Dampak Pariwisata Bali: Perang Israel - Iran Ditambah Cuaca Ekstrem, Penerbangan Batal
Admin 2 - atnews
2026-03-02
Bagikan :
Dampak Geopolitik (ist/atnews)
Denpasar (Atnews) – Serangan militer gabungan Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap berbagai kota di Iran membuat panas geopolitik memanas di kawasan Timur Tengah, sejak tanggal 28 Februari 2026.
Pada serangan pertama itupun, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei terbunuh sebagai bagian dari serangkaian serangan rudal Israel di sekitar Teheran yang ditujukan kepada pejabat tinggi Iran. Kematian Khamenei tersebut dikonfirmasi oleh pemerintah Iran pada tanggal 1 Maret 2026.
Kondisi itu itupun diprediksi mengancam keberlangsungan pariwisata dan perekonomian Bali.
Namun demikian, belum ada laporan resmi, dampak perang terhadap kunjungan wisatawan ke Bali dinilai tetap harus diantisipasi sejak dini.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan asal kawasan Timur Tengah ke Bali dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren meningkat. Pada tahun 2022 tercatat 16.014 kunjungan, naik menjadi 42.147 pada tahun 2023, kemudian 57.620 pada 2024, dan mencapai 83.151 pada tahun 2025. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada 2023 sebesar 142,76 persen, disusul 6,28 persen pada 2024 dan kembali melonjak 44,31 persen pada 2025.
Hal itu mendapatkan respon dari Ketua Komisi II DPRD Bali membidangi pariwisata, Agung Bagus Pratiksa Linggih atau yang akrab disapa Ajus Linggih di Kantor DPRD Bali, Niti Mandala Denpasar, Senin (3/2).
Ajus Linggih menilai ketidakstabilan politik global hampir pasti berimbas pada sektor pariwisata. Menurutnya, pembatalan sejumlah penerbangan dan gangguan cuaca ekstrem turut memperberat situasi.
“Kalau saya lihat memang ketidakstabilan politik dunia itu pasti berdampak ke sektor pariwisata. Beberapa penerbangan juga di-cancel, ditambah kemarin kita ada cuaca ekstrem dan tiga angin typhoon sehingga curah hujan tinggi. Banyak penerbangan dari Australia juga terhambat. Ini tentu sangat berdampak ke pariwisata Bali,” kata Ajus Linggih.
Dari sisi ekonomi, Ajus menilai konflik yang melibatkan sejumlah negara besar berpotensi menekan daya beli dan belanja wisatawan. Ia menyinggung peran Iran dalam suplai minyak global serta dinamika dukungan geopolitik negara-negara besar yang membuat situasi makin kompleks.
“Kalau sampai terjadi perang besar, semua pasti rugi. Bali sebagai industri tersier pariwisata pasti akan menjadi yang pertama terdampak. Orang-orang akan mengurangi spending dan masuk ke mode bertahan,” kata Ketua Umum HIPMI Bali ini.
Meski demikian, ia optimistis para pemimpin dunia akan mencari jalan damai. Untuk jangka pendek, ia mendorong para pemangku kepentingan pariwisata di Bali memperkuat aspek keamanan dan kenyamanan. Menurutnya, posisi Indonesia sebagai negara non-blok dengan politik luar negeri bebas aktif bisa menjadi nilai tambah.
“Bali harus bersiap menjadi lokasi yang aman bagi wisatawan mancanegara yang mungkin ingin menetap sementara sampai situasi stabil. Tapi tentu wisatawan yang datang harus berkualitas dan mematuhi aturan kita,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Bali, Dewa Made Mahayadnya alias Dewa Jack, mengaku belum menerima laporan resmi terkait dampak konflik terhadap pariwisata Bali. Ia menyebut DPRD belum menggelar rapat khusus dengan Dinas Pariwisata maupun menerima arahan dari Gubernur Bali.
“Saya baru hanya baca dari koran. Kami belum mengadakan rapat resmi dengan dinas pariwisata dan belum mendengar juga dari pimpinan di provinsi. Saya tidak ingin memberikan penjelasan yang tidak sesuai data. Mudah-mudahan efeknya tidak terlalu besar terhadap pariwisata Bali,” ujar politisi PDI Perjuangan ini.
Kepala Dinas Pariwisata Bali, I Wayan Sumarajaya, menegaskan pihaknya terus memantau data kunjungan wisatawan asing dan berkoordinasi dengan instansi terkait serta pelaku industri pariwisata.
“Karena kejadiannya baru dua hari, kami terus mengamati perkembangan termasuk kedatangan wisatawan. Kami berharap konflik ini tidak makin meluas dan tidak berlangsung lama serta tidak berdampak signifikan terhadap pariwisata,” katanya.
Ia juga mengimbau pelaku usaha menjaga komunikasi dengan mitra di luar negeri serta terus menyampaikan informasi bahwa Bali dalam kondisi aman dan nyaman untuk dikunjungi. Dengan tren kunjungan wisatawan Timur Tengah yang sebelumnya menunjukkan peningkatan signifikan, para pemangku kepentingan kini berharap situasi global segera mereda agar momentum pemulihan pariwisata Bali tetap terjaga di tengah dinamika geopolitik dunia.
Sedangkan, Communication and Legal Division Head PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Gede Eka Sandi Asmadi mengatakan, sebanyak 15 penerbangan rute internasional (8 keberangkatan dan 7 kedatangan) yang mengalami pembatalan penerbangan.
Sehubungan dengan penutupan ruang udara di sejumlah negara akibat perang Israel/Amerika Serikat (AS) dengan Iran hingga Senin, 2 Maret 2026 pukul 13.00 WITA.
Adapun rincian jadwal penerbangan yang mengalami penyesuaian jadwal tersebut adalah sebagai berikut:
Kedatangan: 1) Etihad EY476 STA 11.35 WITA (1 Maret) rute Abu Dhabi (AUH) ke Denpasar (DPS) - CANCELED 2) Emirates EK368 STA 16.30 WITA (1 Maret) rute Dubai (DXB) ke Denpasar (DPS) - CANCELED 3) Emirates EK398 STA 22.20 WITA (1 Maret) rute Dubai (DXB) ke Denpasar (DPS) - CANCELED 4) Qatar Airways QR960 STA 22.50 WITA (1 Maret) rute Doha (DOH) ke Denpasar (DPS) - CANCELED 5) Qatar Airways QR961 STA 05.10 WITA (2 Maret) rute Doha (DOH) ke Denpasar (DPS) - CANCELED 6) Emirates EK368 STA 16.30 WITA (2 Maret) rute Dubai (DXB) ke Denpasar (DPS) - CANCELED 7) Emirates EK398 STA 22.20 WITA (2 Maret) rute Dubai (DXB) ke Denpasar (DPS) - CANCELED
Namun demikian, dapat pihaknya sampaikan bahwa operasional penerbangan dan pelayanan kebandarudaraan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali secara umum tetap berjalan dengan normal dan optimal.
Manajemen PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) selaku pengelola Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali secara berkesinambungan terus melakukan pemantauan situasi ruang udara di kawasan Timur Tengah, serta terus melakukan koordinasi dengan sejumlah instansi, utamanya dengan maskapai penerbangan untuk terus melakukan pembaharuan jadwal penerbangan dan penanganan calon penumpang yang telah berada di bandara, dengan AirNav Indonesia untuk memantau ruang udara yang terdampak, serta dengan aparatur keamanan untuk antisipasi situasi keamanan di bandara.
Berdasarkan data dari maskapai penerbangan, jumlah calon penumpang dari penerbangan yang mengalami penyesuaian jadwal penerbangan tersebut berjumlah 3.197 penumpang, di mana data tersebut merupakan jumlah calon penumpang keberangkatan.
Adapun penanganan terhadap seluruh penumpang tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan kebijakan masing-masing maskapai.
Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai juga telah mengantisipasi rencana pengaturan parking stand dari pesawat dari penerbangan yang terdampak, yang dialokasikan untuk 5 pesawat udara dari 3 maskapai penerbangan yang terdampak.
“Kami mengimbau kepada calon penumpang pesawat udara untuk terus berkomunikasi dengan maskapai penerbangan untuk pembaharuan informasi jadwal penerbangan,” ungkapnya.
Pihanya turut menyediakan layanan help desk yang berlokasi di Lantai 2 Terminal Keberangkatan Internasional, serta layanan contact center yang dapat diakses melalui sambungan telefon dengan nomor 172 untuk pembaharuan informasi. (Z/002)