Jakarta (Atnews) - Indonesia–India Youth Forum (IIYF) menilai rencana impor mobil pick up dari India untuk Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih sebagai keputusan ekonomi yang rasional, sepanjang dilakukan secara transparan dan berorientasi pada kepentingan nasional.
Ketua IIYF, Ravindra, mengatakan bahwa dalam konteks ekonomi global yang terbuka dan kompetitif, kerja sama industri lintas negara merupakan praktik yang lazim dilakukan Indonesia dengan berbagai mitra.
“Indonesia selama ini menjalin kolaborasi otomotif dengan banyak negara. Karena itu, kerja sama dengan India seharusnya dilihat dalam kerangka yang sama, yakni sebagai pilihan ekonomi yang berbasis efisiensi, kebutuhan, dan manfaat,” ujar Ravindra, Senin (23/2/2026).
Menurutnya, India merupakan salah satu pusat produksi kendaraan komersial terbesar di dunia dengan daya saing harga dan kapasitas manufaktur yang kuat. Dalam konteks kebutuhan operasional koperasi desa seperti distribusi hasil pertanian, logistik UMKM, dan mobilitas ekonomi desa pengadaan kendaraan harus dilihat dari sisi efektivitas dan fungsionalitasnya.
“Yang paling penting adalah apakah kendaraan tersebut mampu menunjang produktivitas koperasi dan memperkuat ekonomi desa. Jika jawabannya ya, maka keputusan tersebut masuk dalam kategori rasional secara ekonomi,” katanya.
Ravindra juga menegaskan bahwa dalam setiap kerja sama strategis antarnegara, dinamika dan kompetisi kepentingan industri global merupakan hal yang wajar. Namun arah kebijakan Indonesia, menurutnya, harus tetap ditentukan oleh perhitungan manfaat nasional dan bukan semata persepsi.
“Kita memahami bahwa sektor otomotif adalah industri yang sangat kompetitif. Perbedaan pandangan dalam merespons kebijakan adalah bagian dari demokrasi ekonomi. Namun pada akhirnya, yang harus menjadi pijakan adalah kepentingan rakyat dan efektivitas kebijakan,” ujarnya.
Ia menambahkan, Indonesia sebagai negara dengan jaringan kemitraan global yang luas perlu menunjukkan konsistensi dan kepercayaan diri dalam membangun kerja sama yang setara dan saling menguntungkan.
“Selama prosesnya akuntabel dan manfaatnya jelas bagi koperasi serta perekonomian nasional, maka kerja sama tersebut patut dilihat sebagai bagian dari dinamika pembangunan ekonomi Indonesia,” tutup Ravindra. (Z/002)