Banner Bawah

Totalitas Menghadapi Banjir

Admin 2 - atnews

2026-02-25
Bagikan :
Dokumentasi dari - Totalitas Menghadapi Banjir
Kondisi Cuaca Ekstrem (ist/atnews)

Oleh Gede Pasek Suardika

Tulisan ini hanya curah pendapat dan semoga bermanfaat untuk masukan dan minimal untuk bahan diskusi mencari solusi. Masalah boleh ada, tapi ikhtiar cari solusi harus dikedepankan.

Untuk mencegah banjir secara komprehensif.

Di Hulu:
1) Hutan harus kembali apapun pertaruhannya. Nyawen harus dipidana. Berikan solusi warga sekitar dengan pekerjaan sehingga tidak lagi Nyawen atau menanami hutan dengan pohon produksi. Hutan tanami dengan pohon pohon yang bisa menyimpan air dan tidak terlalu benrilai ekonomi agar tidak dipotong;

2) Sungai: pendangkalan sungai harus ditangani secara khusus dengan selalu dilakukan pengerukkan dan hasil kerukannya dibawa ke daerah daerah gersang untuk kemudian dijadikan hutan. Sebab biasanya tanah tersebut tanah subur akan memudahkan penanaman  penghijauan lebih massif di daerah tandus. Sepanjang sungai ditanami pohon pohon yang bisa menahan abrasi longsor dan lainnya;

 3) Bendungan: beberapa bendungan ternyata kualitasnya buruk. Mungkin banyak dikorupsi. Contoh Bendungan Titab dan Bendungan Tajun ada retakan yang membuat bocor. Akibatnya tidak pernah diisi penuh airnya. Sayangnya tidak ada yang penegak hukum turun melakukan penyelidikan atas proyek nasional ini. Bendungan berkualitas di Bali adalah harga mati karena daerah internasional.

Perlu dibangun juga embung embung di wilayah Bali selatan khususnya danseluruh Bali pada umumnya sebagai sarana penampungan air alami sekaligus pusat pusat air bagi warga di musim kemarau. Embung embung yang di buat bisa dikombinasikan dengan THK taman hutan kota sebagai pusat rekreasi warga.

Di Hilir:
1) Manajemen tata kelola air harus mengatur alur dan aliran air dari hujan turun dan sungai, tukad, got, gorong gorong yang mengalir dalam satu ekosistem tata kelola air. Perlu penelitian komprehensif soal ini. Libatkan ahli tata kota dan ahli tata kelola air perkotaan digandengkan dengan arsitek dan sipil. Landscape. Ekosistem air dari turun dari langit sampai nanti mengalir ke laut harus diteliti dna dicarikan solusi arsitekturalnya;

2) Hubungan antara jalan dan got serta trotoar harus diatur agar mampu menampung air maksimal dan secara rutin dilakukan pengerukkan. Musim kemarau proyek pengerukkan, musim hujan daya tampung got meningkat. jalur air masuk got di sistem trotoar harus diatur dengan baik;

3) Sampah, sekali lagi sampah harus diatasi. sudah terlalu banyak tulisan saya tentang solusi sampah. Silakan di scroll saja ulang;

4) PBG untuk seluruh perijinan bangunan wajib diperhitungkan ada biopori untuk membantu injeksi air ke dalam tanah dengan jumlah yang signifikan. Biopori air dan biopori sampah organik diatur dalam satu paket izin PBG. Untuk yang sudah ada IMB dan sudah ada bangunan dilakukan gerakan massal membangun biopori di semua rumah dengan pemerintah memberikan stimulus agar memaksimalkan air hujan dan air rumah tangga sedapat mungkin terinjeksi ke dalam tanah masing masing sebelum sisanya keluar rumah;

5) Izin bangunan gedung dan rumah diwajibkan jauh lebih tinggi dari jalan dan sungai, Sehingga meminimkan rumah rumah terendam jika ada banjir. Pengaturan got rumah sampai subgainjuga dipastikan dalam alur dan aliran tersambung terkait dan terkonsolidasi dengan baik. Perlu ada tim terpadu mempelajarinya sebelum dilakukan langkah perbaikan; 

6) Gerakan penyadaran, pelatihan atasi bencana harus didik sejak kecil sehingga ke depannya lagi latihan. Latihan kecil bagi anak anak akan melahirkan. Kesadaran kolektif mengatasi bencana yang hadir. 

Sumber anggaran:
1) APBN
2) APBD
3) CSR/TJSL
4) Gotong royong masing-masing warga untuk lingkungan bersama.

Gerakan ini tidak bisa dilakukan parsial atau setengah setengah. Karena air tidak pernah memilih tempat sehingga harus dikerjakan bersamaan komprehensif dan terukur evaluasinya.

Panglimanya pemerintah dan wakil rakyat dimulai dari janji dan tekad tidak ada lagi uang bansos selain untuk urusan penggunaan penuntasan banjir. Cukup 4-5 tahun saja. Alasannya? Karena mereka punya otoritas, bisa buat aturan dan punya anggaran. 

Banjir memang masalah, tetapi kita sebagai manusia dibekali idep atau pikiran dan kemampuan mengatasi setiap masalah, sehingga saatnya dilakukan secara serentak. Mengeluh boleh jangan lama-lama, pemimpin bingung boleh tapi juga jangan lama-lama. Karena solusi selalu ada untuk mereka yang mau fokus serius dan tulus mengatasi masalah yang ada. 

Banyak kota yang lebih padat penduduknya dan bangunan betonnya lebih banyak tetapi mampu atasi banjir. Ya karena mereka berpikir berkata dan bertindak untuk mengatasinya. Bukan rakyatnya mengeluh dan pemimpinnya bingung. 

Itu curah pendapat Saya, bagaimana masukan atau pendapat tambahan menurut semeton. Semoga juga dibaca oleh pemegang kebijakan. Ini masalah kita yang harus kita hadapi bersama. 

*) I Gede Pasek Suardika, Advokat sekaligus mantan anggota DPR dan DPD RI Dapil Bali, I Gede Pasek Suardika (GPS)

Baca Artikel Menarik Lainnya : BKD Ajak Pers Lakukan Pengawasan

Terpopuler

Nilai Tukar Petani (NTP) Menaik: Indikasi Perwujudan Ekonomi Kerthi Bali

Nilai Tukar Petani (NTP) Menaik: Indikasi Perwujudan Ekonomi Kerthi Bali

BPOLBF Gandeng Investor Kembangkan Wellness dan Agrowisata Berkelanjutan di Parapuar Labuan Bajo

BPOLBF Gandeng Investor Kembangkan Wellness dan Agrowisata Berkelanjutan di Parapuar Labuan Bajo

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

Perpaduan Budaya di Tepi Pantai: Kecak dan Barongsai Meriahkan Imlek di The Nusa Dua

Perpaduan Budaya di Tepi Pantai: Kecak dan Barongsai Meriahkan Imlek di The Nusa Dua

GPS Minta Cabut Status Tersangka Kepala BPN Bali, Tim Hukum Soroti Asas Legalitas

GPS Minta Cabut Status Tersangka Kepala BPN Bali, Tim Hukum Soroti Asas Legalitas

Tandatangani Traktat Keamanan Bersama, Perkuat Kemitraan Strategis Indonesia-Australia

Tandatangani Traktat Keamanan Bersama, Perkuat Kemitraan Strategis Indonesia-Australia