Oleh Krisna Andika
Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 telah berlalu. Kini, bangsa Indonesia memasuki Februari 2026 yang diprediksi menjadi awal Puasa Ramadhan 1447 Hijriah. Pergantian momentum keagamaan ini tidak sekadar penanda kalender, melainkan ruang refleksi kebangsaan. Nilai-nilai perjuangan 1945 yang dahulu mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan, menemukan relevansinya kembali dalam laku spiritual Puasa Ramadhan 2026.
Ramadhan selalu menghadirkan dimensi ganda: spiritual dan sosial. Dalam tradisi Islam, puasa bukan hanya kewajiban ritual, tetapi proses pembentukan karakter. Ia melatih pengendalian diri, kesabaran, kejujuran, serta empati terhadap sesama. Dalam konteks kebangsaan, latihan spiritual ini menjadi fondasi kedewasaan kolektif.
Sebagaimana semangat juang para pahlawan seperti Bung Tomo yang membakar semangat rakyat Surabaya pada 1945, Ramadhan mengajarkan keberanian moral—keberanian untuk melawan egoisme, kemalasan, dan ketidakpedulian sosial. Puasa melatih kita untuk merasakan lapar dan dahaga, sehingga lahir solidaritas yang nyata terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Puasa dalam Konteks Tantangan Bangsa 2026
Tahun 2026 menghadirkan dinamika sosial dan ekonomi yang tidak ringan. Ketimpangan kesejahteraan, tantangan dunia pendidikan, serta arus globalisasi yang kian cepat menuntut ketahanan karakter bangsa. Dalam situasi seperti ini, Ramadhan menjadi ruang penguatan moderasi, toleransi, dan persatuan.
Semangat persatuan yang dahulu digelorakan oleh Bung Karno menjadi relevan untuk dihidupkan kembali. Puasa tidak hanya mengajarkan kesalehan individual, tetapi juga kesadaran kolektif untuk menjaga harmoni sosial. Di tengah keberagaman Indonesia, Ramadhan dapat menjadi jembatan solidaritas lintas kelompok, memperkuat kohesi sosial, dan meneguhkan komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ramadhan sebagai Praktik Bela Negara
Bela negara tidak selalu hadir dalam bentuk fisik atau militer. Ia dapat diwujudkan dalam tindakan sederhana namun konsisten: menjaga kerukunan, menaati hukum, bekerja dengan integritas, dan berkontribusi bagi masyarakat. Dalam perspektif ini, Puasa Ramadhan 2026 adalah bentuk bela negara yang bersifat kultural dan moral.
Dengan menahan diri dari perilaku destruktif—korupsi, ujaran kebencian, intoleransi—umat beragama secara tidak langsung sedang memperkuat fondasi kebangsaan. Spirit Ramadhan membentuk warga negara yang berdisiplin, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Jiwa Nilai-Nilai 45 dalam Ramadhan 2026
Nilai-nilai 45 bukan sekadar romantisme sejarah.
Ia adalah etos perjuangan yang meliputi:
1. Keberanian menghadapi tantangan zaman
2. Keteguhan dan pantang menyerah
3. Pengutamaan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi
4. Komitmen pada persatuan dan kesatuan
Ramadhan menjadi momentum internalisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Spirit pengorbanan dalam puasa selaras dengan semangat para pendiri bangsa yang rela berkorban demi kemerdekaan.
Puasa Ramadhan 2026 bukan hanya perjalanan spiritual menuju ketakwaan, melainkan juga proses pendewasaan bangsa. Ia menghadirkan ruang refleksi sekaligus aksi: memperbaiki diri, memperkuat solidaritas, dan meneguhkan komitmen kebangsaan.
Jika dijalani dengan kesadaran kolektif, Ramadhan 1447 Hijriah dapat menjadi tonggak penguatan karakter nasional sebuah momentum bela negara dalam bentuk yang paling mendasar: pembentukan manusia Indonesia yang beriman, berakhlak, dan berjiwa Pancasila.
*) Krisna Andika adalah Mahasiswa S2 Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.