Banner Bawah

Shivaratri, Kebenarannya Shiva Berada pada Orang-Orang Miskin

Admin 2 - atnews

2026-01-17
Bagikan :
Dokumentasi dari - Shivaratri, Kebenarannya Shiva Berada pada Orang-Orang Miskin
Prof.Dr. I Gede Sutarya, SST.Par.,M.Ag (ist/Atnews)

Oleh I Gede Sutarya
 
Hari Suci Shivaratri jatuh pada Purwani Tilem Kapitu (Kresnapaksa 14 Magha Masa), yang dirayakan di Indonesia berdasarkan teks dari Zaman Singasari yaitu Kakawin Lubdaka atau Kakawin Shivaratri Kalpa.

Kakawin ini mengisahkan pemburu yang bernama Lubdaka mencapai Shiva setelah melakukan brata pada Purwani Tilem Kapitu di atas Lingga Shiwa di puncak gunung yang berhutan lebat. Brata yang memberikan anugrah ke-Shiva-an pada seorang pemburu yang hina, sehingga menjadi brata luar biasa.

Karena biasanya ke-Shiva-an adalah anugrah untuk Brahmana-Brahmana terdidik yang lahir dari para guru-guru besar peradaban. Hal ini merupakan anomali dari tradisi agama yang telah berlangsung berabad-abad, apakah makna dari brata yang mahahebat ini?
Kakawin Lubdaka dan cerita-cerita purana dari India menceritakan hal yang sama, bahkan Shivaratri membebaskan orang-orang candala (hina) atau kaum Nisadha dari penderitaan.

Karena itu, Shivaratri memberikan pesan bahwa Agama Shiva adalah agama untuk semua orang. Agama untuk mereka yang melakukan vegetarian dan juga non-vegetarian. Agama untuk mereka yang berpendidikan dan tak berpendidikan. Agama untuk orang-orang kaya dan orang-orang miskin. Agama bagi laki-laki dan perempuan.

Bagi Shiva, mereka semua adalah sama yang memiliki hak yang sama untuk mendapatkan ke-Shiva-an. Jadi, pesan kakawin dan purana-purana itu jelas bahwa Shiva akan membebaskan semua orang dari penderitaan.

Janji-janji Shiva ini ditutupi di tengah-tengah masyarakat sebab masyarakat dikonstruk kalangan terdidik (Brahmana), politisi (Ksatrya) dan orang-orang kaya (Vaisya). Pada konstruk masyarakat seperti itu, Shiva hanya dilekatkan pada kalangan Brahmana yang memimpin upacara. Hal ini membangun kepercayaan bahwa hanya Brahmana yang berhak mencapai ke-Shiva-an.

Karena itu, perayaan Shivaratri dulu hanya dilakukan kalangan terdidik, sedangkan masyarakat dijauhkan dari perayaan ini. Kalau perayaan ini dilekatkan dengan masyarakat, mereka akan tahu bahwa Shiva sesungguhnya untuk semua orang. Karena itu, janji-janji Shiva ini ditutupi berabad-abad melalui konstruk dominasi agama dalam masyarakat Hindu.

Pada masyarakat Bali saat ini, masih sangat kuat bahwa Shiva melekat pada Ke-Brahmana-an, sebab hanya Brahmana yang bisa disebut Shiva dalam tradisi Bali. Padahal, secara asal-usul Shiva, dapat dilacak bahwa Shiva bukan agama kaum Brahmana.

Brahmana yang asli adalah pemimpin homa yang menggunakan mantra-mantra Reg Veda yang hanya mengenal kata Ludra yang diidentikkan dengan Shiva, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa Shiva bukan agama para brahmana asli. Akan tetapi di Bali, justru yang mengaku Brahmana menyebut dirinya Shiva.

 Kerancuan ini juga muncul dalam penyebutan Brahmana Buda, yang jelas bertentangan dengan sejarah sebab secara historis, Buddha adalah penentang kaum Brahmana sehingga bagaimana bisa menjadi Brahmana? Hal ini membuktikan konstruk agama Shiva yang sangat kuat di Bali.

Konstruk ini menutupi hakikat sejati Shiva yang sesungguhnya berada pada diri orang-orang miskin, sebab hanya mereka yang menyebut namaNya setiap saat. Hal itu terjadi karena orang-orang miskin selalu hidupnya dalam bahaya seperti halnya Lubdaka yang hidupnya terancam setiap saat.

Kakawin Shivaratri Kalpa membuka konstruk kebohongan itu dengan menyatakan kebenarannya tentang anugrah Shiva. Cerita ini didukung fakta sejarah tentang naiknya Ken Arok, seorang perampok menjadi Raja Singasari. Kakawin dan fakta sejarah menemukan titik temunya bahwa sejatinya Shiva berada pada orang-orang yang terpinggirkan.

Akan tetapi, kemudian Majapahit juga mengembalikan dominasi Brahmana dan Ksatrya (politik) untuk memudahkan pengendalian masyarakat. Namun demikian, Kakawin Shivaratri Kalpa terus menderu, sampai akhirnya memberikan pesan tentang anugrah Shiva kepada semua orang, yang merupakan jejak-jejak ajaran leluhur Nusantara.

Jejak-jejak ini berasal dari Ramayana yang menceritakan tentang Rahwana, pemuja Shiwa yang memindahkan Lingga Kailasha ke Gunung Mahendra, Alengka karena wilayah India utara telah diambilalih Bangsa Arya. Ribuan tahun kemudian, Raja Sanjaya keturunan Sailendra memindahkan Lingga itu ke Gunung Wukir, Jawa Tengah. Raja Kamboja memindahkan Lingga itu ke Indraparwata, Kamboja.

Raja Laos memindahkan Lingga tersebut ke Gunung Linggaparwata di Laos. Langkah-langkah ini diikuti masyarakat Dayak sekalipun yang memindahkan Lingga ke Muara Kaman, Kalimantan.

Hal ini menunjukkan Shiva adalah untuk semua orang, bahkan untuk masyarakat pedalaman. Karena itu, harus dikritisi untuk menempatkan Shiva hanya pada Brahmana. Brahmana, kalau menjadi pengikut Shiva sebenarnya harus menjadi pelayan Shiva, yaitu pelayan orang-orang miskin, dengan mengangkat peradaban mereka melalui pendidikan.

Brahmana yang menikmati status ke-Shiva-an untuk menjustifikasi kesenangan indrya-indryanya, kenyataannya bukan Brahmana tetapi raksasa yang menyamar. Karena itu, misi kebrahmanaan Shiva harus dilihat dari pelayanannya terhadap orang-orang miskin dan terpinggirkan.

Hal ini yang menjadi pesan Kakawin Shivaratri Kalpa, bahwa sesungguhnya Shiva adalah anugrah bagi semua orang. Orang-orang dibekukan salju Kashmir adalah pemuja Shiwa, orang-orang di pedalaman hutan Kerala adalah pemuja Shiwa. Orang-orang di pedalaman Kalimantan juga adalah pemuja Shiwa.

Hal itu terjadi karena Shiva tak memiliki ras yang diunggulkan. Shiva memperlakukan semua orang sebagai manusia yang sama. Bahkan laki-laki dan perempuan mendapatkan kesempatan sama untuk mencapai ke-Shiva-an. Selamat hari Shivaratri.

*) Prof.Dr. I Gede Sutarya, SST.Par.,M.Ag adalah Guru Besar Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Baca Artikel Menarik Lainnya : Kasum TNI Keynote Speech Rakornas Penanggulangan Bencana di Surabaya

Terpopuler

Makan Siang, De Gadjah - Koster Bahas Sampah, PSEL hingga Sekolah Rakyat

Makan Siang, De Gadjah - Koster Bahas Sampah, PSEL hingga Sekolah Rakyat

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Penutupan Festasada 2026, Tunjukkan Kolaborasi Seni Budaya Kearifan Lokal

Penutupan Festasada 2026, Tunjukkan Kolaborasi Seni Budaya Kearifan Lokal

Dharma Santi Nasional 2026; Hindu Indonesia Gaungkan 'Vasudhaiva Kutumbakam', Perkuat Harmoni Bangsa dan Umat Manusia

Dharma Santi Nasional 2026; Hindu Indonesia Gaungkan 'Vasudhaiva Kutumbakam', Perkuat Harmoni Bangsa dan Umat Manusia

Pasca Kasus Dugaan Kekerasan Anak Panti Asuhan Ganesha Sevanam, Pemkab Buleleng Akan Merelokasi Anak Panti

Pasca Kasus Dugaan Kekerasan Anak Panti Asuhan Ganesha Sevanam, Pemkab Buleleng Akan Merelokasi Anak Panti