Oleh Prof Tjandra Yoga Aditama
Pada 8 Februari 2026 ini saya menjadi pembicara pada acara yang diselenggarakan oleh Indonesia Influenza Foundation (IIF) dab Bersatu Sehatkan Indonesia Foundation. Saya menyampaikan tentang masalah SARI (“severe acute respiratory infection”), atau penyakit berat pada paru dan saluran napas.
Saya mengacu pada laporan “Disease Outbreak News – DONs” WHO 3 bulan terakhir, Desember 2025, Januari 2026 dan Februari 2026, di mana didapatkan empat penyakit infeksi paru berat, yaitu Avian Infuenza, “Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS CoV)”, influenza yang utamanya adalah Super Flu dan tentang penyakit Nipah.
Pertama tentang Avian Influenza (Flu Burung) yang laporan DONs - WHO di Desember 2025 menyampaikan tentang kasus di Amerika Serikat. Data lain per Januari 2026 dari WHO Western Pacific Office (WPRO) dimana Indonesia menjadi anggotanya menunjukkan kasus terakhir 2025 adalah di Kamboja.
Sejauh ini (dari 2023 sampai 2025) ada 6 negara WPRO (termasuk Indonesia) yang pernah melaporkan kasus Flu Burung dengan angka kematian rata-rata 66,3%, walau angka kematian Flu Burung di negara kita memang lebih tinggi, yaitu 84%.
Beberapa spesies Flu Burung yang beredar di kawasan kita WHO WPRO adalah H3N8, H7N4, H7N9, H9N2, H10N3 dan H10N5. Ke dua, tentang “Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS CoV)” maka laporan DONs – WHO Desember 2025 adalah tentang 17 kasus di Saudi Arabia sepanjang tahun 2025.
Tentu ini perlu jadi perhatian kita juga mengingat banyaknya jamaah umroh Indonesia dan juga kesiapan menghadapi musim Haji tahun ini.
Ke tiga, tentang Super Flu (Influenza A H3N2 subclade K) yang sudah banyak dibahas selama ini. Data terakhir per 29 Januari 2029 dari Tokyo Jepang menunjukkan peningkatan kasus.
Disebutkan bahwa pemerintah kota Tokyo untuk pertama kalinya dalam 17 tahun mengeluarkan kembali “Influenza Advisory” sesudah sebelumnya advisory untuk jenis flu yang sama dicabut.
Yang juga perkembangan terakhir adalah berita awal Februari 2026 tentang peningkatan kasus Influenza B di Korea dan Jepang, yang ternyata juga ada peningkatan sedikit kasus Influenza B di Amerika Serikat.
Tentu hal ini perlu diwaspadai, yang pada kenyataannya ada juga kasus di negara kita karena Influenza B ini. Lalu ke empat tentang infeksi akibat Virus Nipah, yang utamanya memang tentang gangguan neurologik.
Tetapi juga ditemukan infeksi saluran napas akut dalam kondisi sedang dan berat, serta dapat terjadi pneumonia atipikal yang dapat berkembang menjadi penyakit paru berat dan “acute respiratory distress.”
Untuk kita di Indonesia maka perlu terus ditingkatkan kegiatan surveilans virus infeksi paru dan saluran napas, sehingga situasi dapat dikenali dan ditangani dengan baik.
*) Prof Tjandra Yoga Aditama Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)