuk menghidupi 280 juta orang jika Selat Malaka mengalami pemblokiran, sehingga ekspor - impor berhenti dalam kurun waktu yang tidak jelas; c) Bagaimana Kabinet Merah Putih menyusun "contingency plan" pada butir b di atas, dalam potensi risiko kelangkaan pangan, meledaknya kemiskinan dan berlipat gandanya kelaparan.
*) Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi politik dan kecenderungan masa depan.