Banner Bawah

Pak Oles: Ikigai adalah Hasrat Hidup yang Membuat Manusia Bahagia dan Panjang Umur

Admin 2 - atnews

2026-02-07
Bagikan :
Dokumentasi dari - Pak Oles: Ikigai adalah Hasrat Hidup yang Membuat Manusia Bahagia dan Panjang Umur
Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr, (ist/Atnews)

Denpasar (Atnews) - Direktur Utama PT Karya Pak Oles Group, Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr, menegaskan bahwa ikigai adalah hasrat atau gairah untuk hidup.

Pernyataan tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara tunggal dalam webinar bertajuk “Finding & Mastering Your Ikigai” yang diselenggarakan Bokashi Naturopati melalui Zoom, belum lama ini.

Dalam paparannya, sosok yang akrab disapa Pak Oles itu mengungkapkan bahwa masih banyak orang belum menemukan ikigai dalam dirinya. Kondisi tersebut kerap memicu stres, perasaan hidup tidak bermanfaat, hingga kehilangan arah.

“Banyak orang tidak menemukan apa ikigai-nya, sehingga merasa hidup tidak bermanfaat dan kehilangan arah,” ujarnya di hadapan puluhan peserta webinar.

Rahasia Panjang Umur Orang Okinawa

Alumnus University of the Ryukyus, Okinawa, Jepang ini menjelaskan bahwa konsep ikigai berasal dari Jepang, khususnya Okinawa — wilayah yang dikenal memiliki masyarakat berusia panjang dengan kualitas hidup baik.

Menurutnya, penelitian menunjukkan panjang umur masyarakat Okinawa tidak hanya dipengaruhi pola makan dan gaya hidup sehat, tetapi juga kebahagiaan yang muncul dari dalam diri.

“Yang terpenting adalah gaya hidup, yaitu bagaimana seseorang merasa happy dari dalam dirinya,” tegasnya.

Secara bahasa, iki berarti hidup dan gai berarti berharga atau bergairah. Ikigai dimaknai sebagai hidup yang bernilai dan penuh semangat.

Ikigai Harus Ditemukan, Bukan Dibuat

Pak Oles menekankan bahwa ikigai bukan sesuatu yang diciptakan, melainkan ditemukan dalam diri masing-masing. Ketika seseorang menemukan ikigai, ia akan bekerja dengan penuh kenikmatan, hidup lebih sehat, memperoleh penghasilan, dan berpeluang berumur panjang.

Ia mengajak peserta webinar untuk menemukan tujuan hidupnya, baik untuk keluarga, orang tua, anak, pasangan, maupun memberi manfaat bagi masyarakat.

“Itulah roh dari hidup, yaitu mengetahui tujuan hidup kita. Jika tujuan hidup sudah diketahui, maka kita akan mampu memahami dan memaknai arti hidup,” katanya.

Sebaliknya, kehilangan tujuan hidup dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental, serta memicu perilaku negatif.

Ikigai: Titik Temu Empat Lingkaran Kehidupan

Pak Oles menjelaskan bahwa ikigai berada pada pertemuan empat hal utama:

Apa yang Anda cintai (passion)

Apa yang Anda kuasai (profesi)

Apa yang dibutuhkan dunia (misi)

Apa yang dapat menghasilkan uang (vokasi)

“Ketika semua itu bertemu, di situlah Ikigai,” jelasnya.

Ia memberi contoh, seseorang yang menyukai pertanian, menguasainya, menghasilkan uang dari situ, dan produknya dibutuhkan masyarakat — maka pertanian adalah ikigainya.

Hobi Bisa Menjadi Jalan Hidup

Menurut Pak Oles, banyak orang belum menyadari bahwa hobi dapat menjadi sumber penghasilan sekaligus ladang pengabdian.

“Kalau hobi dijalani dengan serius, kita bekerja sambil bermain, kreatif, inovatif, menjadi ahli, dibutuhkan, dan bahkan dibayar dari hobi itu. Jadi tidak ada capeknya,” ujarnya.

Ia mencontohkan hobi traveling yang bisa berkembang menjadi bisnis travel, atau hobi menulis yang bisa melahirkan buku dan karya bernilai bagi masyarakat.

Bekerja Seharusnya Menyenangkan

Dalam budaya Jepang, lanjutnya, bekerja dapat dilakukan dalam kondisi flow — rileks, bahagia, tetapi fokus. Dari kondisi ini lahir kreativitas dan inovasi.

Ia mengisahkan temannya di Jepang yang hobi bermain golf, lalu menjadi jurnalis golf, berkeliling dunia, bermain gratis, sekaligus dibayar menulis ulasan.

Ikigai Harus Diberi Nama

Cara menemukan ikigai adalah dengan memberi nama pada tujuan hidup tersebut, seperti merawat orang tua, menyekolahkan anak, menciptakan produk menyehatkan, atau membangun organisasi.

“Ikigai itu sama dengan misi hidup. Ketika kita tahu untuk apa kita melakukan sesuatu, hidup jadi lebih bermakna,” jelasnya.

Pak Oles menutup pemaparannya dengan menegaskan pentingnya menikmati hidup melalui gaya hidup yang selaras dengan tujuan hidup.

“Kita harus menikmati hidup dengan cara hidup yang berguna sesuai tujuan hidup kita, sehingga hidup bisa dijalani dengan bahagia, gembira, rileks, bebas, dan merdeka sampai akhir hayat,” pungkasnya. (Z/002) 

Baca Artikel Menarik Lainnya : Kemendagri dan BNPP Gelar Apel Bersama ASN dalam Rangka Persiapan Pemilu Serentak 2019

Terpopuler

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Carut-Marut Sampah

Carut-Marut Sampah

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

Carut - Marut Kelola Sampah, Pemerintah dapat Digugat Citizen Lawsuit

Carut - Marut Kelola Sampah, Pemerintah dapat Digugat Citizen Lawsuit

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Wabup Buleleng Gede Supriatna Resmikan Kantor Perbekel Desa Alasangker, Tekankan Pelayanan Masyarakat Meningkat

Wabup Buleleng Gede Supriatna Resmikan Kantor Perbekel Desa Alasangker, Tekankan Pelayanan Masyarakat Meningkat