Peringatan 100 Tahun Gunung Tampurhyang Meletus, Momentum Penyelamatan Lingkungan Gunung Batur - Danau Batur
Admin 2 - atnews
2026-01-15
Bagikan :
Jro Gde Sudibya (ist/Atnews)
Oleh Jro Gde Sudibya
Sejarah Bali mencatat, letusan Gunung Tampurhyang yang sekarang lebih dikenal sebagai Gunung Batur meletus dashyat tahun 1926, 100 tahun yang lalu. Letusan dashyat Gunung ini dikenal sebagai peristiwa "Rarud Batur", eksodus krama dari Bubung Klambu (Batur Bawah) ke Bayung Gede dan kemudian menetap di Desa Batur sekarang.
Peringatan meletusnya Gunung Tampurhyang, nama otentik dari "Gunung Mraga Lingha Widhi", dari sastra yang datang belakangan disebut Lingha Tuhan Wisnu, "berpasangan" dengan Danau Batur yang ada di sampingnya, semestinya mengingatkan masyarakat Bali agar Gunung dan Danau Batur yang berada di kawasan Tengah Pulau Bali, terjaga keselamatannya, keasriannya dan kesuciannya.
Tantangan dalam penyelamatan Gunung Tampurhyang, Danau Batur dan ruang penyangga alamnya.
Pendakian yang tidak bertangung-jawab dengan mobil yang semena-mena terhadap Gunung harus dihentikan. Tempat suci bukan untuk dipamerkan dengan cara-cara tidak patut.
Proyek pariwisata dengan membabat hutan Gunung Tampurhyang nyaris dipuncak harus dihentikan, reboisasi harus segera dilakukan. Belajar dari kerusakan dashyat yang menimpa kawasan Batang Toru di Sumatra Utara yang baru saja berlalu. Dari data satelit dan analisisnya kawasan Batang Toru di 3 kabupaten Sibolga sangat mirip dengan kontur hutan di Bali. Sudah tentu kita tidak ingin, Bali mengalami kerusakan parah mirip kawasan Batang Toru, Sibolga, Sumatera Utara.
Mengambil pelajaran dari banjir bandang 10 September 2025 di Denpasar, Badung, Gianyar dan Negara, yang membuka kotak pandora yang berupa Bali mengalami darurat lingkungan, krisis lingkungan dengan besaran kerusakan yang nyaris tak terpulihkan, momentum untuk melakukan evaluasi dan pembenahan terhadap kawasan kecamatan Kintamani secara lebih khusus kawasan di seputaran Gunung dan danau Batur.
Kebersihan dan kesehatan air Danau Batur mesti diselamatkan, melalui program penyelamatan danau: penertiban bangunan di seputaran Danau, budi daya perikanan dan pertanian yang ramah lingkungan, pembersihan enceng gondok, penyedotan lumpur, pengendalian banjir terutama dari sisi Timur Tukad Balingkang sehingga air bercampur lumpur tidak mengotori danau.
Sudah semestinya, pengembangan ekonomi di kawasan suci, tetap memperhatikan tradisi kesucian turun temurun dan merawat, menjaga kawasan hutan yang melingkupinya.
*) Jro Gde Sudibya, Pengamat Lingkungan, bermukim di Desa Tajun di "Kaja Kangin" Bukit Sinunggal.